Tuntutan IPK
Ketika uang telat, anak reguler bisa langsung menelepon orang tua untuk minta tambahan. Sementara anak KIP Kuliah seperti Dika, tidak punya jaring pengaman itu.
Orang tuanya di kampung adalah buruh tani yang penghasilannya tidak menentu.
Alhasil, Dika pun harus berutang ke teman, kadang menggadaikan barang, atau memangkas drastis jatah makannya demi bisa bertahan hidup sambil menunggu proses birokrasi selesai.
“Nasibku masih lebih baik karena nggak terjebak pinjol seperti mahasiswa KIP Kuliah lain,” ujarnya.
Di tengah perut yang lapar itu, mahasiswa seperti Dika juga diikat oleh kontrak akademik. Mahasiswa KIP Kuliah wajib mempertahankan IPK minimal 3.00.
Evaluasi dilakukan ketat setiap semester. Jika nilai anjlok, beasiswa akan dicabut. Jika dicabut, mereka terancam drop out karena dipastikan tidak akan mampu membayar UKT reguler.
“Kalau anak reguler stres mencari uang untuk bayar UKT, kami anak KIP Kuliah stres mertahanin nyawa biar nggak diusir dari kampus.”
Penerima KIP Kuliah juga berhak terlihat bahagia
Stigma terakhir yang paling sering dilemparkan “polisi moral” adalah soal kepemilikan barang. Dika sering ditatap sinis karena membawa laptop seharga Rp7 juta ke kampus.
Sementara Sari mengaku pernah dihujat netizen di menfess kampus hanya karena wajahnya “bersih” dan ketahuan skincare dasar. Mereka dinilai “terlalu mampu” untuk menerima KIP Kuliah.
Dika sendiri berkali-kali bilang ke teman, kalau laptop miliknya adalah hadiah yang diberikan pemerintah kabupatennya karena prestasinya saat masih SMA. Usia laptopnya pun juga sudah hampir menginjak 5 tahun, dengan performa yang mulai menurun.
Begitu pula dengan skincare Sari. Ia mengaku bahwa skincare miliknya, seperti sabun cuci muka dan sunscreen bukanlah barang mewah atau tanda hedonisme. Itu adalah kebutuhan medis dasar.
“Aku cuma mau bilang, anak KIP Kuliah itu juga berhak glowing. Kami nggak mau jerawatan,” kata dia. “Apalagi perkara membeli skincare, menjaga kebersihan tubuh adalah hak asasi manusia, bukan keistimewaan orang kaya saja.”
Sari mengaku, benar ada penyalahgunaan dana beasiswa. Ia mengaku sering melihat KIP Kuliah yang salah sasaran. Namin, yang ingin ia tegaskan, menjadi penerima bantuan pemerintah tidak lantas membuat seseorang harus menjadi objek yang harus terlihat kumal, miskin atau merana setiap saat.
“Kami juga punya hak terlihat bahagia,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














