Suka menolong orang lain memang bagian dari ajaran Tuhan dan para utusan-Nya. Namun, menjadi orang baik memang ada saja ujiannya. Di antaranya bertemu orang-orang tidak tahu diri yang membuat menyesal telah menolongnya. Karena kelakuannya memang tidak layak untuk ditolong.
Kapok suka menolong orang lain gara-gara teman tukang judi slot
Awalnya, setiap seorang teman dekatnya menghubungi untuk meminjam uang, Murtadlo (26) dengan senang hati akan mengirim sejumlah uang yang dipinjam. Pasalnya, pertemanan mereka sudah terjalin sejak kelas 1 SMA.
Mereka baru benar-benar terpisah sejak lulus. Murtadlo merantau untuk bekerja. Sementara temannya tersebut tengah melanjutkan kuliah di sebuah kampus negeri di Jawa Tengah.
“Tapi sesekali masih ketemu kalau sama-sama sedang pulang kampung,” ungkap Murtadlo, Rabu (11/3/2025).
Sudah teramat sering Murtadlo menjadi penolong bagi temannya tersebut. Terutama jika urusannya meminjam uang. Alasannya macam-macam: kehabisan sebelum waktu kiriman, tapi sungkan minta orang tua. Bahkan tak jarang pula dengan alasan untuk keperluan kuliah.
“Sampai aku tahu lah, ternyata dia tukang judi slot. Uangnya habis buat itu. Utangnya ternyata ada di mana-mana, di teman-teman lain juga. Semua wanti-wanti agar aku nggak bantu dia lagi,” ujar Murtadlo.
Sudah jadi tukang judi slot, susah bayar utang lagi!
Di titik ini, Murtadlo mengaku menyesal telah menjadi orang yang suka menolong orang lain. Sebab, jutaan uang yang telah masuk ke rekening temannya itu—yang kemudian digunakan untuk depo judi slot—pada akhirnya tidak kembali pada dirinya. Temannya terkesan lupa kalau ia punya utang yang harus dibayar.
“Aku sih milih, ya udah lah ya. Tapi ada temanku yang sudah muak banget. Dia sampai menagih yang bener-bener menagih. Ya walaupun nggak balik juga,” kata Murtadlo.
Saat teman Murtadlo tukang judi slot tersebut ditagih, ada saja ngelesnya. Kalau mentok tidak bisa ngeles, paling mentok memberi harapan palsu: “Nanti pasti kubayar. Masa nggak percaya aku?”
Taek! kalau kata teman Murtadlo yang menagih utang. Sampai-sampai, teman Murtadlo itu mengirim pesan WhatsApp yang singkat, padat, dan beringas: “Uang bisa kucari. Temanku masih banyak. Jadi terserah mau kamu balikin atau nggak. Jadi putus pertemanan dengan orang kayak kamu, nggak masalah!”
“Tukang judi slot, apalagi susah bayar utang, itu orang yang memang nggak layak buat ditolong,” tegas Murtadlo.
“Pokoknya, kalau ada teman utang pertama kali, nggak apa-apa kasih pinjam. Tapi dari situ catat, dia tipikal suka menepati komitmen (bayar utang tepat waktu) atau tipikal orang yang kalau ditagih utang malah mencak-mencak. Kalau sudah ketauan begitu, seterusnya jangan kemakan dengan apapun rayuannya kalau minta utang lagi,” tutupnya.
Suka menolong orang lain, tapi nggak dulu ke orang yang suka merendahkan
Jika Murtadlo Amal (25) punya cerita yang agak sentimentil dalam urusan menolong orang lain.
Amal mengaku, sepanjang masa sekolah (dari SD-SMA), ia selalu jadi korban bullying. Tidak hanya di kalangan teman sekolah, di kalangan saudara-saudara sendiri pun begitu.
“Aku pendek, hitam, dan wajahku kelihatan sayu. Itu jadi modal mereka buat membully dan merendahkanku,” tutur Amal.
Oleh karena itu, ketika taraf hidup dan karier Amal terus membaik, ia punya tekad “balas dendam” dalam konteks positif. Ia mau menjadi orang yang suka menolong orang lain. Ia mencoba menjadi orang yang selalu terbuka terhadap orang yang dikucilkan dan direndahkan dalam lingkaran tertentu hanya karena berbeda.
“Tapi aku bukan manusia suci. Jadi kutandai orang-orang yang dulu pernah merendahkanku. Nasib mereka nggak lebih baik dariku. Bahkan yang bernasib buruk pun banyak. Apakah aku menertawakan itu? Nggak. Tapi aku menolak menolong mereka,” kata Amal.
Sebab, teramat sering ada teman atau saudara (pembully Amal di masa lalu) yang tiba-tiba menghubungi atau bersikap amat baik kepada Amal. Amal jelas tidak termakan. Karena ia bisa menebak ujungnya: minta pertolongan.
Sementara Amal sudah memasukkan orang-orang semacam itu pada kategori orang yang tidak layak ditolong sebagaimana tukang judi slot versi Murtadlo.
Sebab, dalam teori Amal, orang semacam itu hanya bersikap baik kalau ada maunya doang. Tidak disertai ketulusan. Kalau hidup mereka lebih baik, orang seperti Amal pasti akan diinjak-injak juga.
“Pinternya mereka, kalau aku nggak mau menolong, mereka langsung bangun narasi kalau aku sombong, kikir, dan deretan sebutan buruk lain. Lucu ya? Playing victim. Mereka nggak sadar, luka mental yang kualami dulu pas selalu dibully, direndahkan, hingga dikucilkan,” kata Amal emosional.
Pemalas nggak layak ditolong!
Selain itu, meski suka menolong orang lain, Amal juga memegang prinsip: jangan susah-susah menolong pemalas.
Di masa sekolah dulu, Amal mengaku punya seorang teman baik. Paling tidak, si teman tidak pernah membully Amal. Mereka terpisah sejak lulus SMA karena terpisah kampus yang berada di daerah berbeda.
“Mungkin pengaruh pergaulan semasa kuliah, orang ini malas banget. Kayak nggak mau diajak berkembang. Itu membuatku akhirnya membatasi diri untuk nggak nolong-nolong dia lagi,” kata Amal.
Misalnya begini: Semasa kuliah, si teman kerap curhat di media sosial kalau hidupnya terasa berat. Amal tahu persis kesusahannya karena memang si temannya tersebut dari keluarga ekonomi bawah.
Masalahnya, aktivitas si teman—setidaknya dari yang tampak di media sosial—cuma kelihatan ngopa-ngopi, ngopa-ngopi. Padahal, bagi Amal, si teman harusnya bisa melakukan apa yang juga Amal lakukan dulu: kuliah sambil kerja.
“Pas aku sudah kerja, dia juga termasuk salah satu orang yang sambat ke aku. Konteksnya bukan utang, tapi minta dicarikan lowongan kerja. Aku serius waktu itu buat mencarikan. Tapi malah mengecewakan,” kata Amal.
Sudah susah-susah dicarikan, tapi ketika daftar lowongan kerja itu Amal kirim, respons si teman benar-benar membuat Amal kesal:
“Duh, posisinya kayaknya aku nggak passion.”
“Wah, sik, kayaknya aku belum bisa kalau merantau ke kota itu.”
“Bahkan pernah, ada satu lamaran kerja dia yang nyantol. Tapi pas diminta datang interview, tiba-tiba nggak lanjut,” kata Amal.
“Aku menilainya sih pemalas aja ya. Karena nggak mau keluar dari zonanya. Padahal di kondisi lagi sangat butuh kerjaan. Ujung-ujungnya juga jadi tukang judi slot karena iming-iming dapat uang besar secara instan,” pungkasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













