Andri Prasetiyo (27) adalah mahasiswa UGM yang datang dari latar belakang keluarga yang kurang mampu. Untuk dapat berkuliah di Jogja, Andri harus berjuang mati-matian secara harafiah. Mulai dari tinggal di mana saja asalkan bisa tidur sampai mengusahakan bertahan hidup dengan uang seadanya. Namun berkat kegigihannya, Andri kini berhasil lulus sebagai sarjana UGM.
Mahasiswa UGM putuskan hidup mandiri agar tidak membebani orang tua
Andri memutuskan untuk keluar dari rumah setelah mendapatkan pengumuman lolos kuliah di UGM, Jogja. Sebagai mahasiswa yang diterima melalui jalur mandiri, Andri mengatakan tidak ingin membebani kedua orang tuanya, padahal sang ayah hanya bekerja sebagai kuli bangunan dan ibunya adalah Ibu Rumah Tangga (IRT).
Bagi Andri, ia harus berusaha mandiri. Karena itu, Andri berinisiatif hidup tanpa bantuan biaya dari orang tua barang sepeser pun. Ia berusaha membayar kuliah dan biaya hidupnya sendiri, meneruskan kemandirian yang telah ditanamkannya sejak SMA sebagai penjaga stand bakso bakar.
“Dari lulus SMA sudah sambil kerja dulu sebagai penjaga stand bakso bakar di area Sunmor UGM sambil menunggu pengumuman seleksi UGM,” kata Andri kepada Mojok, Selasa (17/3/2026).
Bahkan, dari usaha sebelumnya, Andri berhasil mengantongi tiket masuk sebagai mahasiswa Teknik Sipil UGM. Berbekal keaktifan selama di organisasi, Andri menyebut dirinya juga mempunyai banyak teman yang memahami kondisinya yang memutuskan untuk keluar dari rumah pada saat itu.
Nomaden dari tidur di masjid sampai wifi corner
Berkat memiliki banyak teman, Andri menerima berbagai tawaran untuk dapat menopang kehidupan perkuliahannya selama di Jogja. Ia ditawari pekerjaan yang bisa membantunya sekaligus menetap, seperti bekerja sebagai marbot. Tak tanggung-tanggung, sebagian teman juga menawarinya untuk menginap di kos-kosan sampai kediaman mereka.
“Kebetulan dari lulus SMA aktif di organisasi, kegiatan sosial, dan volunteer, seperti stucash, dompet dhuafa, rumah zakat, dan RZIS UGM. Dari situ punya banyak teman yang juga paham kondisi saya dan memberi tawaran, seperti jadi marbot, nginap di sekretaris organisasi, untuk menginap di rumah mereka,” katanya.
Selama masa kuliahnya, Andri hidup nomaden. Ia pernah tinggal di masjid daerah Klitren, Gondokusuman, Jogja, selama 4 bulan sebagai marbot. Ia juga sempat berpindah sebagai marbot masjid di salah satu sekolah di Jogja selama kurang lebih 2 tahun.
Andri juga pernah berdiam di sekretaris organisasi selama hampir 2 tahun, menginap di tempat kerjanya, serta berpindah dari satu rumah ke rumah lain milik teman-temannya sembari membuka bimbingan belajar (bimbel) untuk Ujian Mandiri UGM dan membantu persiapan orientasi mahasiswa baru.
Selain itu, Andri bukan satu dua kali menumpang tidur di wifi corner Telkom Kotabaru, Sleman, Jogja, yang tersedia 24 jam. Ia mau tidak mau memilih tempat ini untuk singgah tidur karena merasa sungkan menginap beberapa waktu di kediaman teman-temannya.
Sekalipun mempunyai teman-teman yang berbaik hati dan memahaminya, Andri mengaku kerap merasa tidak enak saat menumpang tidur di tempat mereka. Padahal, dirinya juga akan berusaha sebisa mungkin untuk melakukan sesuatu untuk membayarnya.
“Tapi, saya orang yang sangat tidak enakan. Yang kadang membuat saya memilih menginap di wifi corner Telkom Kotabaru untuk menginap,” aku Andri.
Bekerja sambil kuliah di UGM
Alasan Andri merasa tidak enak bukan hanya karena teman-teman yang membantunya mendapatkan tempat tinggal sementara, tetapi juga pekerjaan. Andri mengaku, beberapa tawaran kerja datang dari teman-temannya.
“Karena dari banyak teman tadi juga membuat saya mendapat beberapa tawaran kerja, dan pekerjaannya juga kadang fleksibel menyesuaikan jadwal kuliah,” kata Andri.
Momentum pandemi Covid-19 membuat Andri lebih fleksibel dalam mengatur jadwal kerja dan kuliahnya. Ia bisa menjalani pekerjaan yang mengharuskannya masuk kantor (work from office/WFO) karena kuliah yang dilangsungkan daring.
Namun pada saat yang bersamaan, Andri sempat mengalami gangguan kecemasan yang membuatnya harus berhenti dan berpindah kerja. Akibat faktor kesehatan dan stres, Andri vakum bekerja dan harus bertahan hidup dengan uang seadanya, sebesar Rp500 ribu per bulan.
Pun, ketika uangnya habis, Andri hanya bisa mengandalkan pekerjaan sampingan yang tidak stabil. Ia menjual jasa, mulai dari jasa desain, servis laptop, sampai olah data skripsi.
“Pernah cukup lama vakum tidak kerja membuat saya harus bertahan hidup dengan Rp500 ribu per bulan, bahkan kurang ketika uang habis, dan cuma mengandalkan dari penghasilan sampingan,” kata Andri.
Namun, laki-laki ini menyebut hal tersebut tidak lantas membuat dirinya ingin menyerah saat itu. Kebaikan hati orang-orang di sekitarnya menjadi alasan Andri bertahan. Ia memiliki keinginan untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat sehingga harus berjuang untuk lulus sebagai sarjana dan memanfaatkan gelarnya sebaik mungkin, sebagaimana orang-orang di sekelilingnya telah berbaik hati kepadanya.
“Alasan bisa bertahan di kondisi berat tersebut adalah keinginan saya untuk menjadi orang yang bermanfaat. Saya pikir, kalau saya berhenti hidup waktu itu, saya nggak akan bermanfaat untuk siapa pun,” katanya.
“Seberat-beratnya hidup kalau bisa bermanfaat itu cukup untuk saya bertahan hidup,” kata Andri menambahkan.
Sempat di DO dari Teknik Sipil UGM, kemudian lanjut kuliah di Vokasi UGM
Sayangnya, karena kondisi keuangan yang cukup berat, Andri sempat di-drop out dari Teknik Sipil UGM.
Setelah satu tahun menjadi mahasiswa UGM, Andri memutuskan untuk bekerja penuh waktu demi memulihkan kondisi keuangannya. Namun hal itu membuatnya harus membayar dengan status mahasiswa, membuat Andri berujung dikeluarkan dari Teknik Sipil UGM pada akhir 2018.
Akan tetapi, karena mempunyai keinginan untuk lulus sebagai sarjana UGM, Andri mencoba kembali untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa UGM. Niatnya yang kuat mengantarkan Andri diterima di Sekolah Vokasi UGM, tepatnya Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan.
“Karena kondisi yang cukup berat, setelah 1 tahun kuliah di Teknik Sipil, saya memutuskan untuk full kerja akhirnya membuat saya DO di akhir 2018,” kata Andri.
“Pada Agustus 2019, saya bisa lolos UGM lagi Jurusan Pembangunan Ekonomi Kewilayahan,” ungkapnya.
Namun saat itu, Andri masih tersandung masalah biaya yang membuatnya harus berutang biaya kuliah selama satu semester. Kondisi ini membuatnya lebih gigih berkuliah sambil bekerja, mengingat jurusan kuliahnya saat ini yang dirasa Andri memungkinkan untuknya melakukan keduanya sekaligus.
“Bahkan saya utang untuk bayar kuliah semester 1 waktu itu karena sedang tidak ada uang. Waktu itu, yang terpenting saya kuliah di jurusan soshum (sosial humaniora) biar bisa sambil kerja,” aku Andri.
Setelah menghabiskan 5 tahun berkuliah, Andri akhirnya berhasil meraih gelar sarjana dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.51. Memang tidak besar, sebutnya, tetapi titel sarjana UGM ini cukup mewujudkan motivasi Andri untuk bisa menjadi seseorang yang bermanfaat.
“Setelah kuliah 5 tahun, saya berhasil lulus sarjana dengan IPK 3.51, cukup kecil untuk lingkup UGM,” ujarnya.
“Motivasi untuk lulus yaitu dengan gelar yang saya punya, saya harap bisa jadi orang yang lebih bermanfaat lagi daripada sebelumnya,” tutup Andri.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














