Bertahan hari demi hari hingga lulus dengan IPK 4,00
Selain ibu, perempuan ini mencoba untuk membuat pengaturan prioritas. Ia menyadari bahwa menjalankan segala hal sekaligus dapat membuatnya lelah, bahkan kewalahan. Maka, mahasiswa Ilmu Keperawatan ini menentukan tugas yang perlu disegerakan atau dapat ditunda kemudian.
Menurut dia, manajemen waktu merupakan kunci utama.
Kebiasaan menunda atau proscratinating dapat membuat seseorang merasa kesulitan dan rentan kewalahan. Meski dalam hal ini, kata dia, kesimbangan istirahat di tengah segala kesibukan juga penting.
Menyadari kedua hal yang harus berjalan bersamaan itu, Zufa menerapkan skema alon-alon asal sampai. Ia tidak memaksa dirinya untuk mengerjakan atau menyelesaikan banyak hal secepat mungkin. Namun setidaknya, ia mencicil sedikit demi sedikit tugas yang harus diselesaikannya.
“Minimal sehari baca satu atau dua halaman saja itu sudah progres,” kata dia.
***
Strategi ini tanpa disadari menuntun Zufa pada pencapaian terbesarnya selama kuliah. Ia menjadi satu-satunya dari 1.201 lulusan program sarjana (S1) yang berhasil meraih IPK 4,00 pada wisuda program S1 UGM pada Februari lalu.
Mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM ini menyelesaikan kuliahnya dalam waktu sekitar 3 tahun 6 bulan, padahal rata-rata masa studi lulusan S1 adalah 4 tahun 2 bulan dengan IPK rata-rata 3,53.
Zufa mengaku senang dan tidak menyangka. Sebab, dia mengaku kegiatan akademik dan non-akademik yang sangat padat membuatnya merasa tidak percaya diri mendapatkan nilai sempurna dalam tugas akhir.
“Sempat ada magang di luar. Nah, awalnya pun agak pesimis untuk mendapat nilai segitu, tapi seiring berjalannya waktu ternyata bisa juga,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














