Sering dicibir karena rumahnya jelek
Nyinyiran warga rupanya tidak berhenti di urusan pekerjaan Tian. Bentuk fisik rumah orang tuanya juga jadi sasaran empuk. Di saat tetangga kanan-kirinya sudah memamerkan tembok bata berlapis cat cerah dan lantai keramik mengkilap hasil anak merantau, rumah orang tua Tian masih bertahan dengan dinding separuh kayu dan lantai plester semen.
“Di lingkungan, kira-kira lingkup RT RW lah, kayaknya memang rumah saya yang paling jelek. Karena memang nggak pernah renov,” jelasnya.
Kalau kebetulan tetangga sedang kumpul, kondisi rumah Tian sering dijadikan bahan perbandingan.
“Kasihan, ya, sudah habis banyak buat nyekolahin anak sampai S2, eh rumahnya masih begitu saja.”
Bagi warga desa, wujud bakti anak rantau itu dinilai dari seberapa megah mereka merenovasi rumah orang tuanya. Anak lulusan SMA yang bisa membelikan sofa ruang tamu baru, atau sekadar memplester teras untuk parkir motor, dianggap jauh lebih sukses dan berbakti.
Gelar S2 Tian seolah tidak ada artinya selama rumah kayu itu masih berdiri kusam di tengah kepungan rumah tembok tetangga.
Semua omongan pedas itu sebenarnya sampai ke telinga Tian. Meski ibunya mengaku biasa-biasa saja, ia mengaku sedih.
“Siapa yang nggak sedih kalau keluarganya dihina?”
Lulusan S2 bungkam tetangga dengan bangun rumah
Beberapa bulan setelah Lebaran yang penuh nyinyiran itu lewat, barulah buah pekerjaan Tian terlihat. Tidak ada keajaiban dalam semalam. Namun, sedikit demi sedikit, Tian merobohkan rumah kayunya milik orang tuanya.
Sedikit demi sedikit, material bangunan mulai berdatangan. Bulan pertama fondasi dicor. Bulan berikutnya tembok mulai naik. Proses pembangunan itu memakan waktu berbulan-bulan, menggunakan uang tabungannya yang terus mengalir dari klien luar negeri.
Kini, setahun telah berlalu. Menjelang momen mudik Lebaran tahun ini, rumah itu sudah berdiri tegak. Bukan lagi rumah kayu yang rapuh, tetapi sebuah rumah tembok besar, yang mungkin paling mencolok di lingkungan desanya.
“Paling tidak, aku bisa menjawab semua nyinyiran yang pernah dialamatkan kepada keluarga,” ujarnya. “Meski ya namanya tetangga, ke depan tetap aja bakal nyari celah kita buat dinyinyirin lagi.”
Bagi Tian, ia telah membuktikan satu hal penting. Berbakti kepada orang tua tidak selalu butuh validasi seragam dinas atau mobil yang dipamerkan saat Lebaran.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














