Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 April 2026
A A
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Ilustrasi sarjana (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seringkali tetangganya di desa mendadak jadi “konsultan karier” dengan pola pikir lawas bagi Rina. Misalnya, ia pernah direkomendasikan buat kerja sebagai honorer wiyata bakti di sebuah SD. Biarpun gajinya cuma tiga ratus ribu, kata para tetangga, yang penting kerja.

Bahkan, ada yang dengan enteng menyarankan jalur “orang dalam”. Mereka menyuruh Rina menitip lamaran lewat Kepala Desa atau menyogok sedikit agar bisa jadi pegawai kelurahan. 

“Mereka tidak paham bahwa zaman sudah berubah,” kata Rina. “Aku kerja dari kamar itu hasilnya lebih banyak daripada kantoran.”

Jadi sarjana di desa harus bisa segalanya

Selain tekanan dari segi karier dan omongan, penderitaan menjadi sarjana di desa mencapai puncaknya saat kita dituntut bisa segalanya. Misalnya, ada anggapan di kampung bahwa sarjana jurusan apa pun pasti jago komputer dan tahu segalanya soal mesin. Saya mengalami sendiri kejadian absurd ini.

Waktu itu, saya masih kuliah semester empat di jurusan Ilmu Sejarah UNY. Secara teori, hari-hari saya diisi dengan membaca buku-buku teori sosial dan arsip kolonial. Namun, suatu hari, Pak RT datang ke rumah dengan wajah penuh harap. Ternyata, antena parabola TV-nya rusak dan dia meminta saya memperbaikinya.

Jujur saja, saya berada dalam dilema yang luar biasa. Kalau saya menolak, saya pasti dicap sombong atau dibilang “kuliah tinggi-tinggi tapi benerin parabola saja tidak becus”. Tapi kalau saya terima, jujur saja, saya takut kalau masalah malah tambah panjang.

Alhasil, berbekal tutorial dari Google dan keberanian (baca: nekat), saya memanjat atap rumah Pak RT. Beruntung, setelah saya otak-atik seadanya mengikuti panduan di layar HP, gambarnya muncul.

Namun, saya bisa membayangkan kalau saat itu saya gagal. Nyinyira pasti akan bertahan selama bertahun-tahun: “Mahasiswa UNY kok benerin antena saja tidak bisa, sia-sia bayar kuliah mahal.” 

Di desa, gelar sarjana seolah-olah menghapus hakmu untuk menjadi manusia biasa yang boleh tidak tahu tentang sesuatu. Saya pernah menjadi teknisi HP, tukang ketik proposal di kelurahan, hingga paling absurd disuruh khutbah Jumat–padahal saya tak alim-alim amat.

Bahkan, dalam urusan bersosialisasi di pos ronda bersama bapak-bapak, saya merasa dalam posisi selalu serba salah. Kadang saya gemas mengomentari obrolan bapak-bapak, terutama kalau sudah membahas politik, yang banyak ngawurnya.

Namun, saya memilih diam, karena sekalinya bicara–dan ini pernah terjadi–malah dicap ndakik-ndakik dan benci pemerintah.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 15 April 2026 oleh

Tags: anak desa kuliahanak kuliah dari desaDesapilihan redaksiPNSsarjanasarjana di desasarjana pendidikansarjana pertanianwarga desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO
Urban

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
Tidak mau ikut CPNS karena tidak mau jadi PNS/ASN atau abdi negara
Urban

PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

14 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO
Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Garap skripsi modal copas karena alasan sibuk di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tak punya duit buat bayar joki. Lulus PTN tepat waktu tapi berakhir kena karma MOJOK.CO

Skripsi Modal Copas karena Sibuk di Ormek dan Tak Kuat Bayar Joki, Lulus PTN Tanpa Kendala tapi Sengsara Tak Bisa Kerja

13 April 2026
Tidak mau ikut CPNS karena tidak mau jadi PNS/ASN atau abdi negara

PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

14 April 2026
Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

13 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.