Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 Maret 2026
A A
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ilustrasi - Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ke mana-mana sering bawa mobil Toyota Avanza, itu salah di mata orang desa

Hanya saja, pujian dan ketakjuban terhadap Salik ternyata tidak bertahan lama. 

Sejak punya mobil, Salik memang sering ke mana-mana membawa Toyota Avanza tersebut. Lumayan biar tidak kepanasan atau kehujanan. Hanya sesekali bawa motor kalau untuk mobilitas jarak dekat. 

Ternyata, kebiasaan Salik tersebut memicu rasa kesal dari beberapa tetangga. Selentingan-selentingan yang lewat di telinga Salik: ia dianggap kemenyek dan banyak gaya. 

“Bahkan misalnya, misalnya orang tua minta diantar ke rumah sakit, aku kan pakai mobil, itu aku disebut semugih (sok kaya),” kata Salik. 

“Apalagi kalau ajak orang tua sekadar makan di luar pakai mobil. Dengar-dengar ada yang bilang kami keluarga sombong. Sombong dari mana? Namanya juga punya mobil, masa buat pajangan aja? Alasan aku pilih Avanza kan ya karena ini mobil keluarga,” lanjutnya dengan agak kesal. 

Digosipkan nipu orang hingga berjarak dengan teman

Parahnya, dari seorang teman desa yang masih dekat dengan Salik, ia digosipkan bisa membeli mobil pribadi Toyota Avanza tersebut setelah berhasil menipu orang dari pekerjaannya sebagai makelar. 

Lah, piye to iki? Dulu ketika belum kelihatan bakal bisa membeli mobil pribadi, dibanding-bandingkan dan dianggap mengambil langkah sia-sia (kuliah). Setelah Toyota Avanza terbeli, kok persepsi orang desa kepadanya beda lagi? Salik mengaku sumpek sendiri dengan situasi tersebut. 

Lebih-lebih, masih dari teman dekatnya tersebut, Salik mendengar bahwa sejumlah teman-teman di desa sengaja menjaga jarak dengan Salik. Mereka menganggap Salik sudah di awang-awang (melangit), hanya karena sering kali kalau ada ajakan keluar ia menawarkan agar teman-teman ikut mobilnya saja. 

“Katanya, dari yang kudengar, begini: Sekarang sedikit-sedikit pakai mobil saja. Sudah nggak level naik motor,” ucap Salik. 

“Ada yang merasa, ajakanku naik mobil adalah bentuk penghinaan ke mereka yang hanya pakai motor. Padahal niatku kan justru mengenakkan mereka. Yang nyetir toh aku, bensin juga pakai uangku. Jangan-jangan mereka juga sumpek karena jadi korban banding-bandingan karena belum mampu membeli mobil pribadi. Apalagi ada juga yang masih nganggur,” sambungnya. 

Ambisi berujung sumpek sendiri, orang desa hanya tahu iri-dengki

Ambisi membeli mobil pribadi—yang kemudian terwujud dalam rupa Toyota Avanza—itu ujungnya membuat Salik sumpek sendiri. Persepsi orang di desanya terlalu kompleks. Susah ditebak. 

Pada akhirnya Salik pun tahu, ternyata orang di desanya hanya tahu iri-dengki dan seenaknya sendiri dalam berekspektasi. Karena setelah Salik berhasil membeli mobil, ternyata teman desa yang sudah lebih dulu membeli mobil tadi, tetap saja menjadi sasaran gunjingan. 

“Dibandingkan denganku karena persoalan harga mobil. Katanya, masa kerja di Malaysia cuma bisa beli mobil murah,” beber Salik.

“Apalagi setelah itu kan kerjanya nggak tentu. Karena kan nggak balik lagi ke Malaysia. Akhirnya mobilnya dijual. Waktu aku baru awal banget beli mobil, teman-teman desa lain kena gunjingan juga kan karena dibanding-bandingkan denganku. Sekarang aku masuk lagi jadi gunjingan karena cap sombong dan lain-lain. Itu gejala orang iri-dengki,” gerutunya. 

Iklan

Di titik tertentu, Salik memang mensyukuri pilihannya membeli mobil pribadi. Karena memang fungsional untuk mobilitas. Namun, jika mengingat-ingat bahwa mobil Toyota Avanza itu terbeli lantaran ambisi, ia tidak menampik ada perasaan menyesal. 

“Iya lah, harus bayar cicilan ke bank, pajak, bahan bakar, belum servis dan ganti oli. Ya sekali aku ada proyek, uangnya lumayan. Tapi larinya akhirnya ya ke sana semua. Padahal harusnya aku bisa alokasikan untuk sesuatu yang lebih prioritas,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mudik ke Desa Naik Mobil Honda Brio Hasil Nabung karena Muak Dihina, Berharap Dicap Sukses Malah Makin Direndahkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2026 oleh

Tags: avanzaavanza bekasmobil avanzamobil pribadiMobil Toyotastandar suksesstandar sukses desatoyota avanzatoyota bekas
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO
Urban

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Mudik ke desa naik mobil pribadi Honda Brio, niat ikuti standar sukses dan pencapaian hidup tapi tetap dihina MOJOK.CO
Sehari-hari

Mudik ke Desa Naik Mobil Honda Brio Hasil Nabung karena Muak Dihina, Berharap Dicap Sukses Malah Makin Direndahkan

2 Maret 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

9 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.