Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
1 Agustus 2026
A A
Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP MOJOK.CO

Nasirun dengan salah satu karyanya ‘Kaki Rakyat’ yang dipamerkan pada pameran "Nasirun, Mulih Mula Mulanira" yang berlangsung di Jogja National Museum, Yogyakarta, 17-26 Mei 2022. (Arief Hernawan/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

NASIRUN, sosok seniman yang bukan sekadar dikenal karena karyanya, tapi juga kebaikannya pada seniman-seniman lain.

Saya lupa persisnya kapan bertemu dengan Nasirun, yang jelas dalam sebuah pameran lukisan. Kalau nggak salah saat saya masih bekerja di sebuah galeri lukisan di bilangan Prawirotaman di tahun 2000-an. Dia datang sebagai undangan.

Pertemuan berikutnya masih dalam sebuah pameran, hanya saja saya sebagai wartawan. Dalam sebuah kesempatan, saya mengenalkan diri sebagai orang Cilacap, sama dengan dirinya. Biasanya, obrolan selanjutnya lebih banyak dengan bahasa “ngapak”.

Saya banyak tahu tentang Nasirun dari senior saya di tempat kerja, Khocil Birawa, wartawan sekaligus seniman panggung yang cukup dekat dengan Nasirun. Pak Khocil, begitu ia disapa banyak bercerita tentang keunikan seniman ini. Sosok maestro seni rupa yang nggak berjarak dengan siapa saja. 

Sudah jadi rahasia umum kalau sosoknya enteng tangan membantu seniman lainnya. Terutama seniman-seniman sepuh. Salah satu caranya adalah dengan memberi kanvas dan alat lukis kepada seniman yang sedang membutuhkan. Lukisan itu lantas ia jual atau beli sendiri. 

“Nanti hasil penjualan dalam bentuk uang cash sebesar 50 persen diberikan ke seniman, sisanya ia belikan sembako untuk seniman itu, jadi tidak dikasih semuanya,“ kata Khocil saat saya menghubungi, Sabtu (1/7/2026).

Sebagai seniman panggung, Pak Khocil mengaku sering dibantu. Rencananya bahkan grup keroncong “Sapenake” yang ia pimpin akan diundang di acara pameran Nasirun dan Dunadi yang saat ini sedang berlangsung di Pendapa Artspace. Pemeran berjudul “Arundhati” tersebut berlangsung 20 Juni – 20 Agustus 2026.

“Dia minta saya dan keroncong Sapenake tampil di tanggal 8 Agustus karena akan ada acara di studionya,” kata Pak Khocil.

Alasan Nasirun tidak mau punya HP

Menurut Pak Khocil, salah satu keunikan Nasirun adalah tidak memegang handphone. Soal itu dalam obrolan di PutCast Mojok, berjudul “Menertawakan Hidup ala Maestro Nasirun”. Perupa lulusan ASRI Yogyakarta menceritakan alasan tak mau menggunakan handphone. 

Pilihan itu bukan semata-mata karena Nasirun tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi. Ada pengalaman tidak menyenangkan di balik keengganannya memegang HP: dering telepon pernah membuatnya merasa kehilangan kebebasan dan tidak jujur sebagai seniman.

Dalam obrolan itu, Puthut menyinggung sejumlah keunikan Nasirun. Selain tidak bisa menyetir mobil, pelukis kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965, tersebut dikenal tidak menggunakan HP. Bahkan untuk mengirim uang, ia masih mengandalkan bantuan keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Puthut kemudian bertanya apakah sikap tersebut sengaja dipertahankan sebagai citra seorang seniman atau karena Nasirun memang tidak mau direpotkan oleh teknologi.

“Sebenarnya ia ingin bisa menggunakan perangkat tersebut. Namun, setiap kali keinginan itu muncul, saya teringat pesan salah seorang guru saya, pelukis senior Fadjar Sidik,” katanya.

Julukan seniman gorengan

Keengganan Nasirun menggunakan HP berhubungan dengan masa ketika karyanya sedang diburu pasar. Namanya mencuat pada 1997 setelah lukisan-lukisannya habis terjual bahkan sebelum sebuah pameran di Jakarta resmi dibuka.

Iklan

Harga karya Nasirun kemudian melonjak. Lukisan yang sebelumnya berada pada kisaran Rp3 juta naik menjadi sekitar Rp17 juta. Karya berukuran besar bahkan mencapai Rp27 juta.

Lonjakan tersebut membuatnya memperoleh julukan “seniman gorengan”. Istilah itu disematkan kepada seniman yang harga karyanya dianggap naik secara cepat karena permainan atau dorongan pasar.

Booming karya Nasirun berlangsung hingga sekitar awal tahun 2000-an. Pesanan berdatangan. Kanvas baru disiapkan, bahkan lukisan belum selesai dibuat, tetapi calon pembeli sudah mengantre melalui sistem inden.

Pada periode itulah berbagai galeri menawarkan kontrak kepadanya.

Nasirun mengaku pernah menerima sekitar enam tawaran kontrak dari galeri yang berasal dari Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Hong Kong. Kontrak tersebut berpotensi membatasi kebebasannya dalam menjual karya maupun mengikuti pameran.

Seorang seniman yang terikat kontrak eksklusif tidak dapat dengan mudah menyerahkan karya kepada galeri lain. Ia juga harus berhati-hati menerima undangan pameran karena galeri dapat menentukan tempat, tingkat, dan wilayah pameran yang diperbolehkan.

Nasirun tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Setiap kali telepon berdering, ia harus menjawab pertanyaan mengenai pesanan, pekerjaan, atau janji kepada galeri yang berbeda.

Berhadapan dengan banyak permintaan membuatnya merasa tidak dapat berkata apa adanya. Ia harus memberikan alasan, menunda jawaban, berbohong kepada sejumlah pihak.

“Entah kenapa kalau dengar telepon saya menjadi fobia. Karena kita tidak jujur,” tuturnya.

Tidak ingin dibatasi kemerdekaan dalam berkarya

Dering telepon, bagi Nasirun, akhirnya bukan lagi sekadar alat komunikasi. Telepon berubah menjadi pengingat tentang tuntutan pasar dan janji-janji yang dapat membatasi kemerdekaannya sebagai pelukis.

Dari pengalaman itulah Nasirun memilih tidak menggunakan HP.

Nasirun mengenang sebuah percakapan dengan Fadjar Sidik sekitar dua minggu sebelum pelukis senior tersebut meninggal dunia pada tahun 2004. Dalam percakapan itu, Fadjar mengingatkan bahwa para pendahulu seni layak dikenang bukan hanya karena kemasyhuran, tetapi juga karena kemanusiaannya.

Fadjar Sidik turut meminta Nasirun berhati-hati apabila menerima kontrak dari galeri. Kontrak dapat membantu kehidupan seorang pelukis, tetapi juga berpotensi membatasi kebebasannya.

Pesan tersebut terus dipegang Nasirun. Ia tidak ingin seluruh perjalanan keseniannya ditentukan oleh kontrak, galeri, harga, dan kepentingan kolektor.

Keengganan menggunakan HP tidak membuat Nasirun sepenuhnya menolak perkembangan teknologi. Dalam wawancara tersebut, Puthut bertanya mengenai godaan terbesar yang dirasakan Nasirun setelah mempunyai kekayaan dan kemasyhuran.

Jawaban Nasirun di luar dugaan.

“Saya ingin bermain TikTok,” katanya tertawa terbahak.

Nasirun: opo gunane berkesenian tapi nggak ada gunanya

Nasirun bahkan mengatakan ingin tetap mempunyai kebebasan mengadakan pameran kecil di lingkungan RT atau di lapangan sepak bola. Baginya, seni tidak semestinya hanya hadir di galeri besar dan dinikmati kalangan yang mempunyai kemampuan membeli karya mahal.

Pak Khocil membenarkan prinsip Nasirun tersebut. “Meski seorang maestro, ia tidak pernah keberatan untuk datang di pameran perupa muda. Bahkan untuk membuka pameran seniman lain yang belum terkenal, ia mau,” kata Khocil.

Menutup perbincangan dengan Puthut Ea di PutCast Mojok, Nasirun menekankan akan proses berkesenian yang tengah ia jalankan. Ia menyatakan berkesenian itu harus ada manfaatnya bagi orang lain. “Opo gunane kalau kita berkesenian, kalau nggak ada gunanya,” ujarnya.

Selamat jalan Maestro. Karyamu abadi.

Tonton obrolan Kepala Suku Mojok dengan Nasirun di Menertawakan Hidup Ala Maestro Nasirun

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nasirun, Santrinya, dan Lukisan-lukisan yang Pulang

 

Terakhir diperbarui pada 1 Agustus 2026 oleh

Tags: lukisanNasirunperupaSeni rupa
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Biennale Jogja 18 Mojok.co
Ragam

Blusukan di Biennale Jogja, Sensasi Menikmati Karya Seni di Desa

11 November 2025
Jogja Disability Arts (JDA) upayakan pameran seni rupa ramah tunanetra MOJOK.CO
Seni

Merancang Pameran Seni Rupa agar Dinikmati Tunanetra, Mereka Memang Tak Melihat tapi Bisa Mendengar

21 Agustus 2025
Kurator Suwarno Wisetrotomo Melarang Pemasangan Lukisan Yos Suprapto di Pameran Galeri Nasional Indonesia. MOJOK.CO
Kabar

Kurator Suwarno: Saya Nggak Mau Pasang Lukisan Yos Suprapto di Galeri Nasional Indonesia, Bukan Soal Takut atau Tidak Takut

24 Desember 2024
Ragam

Rekaman Kekerasan dalam Patung-patung Dolorosa Sinaga

30 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kesehatan mental dan stigma odgj mojok.co

Indonesia Darurat Depresi pada Remaja: Jangan Pernah Takut Mencari Bantuan Masalah Kesehatan Mental

31 Juli 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

29 Juli 2026
Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang MOJOK.CO

Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang

27 Juli 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.