Seringkali tetangganya di desa mendadak jadi “konsultan karier” dengan pola pikir lawas bagi Rina. Misalnya, ia pernah direkomendasikan buat kerja sebagai honorer wiyata bakti di sebuah SD. Biarpun gajinya cuma tiga ratus ribu, kata para tetangga, yang penting kerja.
Bahkan, ada yang dengan enteng menyarankan jalur “orang dalam”. Mereka menyuruh Rina menitip lamaran lewat Kepala Desa atau menyogok sedikit agar bisa jadi pegawai kelurahan.
“Mereka tidak paham bahwa zaman sudah berubah,” kata Rina. “Aku kerja dari kamar itu hasilnya lebih banyak daripada kantoran.”
Jadi sarjana di desa harus bisa segalanya
Selain tekanan dari segi karier dan omongan, penderitaan menjadi sarjana di desa mencapai puncaknya saat kita dituntut bisa segalanya. Misalnya, ada anggapan di kampung bahwa sarjana jurusan apa pun pasti jago komputer dan tahu segalanya soal mesin. Saya mengalami sendiri kejadian absurd ini.
Waktu itu, saya masih kuliah semester empat di jurusan Ilmu Sejarah UNY. Secara teori, hari-hari saya diisi dengan membaca buku-buku teori sosial dan arsip kolonial. Namun, suatu hari, Pak RT datang ke rumah dengan wajah penuh harap. Ternyata, antena parabola TV-nya rusak dan dia meminta saya memperbaikinya.
Jujur saja, saya berada dalam dilema yang luar biasa. Kalau saya menolak, saya pasti dicap sombong atau dibilang “kuliah tinggi-tinggi tapi benerin parabola saja tidak becus”. Tapi kalau saya terima, jujur saja, saya takut kalau masalah malah tambah panjang.
Alhasil, berbekal tutorial dari Google dan keberanian (baca: nekat), saya memanjat atap rumah Pak RT. Beruntung, setelah saya otak-atik seadanya mengikuti panduan di layar HP, gambarnya muncul.
Namun, saya bisa membayangkan kalau saat itu saya gagal. Nyinyira pasti akan bertahan selama bertahun-tahun: “Mahasiswa UNY kok benerin antena saja tidak bisa, sia-sia bayar kuliah mahal.”
Di desa, gelar sarjana seolah-olah menghapus hakmu untuk menjadi manusia biasa yang boleh tidak tahu tentang sesuatu. Saya pernah menjadi teknisi HP, tukang ketik proposal di kelurahan, hingga paling absurd disuruh khutbah Jumat–padahal saya tak alim-alim amat.
Bahkan, dalam urusan bersosialisasi di pos ronda bersama bapak-bapak, saya merasa dalam posisi selalu serba salah. Kadang saya gemas mengomentari obrolan bapak-bapak, terutama kalau sudah membahas politik, yang banyak ngawurnya.
Namun, saya memilih diam, karena sekalinya bicara–dan ini pernah terjadi–malah dicap ndakik-ndakik dan benci pemerintah.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














