Bagi sebagian besar warga desa, tolok ukur kesuksesan itu sangat sederhana tapi harus bisa dilihat mata. Kalau tidak pakai seragam dinas, ya, minimal pulang bawa mobil. Hal inilah yang membuat kepulangan Agustian (28), yang pulang dengan membawa gelar S2 pada mudik lebaran 2025 lalu, jadi bahan omongan.
Tian, sapaan akrabnya, saat itu baru saja menyelesaikan kuliah S2 di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Jogja. Bagi orang tuanya yang sederhana, punya anak bergelar Magister adalah kebanggaan luar biasa. Harapannya, kepulangan Tian akan disambut decak kagum warga.
Nyatanya malah jauh dari itu. Tian pulang hanya menumpang bus ekonomi. Penampilannya pun sangat biasa. Ia cuma pakai kaos oblong, sandal jepit, dan menggendong ransel berisi laptop. Sangat jauh dari ekspektasi warga soal “anak S2 pulang kampung”.
“Ya orang pulang mudik ngapain ngejreng sih, yang penting bisa pulang aja,” ujar lelaki asal Banyumas ini, Kamis (12/3/2026).
Hahalbihalal tempat lulusan S2 ini dihakimi tetangga
Puncak dari situasi tidak nyaman ini terjadi saat acara kumpul keluarga dan halalbihalal desa. Di sana, Tian harus menghadapi rentetan pertanyaan basa-basi yang sebenarnya menusuk hati.
“Kerja di mana sekarang, Yan?”
“Sayang lho ijazah S2-nya kalau nggak kerja kantoran.”
Ungkapan-ungkapan itu yang sering ia dengar sepanjang lebaran tahun lalu.”
Tidak berhenti di situ, ada juga tetangga yang terang-terangan membandingkan. “Itu lho lihat si A, anaknya Bu B. Lulusan SMA aja sekarang udah rapi pakai seragam. Kemarin mudik bawa mobil.”
Di desa, pendidikan tinggi seringkali tidak ada harganya jika tidak dibarengi bukti kesuksesan fisik. Stigma yang berlaku sangat kejam: percuma sekolah tinggi sampai S2 kalau ujung-ujungnya cuma jadi orang biasa-biasa saja.
Orang tua Tian hanya bisa tersenyum kecut mendengar bisik-bisik tetangga yang menganggap anak kebanggaan mereka sebagai pengangguran terselubung. Sementara Tian? Ia memilih diam dan santai.
Padahal punya penghasilan besar, hanya saja nggak mau pamer
Tian sebenarnya adalah definisi “anak muda banyak duit”. Hanya saja, ia tak mau pamer. “Nggak ada gunanya,” kata dia.
Ia mengaku sudah mulai bekerja sejak lulus S1 pada tahun 2021 lalu. Saat itu ia bekerja untuk sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Jakarta. Sementara sejak 2023, ia mulai rutin kerja untuk sebuah perusahaan pengembang teknologi di luar negeri di mana ia bekerja secara WFA.
“Bukan freelance ya. Aku terikat kontrak, selalu diperpanjang setiap setahun. Tapi memang kerjanya fleksibel,” ujarnya.
Tiap kali lulusan S2 ini mudik dan kelihatan sibuk dengan laptopnya, warga desa mungkin menganggap Tian cuma main gim atau ndekem saja. Padahal, dari kegiatan yang “kelihatan nggak ngapa-ngapain itu” ia mendapatkan gaji dalam bentuk dolar.
Jika dirupiahkan, penghasilan Tian dalam sebulan bisa menyentuh angka dua digit. Nominal yang mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk dikumpulkan oleh pekerja berseragam di desanya.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mencatat tren pekerja sektor informal, freelancer, dan pekerja remote di Indonesia terus meningkat tajam.
Sayangnya, perubahan zaman ini belum sampai ke telinga orang-orang di desa Tian. Bagi mereka, kerja itu ya harus keluar rumah pakai sepatu pantofel.
Baca halaman selanjutnya…














