Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Senyum Palsu Anak Pertama Saat Adik Lolos PTN Impiannya, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Penuh Derita dan Pusing Mikir Biaya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Maret 2026
A A
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Ilustrasi - Lolos SNBP (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pengumuman lolos SNBP seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi keluarga Hafid (begitu namanya ingin ditulis). Namun, sebagai anak pertama sekaligus tulang punggung keluarga, pengumuman malah menimbulkan dilema. Di satu sisi, ia senang adiknya berhasil kuliah. Namun, di sisi lain ia juga harus berpikir keras untuk membayar biaya kuliah PTN yang sangat tinggi.

Alhasil, Hafid pun hanya bisa tersenyum bahagia di depan ibunya, tak mau memperlihatkan raut wajah kecewa. Meski aslinya ia amat menderita.

“Beginilah nasib anak pertama. Jadi sandwich generation, nanggung beban segunung,” kata Hafid, Minggu (1/3/2026) lalu.

***

Sore itu, tahun 2024, saat pria 24 tahun tersebut sedang menjaga toko elektronik di kawasan Godean, Sleman, ponselnya berdering. Adiknya menelepon sambil menangis bahagia karena akhirnya lolos SNBP.

Sang adik diterima di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) favorit di Malang, Jawa Timur. Di ujung telepon sana, terdengar juga suara ibunya yang ikut bersyukur.

Hafid bercerita bahwa ia hanya bisa tersenyum. Ia kemudian mengucapkan selamat dan menyuruh adiknya merayakan kabar baik itu. 

“Tapi begitu telepon aku tutup, yang ada justru rasa panik. Rasanya ada sedih-sedihnya gitu, meski aku nggak bisa ngomong ke mereka,” ujarnya.

Bagi Hafid, menanggung biaya kuliah PTN bukanlah perkara gampang. Ia sendiri pernah terpaksa mengubur mimpinya dalam-dalam demi keluarga. 

Kakak tertua, mengorbankan diri tak kuliah demi keluarga

Cerita pahit lolos SNBP ini bermula pada 2021 lalu. Saat itu, Hafid baru saja lulus SMA dan sedang semangat-semangatnya ingin mendaftar kuliah. Namun, musibah datang. Ayahnya meninggal dunia karena gelombang Covid-19. Keadaan ekonomi keluarga langsung berantakan.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Hafid sadar diri. Ia memilih menunda kuliah atau gap year. Sepanjang tahun 2021, ia bekerja menjadi tenaga kebersihan di kantor kelurahan dekat rumahnya. 

“Tapi gajinya saat itu hanya seadanya. ‘Seikhlasnya’ meski aku nerimanya aja nggak ikhlas,” ujarnya.

Masuk tahun 2022, kondisi keuangan keluarganya tidak juga membaik. Uang pensiunan almarhum ayahnya hanya pas-pasan untuk makan ibunya sehari-hari. Sadar bahwa biaya kuliah PTN itu sangat besar, Hafid akhirnya membuat keputusan berat. Ia batal kuliah secara permanen dan memilih ikut sepupunya merantau ke Yogyakarta. 

Sejak saat itu, ia bekerja di sebuah toko elektronik di Godean dan resmi menjadi tulang punggung keluarga.

Iklan

Meski gagal kuliah, Hafid tidak mau adiknya bernasib sama. Ia selalu berpesan agar adiknya rajin belajar supaya bisa lolos SNBP dan masuk perguruan tinggi. 

“Tapi kalau bisa harus pakai beasiswa,” kata Hafid mengingat pesannya kala itu. 

Ia tahu betul, meski nanti adiknya lolos SNBP, kalau statusnya harus bayar penuh tanpa bantuan dari pemerintah, keluarganya tidak akan sanggup bayar.

Adik lolos SNBP, tak sepenuhnya bahagia karena biaya mahal

Harapan Hafid ternyata hanya terkabul, tapi cuma “setengah”. Adiknya memang pintar dan lolos SNBP, tapi gagal mendapat beasiswa. 

Alasan penolakannya pun terasa menyesakkan. Karena almarhum ayahnya dulu adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), adiknya dianggap berasal dari keluarga mampu secara sistem. Alhasil, ia tidak berhak mendapat bantuan KIP-Kuliah.

Padahal, kenyataannya jauh dari kata mampu. Uang pensiunan janda yang diterima ibunya setiap bulan jumlahnya sangat kecil. Uang itu murni hanya cukup untuk kebutuhan dasar keluarga di desa.

Alhasil, Hafid kini harus memutar otak menghadapi tagihan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang menjadi bagian utama biaya kuliah PTN adiknya. Besarannya lebih dari Rp4 juta lebih per semester. 

“Bagi orang berduit, uang segitu mungkin tidak seberapa. Tapi bagiku yang gajinya pas-pasan, ya itu mengerikan.”

Pikirannya terus berhitung. Gaji bekerja berkisar di angka Rp2,7 juta. Biarpun sudah lolos SNBP, kalau adiknya jadi berangkat ke Malang, biaya yang dikeluarkan bukan cuma untuk bayar UKT. Ada biaya sewa kos yang rata-rata termurah sudah menyentuh angka Rp 700 ribu sampai satu juta rupiah per bulan. Belum lagi uang makan, transportasi, dan kebutuhan tugas kuliah yang setidaknya butuh Rp1 hingga Rp1,5 juta sebulan.

“Kalau ditotal kasar, pengeluaran adikku di Malang bisa mencapai dua juta lebih per bulan,” ujarnya. 

Adik lolos SNBP di Malang, malah overthinking pergaulan bebas

Beban Hafid nyatanya bukan cuma soal memikirkan biaya kuliah PTN. Sebagai kakak laki-laki yang kini menggantikan peran ayah, ia juga punya beban batin melepas adik perempuannya merantau jauh ke Malang.

Selama hampir tiga tahun tinggal di Jogja, mata Hafid terbuka lebar melihat bagaimana pergaulan mahasiswa di kota besar. Ia melihat sendiri gaya hidup anak muda yang bebas, kebiasaan nongkrong sampai malam, hingga tuntutan gengsi pergaulan kampus. 

Ia khawatir, hal yang sama bisa terjadi di Malang, yang juga dikenal sebagai kota rujukan ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Di matanya, pergaulan mahasiswa di kota-kota besar itu rawan membuat anak rantau salah arah.

“Takut pergaulan bebas,” ujarnya.

Jarak Jogja dan Malang cukup jauh. Hafid sadar ia tidak akan bisa mengawasi adiknya setiap saat. Ketakutan bahwa adiknya akan salah pergaulan, terpengaruh gaya hidup boros, atau tidak fokus belajar, terus menghantuinya. Ia takut keringatnya mencari uang akhirnya sia-sia.

Pura-pura bahagia di depan keluarga memang melelahkan, tapi ia merasa tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin tega menyuruh adiknya mundur setelah berhasil lolos SNBP dan melepaskan kursi kampus negeri yang sudah susah payah didapatkan. Itu sama saja menghancurkan impian adiknya.

Pada akhirnya, Hafid menelan rasa takut dan pusingnya sendirian. Ia sadar, mulai hari ini, ia harus bekerja jauh lebih keras dan memutar otak mencari uang tambahan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2026 oleh

Tags: Biaya hidup mahasiswa di MalangBiaya kuliah jalur SNBPBiaya kuliah PTNgaji UMR Jogjakip kuliahLolos SNBPPTN di Malangsandwich generationSNBPUang Kuliah Tunggal (UKT)ukt mahal
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO
Edumojok

Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi

30 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
tunggu aku sukses nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Ketika Sandwich Generation Bermimpi, Orang Lain Tak Kehabisan Cara Buat Mencaci

26 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Mending, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati Mojok.co

Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Tinggi, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati

25 Maret 2026
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.