Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Eksplor

Diskusi Soal Industri Media dan Masa Depan Jurnalisme: Beranjak dari Keresahan Lama ke Menjawab Tantangan Baru

Redaksi oleh Redaksi
1 Juli 2026
A A
FGD “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” inisiasi Telkom University Purwokerto. Membincangkan masa depan industri media jurnalisme di era AI dan kuasa kepemilikan MOJOK.CO

Ilustrasi - FGD “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” inisiasi Telkom University Purwokerto. Membincangkan masa depan industri media jurnalisme di era AI dan kuasa kepemilikan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Topik tentang masa depan jurnalisme dan media masih terus menjadi diskusi di berbagai ruang. Wajar saja. Di satu sisi, media masih harus terus mengemban fungsi luhurnya sebagai pilar keempat demokrasi. Sementara di saat yang sama, media menjadi salah satu sektor yang amat rentan—terutama dalam ekosistem redaksi dan bisnisnya. 

Oleh karena itu, Telkom University Purwokerto menginisiasi Forum Group Discussion (FGD) bersama sejumlah pelaku media di Jogja yang berlangsung di Bale Merapi, Jogja, Rabu (1/7/2026). 

Iklan

Wakil Direktur Bidang Akademik dan Riset Telkom University Purwokerto, Catur Nugroho menyebut, melalui FGD tersebut harapannya bisa diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika media jurnalisme saat ini dan di masa mendatang. 

Kuasa kepemilikan: keresahan lama di industri media 

Membuka diskusi bertajuk “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” ini, Catur berangkat dari keresahan lama dalam industri media: bagaimana kuasa kepemilikan mengintervensi ruang redaksi. 

Dalam temuan Catur, dalam sistem pers Indonesia, media bukan sekadar “saluran informasi”, melainkan institusi yang ikut mengkonstruksi realitas sosial melalui pilihan isu, cara membingkai peristiwa, hingga penentuan aktor mana yang ditampilkan atau disenyapkan. 

“Dalam konteks ekonomi politik komunikasi, dinamika ini makin kompleks ketika kepemilikan media bergerak menuju konsentrasi dan konglomerasi (horizontal maupun vertical integration), terutama di era konvergensi digital,” papar Catur. 

Proses pengelolaan media Indonesia pun berfokus pada logika ekonomi atau disebut medianomics atau economisation of media ownership: di mana logika pasar (profit, traffic, iklan, efisiensi biaya) dan kepentingan elite (politik/jejaring kekuasaan) ikut menentukan manajemen media dan output jurnalisme.

“Implikasinya tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga epistemik dan demokratis: agenda pemberitaan, independensi redaksi, dan keberagaman sudut pandang berpotensi menyempit ketika kepemilikan dan kontrol platform terkonsentrasi pada segelintir aktor yang mengatur keputusan redaksi, strategi bisnis, dan relasi media–publik dalam pengelolaan lembaga media di Indonesia,” sambung Catur. 

Catur Nugroho (pegang mic) Wakil Direktur Bidang Akademik dan Riset Telkom University Purwokerto MOJOK.CO
Catur Nugroho (pegang mic) Wakil Direktur Bidang Akademik dan Riset Telkom University Purwokerto. (Dok. Mojok)

Bagaimana kuasa kepemilikan mengontrol ruang redaksi industri media hari ini? 

Meja kayu di Bale Merapi seketika menjadi ruang saling melempar gagasan antar-pelaku media di Jogja. 

Kenyataannya, perkara independensi ruang redaksi dan keberlangsungan sebuah media tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh aktor atau kuasa kepemilikan semata. Sebab, faktanya, berdasarkan pengakuan dari beberapa pelaku media di Jogja yang mengikuti FGD siang itu, intervensi pemilik media justru jadi variabel minor yang menentukan arah kebijakan ruang redaksi. 

Begitu juga dalam konteks pengiklan. Selain pemilik media (sebenarnya), pengiklan juga kerap kali bertindak sebagai pemilik media: mengatur dan menentukan seperti apa sebuah produk jurnalistik yang akan diterbitkan.

Dalam hal ini, yang terjadi adalah seolah-olah media lah yang membutuhkan pengiklan. Padahal dalam praktiknya, relasi antara media-pengiklan terjadi secara mutualisme (saling membutuhkan). 

Di posisi ini, media pun pada akhirnya menunjukkan daya tawar dirinya terhadap pengiklan. Terjadi proses diskusi sehingga pengiklan tidak serta-merta mengontrol ruang redaksi terkait produk jurnalistik yang akan dihasilkan. 

Integritas, kredibilitas, dan kualitas. Tiga hal itulah yang, selain menjadi marwah bagi wajah media, juga menjadi semacam daya tawar kuat yang membangun kepercayaan—tidak hanya publik, tapi juga pengiklan. 

Iklan
FGD “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” inisiasi Telkom University Purwokerto. Membincangkan masa depan industri media jurnalisme di era AI dan kuasa kepemilikan MOJOK.CO
FGD “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” inisiasi Telkom University Purwokerto. Membincangkan masa depan industri media jurnalisme di era AI dan kuasa kepemilikan. (Dok. Mojok)

Era attention economics, bukan lagi medianomics

Maka dari itu, perspektifnya harus diperluas karena ekosistem media saat ini begitu kompleks. Sebab media harus menghadapi tantangan yang lebih beragam dan menuntut adaptasi sekaligus inovasi cepat. 

Media hari ini harus berhadapan dengan perubahan pola konsumsi audiens, tantangan multiplatform (dengan lahirnya format audio-visual), hingga disrupsi yang dipicu oleh perkembangan akal imitasi (AI). 

Di titik ini, industri media tidak lagi berkutat pada persoalan medianomics. Cara pandang yang seharusnya dipakai adalah: attention economics. Yakni ketika nilai bisnis, distribusi informasi, dan keputusan ruang redaksi sangat dipengaruhi oleh kemampuan merebut perhatian publik. 

Keterhubungan antara media-audiens menjadi kata kunci dalam cara pandang ini. Karena pada akhirnya menjadi salah satu penentu bagaimana sebuah media bisa terus eksis lantaran pertumbuhan audiens. Daya tawar pun akan terus menguat di mata pengiklan—mengingat saat ini pengiklan tidak hanya ingin sekadar dipublikasikan, tapi juga bagaimana bisa menjadi relevan dengan publik. 

Karena jika merujuk laporan Reuters Institute pada 2025, media tradisional semakin kesulitan terhubung dengan publik hingga menghadapi penurunan engagement dan kepercayaan. 

FGD “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” inisiasi Telkom University Purwokerto. Membincangkan masa depan industri media jurnalisme di era AI dan kuasa kepemilikan MOJOK.CO
FGD “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” inisiasi Telkom University Purwokerto. Membincangkan masa depan industri media jurnalisme di era AI dan kuasa kepemilikan. (Dok. Mojok)

Inovasi dan kekhasan produk jurnalistik

Lantas bagaimana cara mendapat atensi audiens, ketika AI telah merayap berbagai ruang digital? 

Dalam laporan Reuters Institute for the Study of Journalism dari University of Oxford pada Januari 2026 disebut, penyebab terjadinya selective news avoidance tidak hanya berakar dari kemunculan AI Overview yang meringkas seluruh artikel dari berbagai media. 

Lebih dari itu, terjadi kejenuhan di tingkat audiens terhadap model konten yang disajikan sebuah media: misalnya karena seragam, clickbait, dan seringkali tidak mengedepankan mutu. 

AI Overview memang menjadi kebutuhan konsumsi audiens. Namun sifatnya hanya untuk informasi umum. 

Justru di situlah celah yang masih bisa dieksplorasi media: menemukan kekhasannya, keluar dari keumuman. Media, dengan format khas yang ditawarkan, masih akan menjadi jujukan bagi audiens yang tidak hanya membutuhkan informasi cepat, tapi juga sebuah perspektif segar, value, bahkan pengalaman mengonsumsi sebuah produk jurnalistik yang berbeda dari sekadar membaca informasi. 

Profesor Jay Rosen dari New York University sejak lama mengingatkan bahwa keunggulan media profesional bukan terletak pada kecepatan—karena internet selalu lebih cepat—melainkan pada kemampuan melakukan verifikasi, memberikan konteks, menjelaskan kompleksitas, dan membangun kepercayaan publik. 

Ketika AI mampu menyusun ringkasan informasi dalam hitungan detik, maka diferensiasi media justru terletak pada kedalaman pelaporan, investigasi, analisis, serta kemampuan menghadirkan pengalaman yang tidak bisa direplikasi mesin.

Pada akhirnya kualitas dan kredibilitas lah yang menjadi pembeda utama. Sebab, di era disrupsi AI, kepercayaan (trust) menjadi aset yang belum berhasil diproduksi akal imitasi. 

Dan itu bisa ditemukan dalam banyak kasus. Mojok beberapa kali menemukan fakta semacam ini: 

  1. Pembaca merasa tidak menikmati ketika membaca sebuah artikel yang dibuat oleh AI. Selain karena terasa kering, juga meragukan informasi yang diberikan. 
  2. Fenomena yang sama juga terjadi di media sosial. Ketika muncul sebuah konten audio-visual yang diproduksi AI, audiens langsung meresponsnya dengan menampik kebenaran informasinya dengan label fake atau hoaks. 

(Adv)

BACA JUGA: Investor Masih Melirik Media di Era AI: “Nilai Edukatif, Keunikan, dan Visi Pendiri Adalah Kunci” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 1 Juli 2026 oleh

Tags: bisnis mediadampak ai pada jurnalismeindependensi mediaindustri mediaintervensi di ruang redaksijurnalismemasa depan jurnalismeruang redaksitantangan aitelkom universitytelkom university purwokerto
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

#NgobroldiMeta jadi upaya AMSI dan Meta dukung pelaku media memproduksi jurnalisme berkualitas di era AI MOJOK.CO
Kilas

#NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

10 April 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO
Tajuk

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026
Telkom University Buka Pendaftaran Maba 2024 Lewat Nilai Rapor MOJOK
Kilas

Telkom University Mulai Buka Pendaftaran Maba 2024, Hanya Perlu Nilai Rapor

21 September 2023
Video

Masa Depan Jurnalisme, Kedatangan Habieb Rizieq, dan Buzzer Jokowi

10 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Yamaha Aerox Alpha 2025, Matik Terbaik untuk Anak Muda dan Jawaban Terbaik dari Yamaha yang Menolak Tunduk pada Stigma Jamet yang Salah Alamat

Yamaha Aerox Alpha 2025, Matik Terbaik untuk Anak Muda dan Jawaban Terbaik dari Yamaha yang Menolak Tunduk pada Stigma Jamet yang Salah Alamat

29 Juni 2026
Tahlilan jadi acara yang tidak empati pada perempuan. Tak punya jeda untuk berduka karena harus mikir suguhan hingga amplop kiai-tamu undangan MOJOK.CO

Tahlilan Jadi Beban Fisik dan Mental bagi Perempuan: Tidak Diberi Ruang Berduka karena Tuntutan Amplop hingga Suguhan

1 Juli 2026
Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum MOJOK.CO

Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum

1 Juli 2026
Wisata air Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah akan dikembangkan. Ada investasi dari Cilacap hingga Jepang MOJOK.CO

Rawa Pening Kabupaten Semarang bakal Jadi Wisata Unggulan Jateng, Tawarkan Rumah Makan Apung-Keramba

25 Juni 2026
Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.