Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Gagal Kuliah Kedokteran karena Bodoh dan Miskin, Malah Dapat Telepon Misterius dari Unair di Detik Terakhir Pendaftaran

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
6 April 2026
A A
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

ilustrasi - kuliah di Jurusan Kebidanan Unair bikin hidup saya lebih bermakna. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sama seperti orang kebanyakan, cita-cita Rahma (24) waktu kecil ingin menjadi dokter. Namun, ia sadar akan kemampuan dirinya dan memutuskan banting setir. Tapi setidaknya, ia tetap ingin kuliah di bidang kesehatan. Maka, mendaftarlah dia ke Jurusan Kebidanan di Universitas Airlangga (Unair). Tanpa ia sangka, banyak kebermaknaan yang ia dapatkan dari sana.

***

Waktu Rahma kecil, ia suka bermain peran sebagai dokter yang merawat pasien. Pura-pura, ia pegangi mainan stetoskopnya di dada temannya seolah-olah sedang mendengarkan detak jantung temannya.

Lalu, ia mulai menuliskan macam-macam untuk membuat diagnosis. Sesekali ia bertanya soal keluhan sang pasien–temannya. Sampai kemudian mereka tertawa. Saat itulah, Rahma punya mimpi menjadi dokter saat dewasa.

Namun, mimpinya mulai memudar secara perlahan karena Rahma sadar betul untuk menjadi dokter dibutuhkan kemantapan hati yang ekstra. Misalnya, harus pintar dan keluar uang banyak.

“Sedangkan aku sadar diri kalau kemampuan otakku nggak sepintar itu. Keluargaku pun ekonominya pas-pasan. Akhirnya, aku makin nggak tahu ingin jadi apa kalau udah besar,” kata Rahma saat dihubungi Mojok, Minggu (5/4/2026).

Meski menyerah dengan mimpinya kuliah di kedokteran, sejatinya Rahma masih suka belajar soal kesehatan. Oleh karena itu, untuk menghibur diri, Rahma aktif mengikuti ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMP hingga SMA.

“Walaupun aku nggak bisa kuliah di Kedokteran, setidaknya aku bisa merasakan dasar-dasar kesehatan di PMR meski hanya secuil,” kata Rahma.

Ditolak Unair 2 kali hingga dapat telepon misterius

3 tahun kemudian, tibalah masa di mana Rahma harus menentukan jurusan kuliahnya. Meski dalam hati ingin mendaftar di Jurusan Kedokteran, Rahma akhirnya berani beralih ke Jurusan Kebidanan. Toh, ia pun sebetulnya tak berani menangani pasien secara langsung. Hal ini pun ia ketahui saat ia ikut kegiatan di PMR.

“Jadi aku pilih jurusan kesehatan yang sekiranya sanggup sama otak dan uangku,” kelakarnya.

Usai dengan pergulatan hatinya dalam menentukan jurusan kuliah, Rahma masih harus lanjut berjuang untuk mendaftar di Unair lewat jalur prestasi dan UTBK. Sayangnya, ia selalu gagal karena nilainya tidak mencukupi.

Harapannya pun semakin jauh, karena ia berpikir tak akan mampu lewat jalur Mandiri. Di tengah kegusarannya, sebuah telepon masuk dari pengurus beasiswa Unair. Ia menawarkan kuota Jurusan Kebidanan ke Rahma, tepat pada detik-detik terakhir penutupan gelombang Mandiri ketiga.

“Yap, gelombang terakhir masuk Unair yang nggak semua orang ditawarin, padahal waktu itu aku sudah mau nyerah aja soalnya aku pikir nggak akan diterima di mana-mana,” ujarnya.

Hari-hari belajar ilmu Kedokteran di Unair

Menurut Rahma, kesempatan itu diberikannya tidak cuma-cuma. Barangkali, ada calon mahasiswa baru di Jurusan Kebidanan yang mengundurkan diri, sehingga Rahma diberi tawaran. Rahma juga menduga, tawaran itu ia dapatkan berkat beberapa sertifikat yang ia ikuti selama PMR. 

Iklan

Tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Rahma akhirnya berhasil diterima sebagai mahasiswa Jurusan Kebidanan Unair lewat jalur Mandiri dengan beasiswa Bidikmisi (sekarang KIP Kuliah).

Rahma tak menampik hari-harinya dilalui dengan berat. Tak jauh berbeda dengan anak-anak Kedokteran, Rahma juga belajar soal anatomi, fisiologi, biokimia, mikrobiologi, farmakologi, hingga praktik dasar seperti infus, kateter, dan melahirkan. 

Masalahnya, praktik dasar itu dia dapatkan secara daring karena pandemi. Alhasil, saat praktik langsung di rumah sakit usai pandemi, Rahma mengaku kaget dan sulit beradaptasi. Untungnya, kata dia, para dosen dan tenaga kesehatan di sana memaklumi.

“Jadi lebih banyak dibimbing,” ujarnya.

Momen spiritual seperti di film-film

Bagi Rahma, kesulitan itu belum apa-apa jika dibandingkan saat pertama kali dirinya menjalani pendidikan profesi. Di mana, ia bahkan tak cukup beristirahat guna menyesuaikan jam kerja serta praktik. 

Jika senggang, ia harus menyelesaikan laporan kasus sebab Unair sendiri punya target per kompetensi. Rahma harus membuat makalah individu maupun kelompok, hingga mengikuti penyuluhan di puskesmas.

“Sehari-hari tuh repeat, kayak jaga, pulang, kerjain laporan, tidur. Jadi waktu istirahat tuh minim, jam tidur pun nggak karuan karena kerja sesuai shift,” ujarnya.

Sampai kemudian, Rahma sadar rasa lelahnya tak sebanding dengan seorang ibu yang mengandung. Suatu hari, untuk pertama kalinya, Rahma terlibat langsung membantu proses persalinan. 

Di momen itu, ia melihat langsung perjuangan seorang ibu melahirkan bayinya. Ia tak bisa membayangkan kesulitan dan kekhawatiran yang dihadapi keduanya saat berada di ambang hidup dan mati.

“Belum lagi kalau habis melahirkan, ibunya ada pendarahan. Kalau nggak cepat ditanganin, taruhannya nyawa,” kata Rahma.

Perasaan lega baru muncul ketika Rahma berhasil menolong ibu dan bayinya. Tak sampai di situ, Rahma juga pernah praktik langsung di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Sebuah ruangan perawatan intensif untuk bayi baru lahir yang memerlukan penanganan khusus.

“Di sana aku melihat banyak bayi yang prematur, lebih kecil dari bayi lainnya. Lalu bayi tanpa tempurung kepala, hingga bayi yang kesulitan bernafas,” kata dia.

Tak ayal, momen itu menguras emosinya sebab ada perasaan sedih yang berkecamuk. Setelah melihat perjuangan seorang ibu dalam proses persalinan, ia harus melihat perjuangan bayi yang bertahan dan berusaha hidup dengan melawan penyakit. 

Pada akhirnya, Rahma sadar dan berhasil mensyukuri keputusannya dulu. Kalaupun tidak bisa menjadi dokter, ia masih bisa membantu ibu dan anaknya agar tetap sehat baik sebelum, saat, dan sesudah persalinan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 April 2026 oleh

Tags: beasiswa kuliahJurusan KebidananKebidananKedokteran UnairSurabayaunairuniversitas airlanggaUTBK
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO
Edumojok

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Edumojok

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co
Edumojok

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aksi topeng ayam di Fore Coffee Jogja. MOJOK.CO

Di Balik Aksi Topeng Ayam Depan Fore Coffee Jogja: Menagih Janji Hak Ayam Petelur untuk Meraih Kebebasan

2 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda yang Saking Iritnya, Sampai Memunculkan Mitos Tentangnya

5 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.