Semakin ke sini tidak sedikit mahasiswa mengaku malas dan muak dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa-desa. Mending fokus perbanyak magang saja karena jauh lebih impactfull.
Obrolan tersebut saya dapati di Threads baru-baru ini. Beberapa orang menyinggung kembali perihal kemuakan warga desa terhadap keberadaan mahasiswa KKN dalam tulisan, “Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Mahasiswa KKN: Nggak Bantu Atasi Masalah Desa, Cuma Bisa bikin Les dan Acara 17 Agustusan”. Maka, melalui obrolan tersebut, sejumlah mahasiswa mengaku: mereka sebenarnya juga sama muaknya dengan program KKN yang mengharuskan ke desa. Buang-buang waktu dan tenaga.
Mahasiswa KKN sudah diragukan dan tidak dibutuhkan warga desa
Menjelang musim KKN, Eldo, seorang mahasiswa aktif dari sebuah PTN Malang mengaku sama sekali tidak antusias. Pasalnya, ia sudah menakar kalau keberadaan mahasiswa sebenarnya tidak diharapkan amat di desa-desa yang kerap jadi langganan kampusnya penempatan mahasiswa KKN.
Jujur saja. Eldo mengaku buntu harus berbuat atau memberi kebaruan program seperti apa untuk menjalankan program pengabdian tersebut.
Pertama, ada desa yang sebenarnya sudah terakses dengan kemajuan. Warga desa sudah mandiri untuk menemukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi.
Jika menjalankan program di sana, maka yang ada adalah terjadinya gesekan karena warga desa merasa program mahasiswa KKN sama sekali tidak relevan. Narasi “pengabdian” sudah tidak relevan karena warga desa sudah bisa sendiri tanpa “pengabdi”.
Kedua, ada desa yang memang belum tersentuh kebaruan. Namun, warga desa justru merasa nyaman hidup dalam situasi semacam itu. “Kalau toh ada desa yang belum bisa memetakan persoalan untuk dipecahkan, kami tidak cukup resource untuk menangani. SDM terbatas, waktu terbatas, dan modal terbatas. Menaruh ekspektasi mahasiswa sebagai messiah itu konyol. Itu tugas pemerintah daerah,” curhat Eldo, Selasa (7/4/2026) malam.
Buang-buang waktu dan tenaga, kalau disuruh belajar dari warga desa, belajar apa?
Dalam sebuah diskusi, Eldo mendapatkan insight berupa membalik cara pikir: Jangan jadikan KKN sebagai ajang untuk “membangun desa”. Mahasiswa tidak akan mampu. Tapi jadikan sebagai momen untuk belajar dari warga desa.
Tapi insight tersebut membuat Eldo bingung. Sebab, dari cerita yang Eldo dapat dari senior-senior yang lebih dulu KKN, situasi di desa tidak memungkinkan mahasiswa untuk belajar atau mengembangkan skill konkret seperti magang.
“Umumnya warga desa bertani, merantau. Apakah aku harus belajar bertani? Itu bagus. Tapi tidak semua orang cocok jadi petani. Desa sering digambarkan dengan sesrawungan. Apakah aku harus belajar soal interaksi sosial? Kupikir skill srawung bisa diasah melalui belajar komunikasi di kampus dan workshop-workshop singkat,” bebernya.
“Apalagi, realitasnya kan narasi guyub di desa ternyata toxic. Di Threads, banyak orang mengeluhkan kehidupan di desa yang menuntut ongkos sosial besar atas nama tradisi, budaya gosip yang mengerikan, dan macam-macam,” lanjutnya.
Eldo sadar, statement-nya ini terkesan arogan dan kontroversial. Tapi di tengah realitas sarjana yang kian susah bersaing di dunia kerja, ia harus menjadi oportunis.
Kalau ada hal-hal—soft skills atau hard skills—yang bisa diasah secara efektif dan efisien tanpa harus tiga bulan KKN, rasa-rasanya itu jauh lebih baik dan berguna sebagai persiapan menyongsong dunia kerja setelah lulus kuliah.
Mahasiswa KKN toh tidak ada pikiran kembali ke desa karena realitas sarjana susah kerja
Jangankan Eldo yang orang kota. Uchwa (24) yang berasal dari desa saja merasa mahasiswa KKN memang sudah tidak dibutuhkan warga desa. Lebih dari itu, kondisi ekonomi nasional juga membuat mahasiswa rasa-rasanya tidak akan kembali ke desa setelah lulus kuliah.
Apalagi ditumbuk dengan realitas banyaknya sarjana yang susah kerja. Di kota saja susah cari kerja, apalagi kalau kembali ke desa.
Seperti Uchwa. Setelah lulus, ia memutuskan tetap menetap di Surabaya untuk mencari penghidupan alih-alih pulang ke desa/kabupaten asalnya.
“Ada yang bilang, KKN itu bekal bagi mahasiswa buat nanti membangun desa pas pulang. Bukan nggak mau bangun desa, tapi bingung aja, bangun desa seperti apa kalau diri sendiri saja belum settle?” Kata Uchwa.
Sebab, memulai sesuatu di desa itu tidak mudah. Misalnya, oke saat KKN membuat pelatihan tertentu untuk pemuda agar berdaya dari desa. Tapi tidak serta merta pelatihan itu akan berguna secara signifikan. Apalagi, mahasiswa hanya punya bekal teori.
Pemuda desa tentu tidak bisa menunggu progres yang terlalu lama dari mencoba merintis sesuatu dari pelatihan tersebut. Karena hidup terus berjalan, kebutuhan harus terus dipenuhi. Alhasil, tetap saja pemuda desa memutuskan untuk keluar desa demi mencari uang cepat—yang tidak harus nunggu progres yang terlalu lamban.
“Sedangkan untuk mulai sesuatu di desa kan makan waktu. Sementara orang desa punya ekspektasi sarjana itu harusnya bisa kerja mapan, kantoran. Kalau kita kelihatan di desa-desa aja dan tidak kunjung membuahkan hasil yang kasat mata, ujungnya jadi omongan tetangga,” ungkap Uchwa.
Magang lebih penting: asah skill, kerja layak, kumpulkan modal, baru bisa pulang ke desa
Eldo dan Uchwa sepakat, ketimbang buang-buang waktu untuk KKN, rasa-rasanya yang lebih sesuai kebutuhan mahasiswa adalah magang. Kalau bisa bahkan magang berkelanjutan: tidak hanya sekali, lebih malah lebih bagus.
Pasalnya, Eldo dan Uchwa sendiri melihat, betapa magang bisa menjadi sarana krusial bagi mahasiswa untuk merambah skill-skill konkret untuk dunia kerja. Bahkan ada pula mahasiswa yang setelah lulus bisa langsung terserap di tempat magangnya.
Fokus Eldo dan Uchwa adalah: mempersiapkan sarjana agar punya daya tawar dan kesiapan menyongsong dunia kerja. Pertama, agar tidak menambah angka sarjana menganggur. Kedua, mengantarkan sarjana punya pekerjaan layak atau kemandirian kontekstual.
“Dengan punya skill kontekstual atau daya tawar, membuka potensi kerja gaji layak. Atau punya ilmu dari magang yang memungkinkan mahasiswa bisa mengolah potensi diri buat membangun usaha sendiri,” kata Uchwa.
Jika ekonomi sudah settle, tujuan membangun desa jauh lebih mudah. Karena ada modalnya. Walaupun itu pun masih sangat jauh terealisasi karena kondisi ekonomi nasional.
“Ada temanku, punya modal skill digital marketing dari magang, nyoba merintis bisnis online, terus bisa ngasih kerjaan ke pemuda desa untuk bantu-bantu,” kata Uchwa. “Tapi ya tadi, memulainya memang tidak mudah. Tapi lebih konkret hasilnya daripada KKN yang terbukti gitu-gitu aja.”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ironi Mahasiswa KKN: Merasa Berjasa Membangun Desa Orang tapi Tak Berguna di Desa Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














