Masih terekam jelas di ingatan bagaimana riff pembuka “Holy Wars… The Punishment Due” dari Megadeth menghajar gendang telinga saya belasan tahun lalu. Distorsi tajam dan tempo yang agresif, saat itu, menjadi bahan bakar bagi kemarahan masa remaja yang sedang meledak-ledaknya.
“Apa-apaan ini?’ gumam saya dalam hati ketika pertama mendengarkannya, kira-kira saat saya SMP, melalui sebuah kaset–yang sekarang saya yakin bootleg.
Setelah kuping saya dijejali musik syahdu hard rock, atau mentok Metallica era Black Album, riff cepat dan bertenaga itu jujur bikin saya kaget. Meski saya malas mengakuinya, Megadeth jadi pintu masuk saya ke dalam subgenre metal yang lebih keras dan gelap.
Rasanya baru kemarin saya mendengarkan “Holy Wars”. Januari 2026, awal tahun ini, mereka tiba-tiba bikin pengumuman yang saya sendiri berharap itu cuma gimmick marketing. Ya, Megadeth, salah satu pilar “The Big Four” yang membentuk wajah musik thrash metal dunia, resmi pamit.
Dave Mustaine, pria yang selama empat dekade memelihara dendam dan kemarahan sebagai bahan bakar kreativitasnya, akhirnya undur diri dengan mempersembahkan album ke-17 dengan tajuk sama (self-titled), Megadeth (2026).
Bagi saya, dan mungkin jutaan Droogies (sebutan fans Megadeth) lainnya, ini bukan sekadar rilisan album baru. Ini adalah sebuah eulogi, “upacara pemakaman” bagi era di mana kecepatan jari dan distorsi gitar adalah mata uang paling berharga. Namun, pertanyaannya kemudian: apakah sang jenderal pergi dengan dentuman meriam, atau sekadar rengekan pelan?
Dave Mustaine melawan takdir dengan penyakit aneh
Keputusan untuk membubarkan Megadeth bukanlah strategi marketing murahan ala band-band rock tua yang hobi bikin “Farewell Tour”, tapi lima tahun kemudian reuni lagi demi cuan. Kali ini, situasinya memang sangat genting dan mendesak.
Di usia 64 tahun, Dave Mustaine, sang frontman, sedang bertarung melawan tubuhnya sendiri. Kita tahu dia adalah penyintas kanker tenggorokan pada 2019, dan pernah mengalami kelumpuhan saraf tangan (radial neuropathy) di awal 2000-an. Tapi kali ini, musuhnya bernama Dupuytren’s contracture.
Media Inggris The Guardian menyebutnya sebagai “penyakit Viking” (viking disease), sebuah kondisi penebalan jaringan di bawah kulit telapak tangan yang perlahan-lahan menarik jari-jari menekuk kaku ke arah telapak.
Bayangkan situasinya: seorang dewa gitar, yang membangun kariernya di atas kecepatan jari, kini dipaksa berhenti karena jarinya perlahan mengeras, seperti batu. Pitchfork, dengan agak sadis (dan saya tak senang membacanya), menyebut bahwa album ini sebenarnya lahir bukan semata karena pilihan atau passion bermusik, tapi karena “keharusan” (necessity) sebelum jari-jari Dave benar-benar tidak bisa lagi menari di atas fretboard.
Alhasil, ketika saya membuka isi album di Apple Music, kemudian menekan tombol play dan riff lagu pembuka “Tipping Point” mengeram, ada perasaan campur aduk antara kagum dan ngilu.
Harus diakui, musiknya agresif tapi tetap easy-listening
Secara musikalitas, mari kita jujur: Megadeth tidak terdengar seperti sekumpulan kakek-kakek yang sudah uzur.
Kolumnis Associated Press, Dennis Waszak, bahkan memberikan nilai bintang 4/5 untuk album ini. Ia menyebutnya sebagai “perpisahan yang ganas, dan bukti bahwa mereka pergi di puncak karier.”
Saya tidak bisa untuk tidak sepakat dengan pernyataan Dennis.
Baru di awal saja, lagu “Tipping Point” langsung menghajar telinga saya dengan riff renyah dan solo gitar yang meski tak terlalu agresif tapi terdengar penuh tenaga. Ditambah, ada kepuasan tersendiri mendengar Dave, dengan suaranya parau, melantunkan lirik melo: “Today, I may bleed, but tonight you will die.”
Itu adalah Dave “klasik” yang saya kenal, yang saya tak jumpai dalam rekaman-rekaman album studio sejak Endgame (2009), barangkali. Memang, tak sedikit yang memuji Dystopia (2016) sebagai album yang “cukup rapi”, meski tak sebertenaga album terbaru ini.
Namun, ada satu hal yang terasa berbeda. Absennya Kiko Loureiro (gitaris sebelumnya), digantikan oleh Teemu Mantysaari, virtuoso asal Finlandia. Ini adalah penampilan pertama dan satu-satunya Teemu di rekaman studio Megadeth.
Majalah Kerrang! dalam salah satu ulasannya minggu lalu, memuji harmonisasi gitar Dave dan Teemu yang membuat lagu-lagu seperti “Made To Kill” dan “I Am War” terdengar hidup.
Namun, sebagai fans yang “terlalu nyaman” oleh chemistry era Rust in Peace-nya Marty Friedman, saya merasakan sesuatu yang hilang. Saya harus sedikit sepakat dengan ulasan Eli Enis di Pitchfork yang sebetulnya agak nyinyir. Ia menyebut Teemu sebagai pemain yang jago, tapi membuat rekaman terasa hambar.
Sebagai penikmat album-album awal Megadeth, terutama sebelum 2000-an, saya merasa produksi album baru ini “terlalu bersih”. Kurang kasar, sebagaimana musik thrash metal. Saya yang berharap mendengar Megadeth versi 90-an kudu sedikit menahan kecewa, meski tetap mengakui ini album yang presisi.
Meski lirik album terbaru Megadeth agak cringe juga
Nah, bagian ini yang tak sabar untuk saya bahas. Kita harus sepakat, bukan Dave Mustaine namanya kalau tidak menyisipkan lirik yang membuat kita mengernyitkan dahi.
Di balik kejeniusan aransemen musiknya, Dave seringkali terjebak dalam penulisan lirik yang terasa seperti curhatan ABG yang baru melek politik atau bapak-bapak di grup WhatsApp yang gemar teori konspirasi.
Lagu “Let There Be Shred” adalah contoh paling nyata. Lirik lagu ini menceritakan tentang proses bermain gitar dengan teknik shredding, secara sangat harafiah. Dave Mustaine menulis bait-bait yang mendeskripsikan jari-jari yang terbakar, senar yang membara, dan kecepatan tangan yang seolah-olah menjadi kekuatan supernatural.
Bagi banyak pendengar, ini terasa seperti lirik yang ditulis oleh remaja yang baru belajar gitar, bukan oleh seorang legenda metal berusia 60-an tahun. The Guardian menyebut liriknya preposterous alias konyol. Pitchfork bahkan lebih kejam, menyebut lirik Dave di album ini tak melampaui level anak kelas 3 SMP.
Sepanjang kariernya, Megadeth dikenal dengan lirik yang cerdas mengenai politik, peperangan, dan konspirasi. Seperti dalam “Holy Wars” atau “Symphony of Destruction”. Ketika mereka merilis “Let There Be Shred” yang isinya hanya memuja-muja kemampuan teknis mereka sendiri, kritikus merasa Dave Mustaine kehilangan kedalaman intelektualnya.
Ada juga lagu “Hey, God?!” di mana Dave “curhat” kepada Tuhan tentang ketidakhadirannya akhir-akhir ini karena “banyak pikiran”. Pitchfork menyebutnya agak cringe; saya sepakat soal ini.
Namun, kudu diakui juga, sisi norak yang kadang bercampur dengan keseriusan ini yang membuat Megadeth selalu menarik. Dave tidak pernah berusaha menjadi intelektual seperti band prog-metal. Dia senantiasa apa adanya, representasi dari kemarahan yang kadang konyol, tapi selalu jujur.
Rasanya malah Megadeth seperti nggak bisa move on dari mantan (Metallica)
Bagian yang paling emosional bagi saya–dan paling memecah belah opini pendengar–adalah lagu ke-11, sebuah bonus track, yakni versi cover dari “Ride The Lightning”.
Bagi kamu yang tidak mengikuti drama musik metal, biar saya kasih tahu: ini adalah lagu Metallica, mantan band-nya Dave. Lagu ini turut ditulis Dave Mustaine sebelum dia dipecat secara menyakitkan pada tahun 1983 karena masalah alkohol dan narkoba, lalu disuruh pulang naik bus lintas negara bagian selama empat hari. Selama lebih dari 40 tahun, lagu ini adalah simbol dari apa yang “dirampok” dari Dave.
Mendengar Megadeth membawakan lagu ini di tahun 2026 rasanya surealis. Dave mengklaim dia merekamnya untuk “memberi penghormatan pada awal kariernya”. Versi ini lebih cepat, lebih agresif, dan vokal Dave terdengar lebih gahar dibanding James Hetfield.
Respon media sangat terbelah. Pitchfork, dengan sinismenya, menganggap ini bukti bahwa Dave tidak pernah move on dari mantan. Mereka menulis bahwa ini adalah “troll yang menyedihkan” sekaligus mengonfirmasi bahwa jauh di lubuk hatinya, Dave sebenarnya “hanya ingin bermain di Metallica”.
The Guardian juga mempertanyakan, untuk apa merayakan warisan band sendiri dengan mengungkit pemecatan dari band lain?.
Namun, kalau saya pribadi melihatnya secara berbeda. Jujur saja, saya malah sependapat dengan Kerrang! yang menyebut ini sebagai “upaya mengambil alih miliknya”. Dave tidak sedang mencari masalah; dia sedang mengambil kembali “anaknya” yang hilang.
Di ujung usianya, kata Kerrang!, dia ingin menutup lembaran dengan berkata: “Ini laguku juga. Dan ini caraku memainkannya sebelum aku mati.” Bagi saya, ini adalah closure yang puitis. Sebuah cara elegan untuk berdamai dengan bayangan yang telah menghantuinya selama setengah abad.
Dave menyapa jemaahnya, barangkali buat yang terakhir
Momen yang benar-benar membuat dada saya sesak ada di lagu penutup orisinal, “The Last Note”. Ini adalah lagu berdurasi 5 menit lebih, di mana tempo melambat dan Dave berbicara langsung kepada kita, para jemaahnya: “I came, I ruled, now I disappear.”
Kebasnya kerasa banget!
Lirik lagu ini bergulat dengan makna meninggalkan sesuatu yang telah memberinya segalanya, tapi juga merenggut banyak hal darinya. Dave menyadari bahwa tubuhnya akan menghilang, tapi the last note, “nada terakhir” ini, tidak akan pernah mati.
Lantas, apakah album ini sebagus Rust in Peace atau minimal Countdown to Extinction? Jujur saja, tidak. Bahkan, jauh. Menurut keyakinan saya, album ini masih jauh buat menyamai level kreativitas mereka di era 90-an. Tidak ada inovasi revolusioner di sini.
Tapi bagi saya, tetap ada “hikmah” yang bisa diambil. Megadeth (2026) tetap menjadi album yang patut dirayakan. Di tengah penyakit yang menggerogoti jarinya, Dave Mustaine memilih untuk keluar dengan kepala tegak. Seperti yang ditulis Associated Press, “mereka tidak menjadi band tua yang memalukan; mereka tetap berusaha stay true pada akar agresif mereka.”
Menutup ulasan ini, saya teringat kembali pada masa SMP dan SMA saya. Megadeth mengajarkan saya bahwa kemarahan bisa diubah menjadi seni yang indah. Mengutip satu buku jelek yang saya baca (dan saya menyesalinya), Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, menjadi “orang buangan”, seperti Dave yang dibuang Metallica, bisa menjadi bahan bakar untuk membangun kerajaanmu sendiri.
Album ini mungkin memiliki cacat: lirik yang kadang kekanak-kanakan, produksi yang terlalu “bersih”, kurang thrash, dan nostalgia yang canggung. Namun, sebagai salam perpisahan, ia berhasil menjalankan tugasnya. Ia mengingatkan kita kenapa Dave Mustaine adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah musik keras.
Terima kasih, Dave. Untuk setiap riff yang mustahil dimainkan, setiap teori konspirasi yang membingungkan, dan setiap kemarahan yang kau salurkan menjadi distorsi. Selamat purna tugas.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mendengarkan Kembali Album PAS 2.0 setelah Dua Dekade: Lagunya Buat Milenial, tapi Kini Makin Relevan bagi Gen Z atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan












