NASIRUN, sosok seniman yang bukan sekadar dikenal karena karyanya, tapi juga kebaikannya pada seniman-seniman lain.
Saya lupa persisnya kapan bertemu dengan Nasirun, yang jelas dalam sebuah pameran lukisan. Kalau nggak salah saat saya masih bekerja di sebuah galeri lukisan di bilangan Prawirotaman di tahun 2000-an. Dia datang sebagai undangan.
Pertemuan berikutnya masih dalam sebuah pameran, hanya saja saya sebagai wartawan. Dalam sebuah kesempatan, saya mengenalkan diri sebagai orang Cilacap, sama dengan dirinya. Biasanya, obrolan selanjutnya lebih banyak dengan bahasa “ngapak”.
Saya banyak tahu tentang Nasirun dari senior saya di tempat kerja, Khocil Birawa, wartawan sekaligus seniman panggung yang cukup dekat dengan Nasirun. Pak Khocil, begitu ia disapa banyak bercerita tentang keunikan seniman ini. Sosok maestro seni rupa yang nggak berjarak dengan siapa saja.
Sudah jadi rahasia umum kalau sosoknya enteng tangan membantu seniman lainnya. Terutama seniman-seniman sepuh. Salah satu caranya adalah dengan memberi kanvas dan alat lukis kepada seniman yang sedang membutuhkan. Lukisan itu lantas ia jual atau beli sendiri.
“Nanti hasil penjualan dalam bentuk uang cash sebesar 50 persen diberikan ke seniman, sisanya ia belikan sembako untuk seniman itu, jadi tidak dikasih semuanya,“ kata Khocil saat saya menghubungi, Sabtu (1/7/2026).
Sebagai seniman panggung, Pak Khocil mengaku sering dibantu. Rencananya bahkan grup keroncong “Sapenake” yang ia pimpin akan diundang di acara pameran Nasirun dan Dunadi yang saat ini sedang berlangsung di Pendapa Artspace. Pemeran berjudul “Arundhati” tersebut berlangsung 20 Juni – 20 Agustus 2026.
“Dia minta saya dan keroncong Sapenake tampil di tanggal 8 Agustus karena akan ada acara di studionya,” kata Pak Khocil.
Alasan Nasirun tidak mau punya HP
Menurut Pak Khocil, salah satu keunikan Nasirun adalah tidak memegang handphone. Soal itu dalam obrolan di PutCast Mojok, berjudul “Menertawakan Hidup ala Maestro Nasirun”. Perupa lulusan ASRI Yogyakarta menceritakan alasan tak mau menggunakan handphone.
Pilihan itu bukan semata-mata karena Nasirun tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi. Ada pengalaman tidak menyenangkan di balik keengganannya memegang HP: dering telepon pernah membuatnya merasa kehilangan kebebasan dan tidak jujur sebagai seniman.
Dalam obrolan itu, Puthut menyinggung sejumlah keunikan Nasirun. Selain tidak bisa menyetir mobil, pelukis kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965, tersebut dikenal tidak menggunakan HP. Bahkan untuk mengirim uang, ia masih mengandalkan bantuan keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Puthut kemudian bertanya apakah sikap tersebut sengaja dipertahankan sebagai citra seorang seniman atau karena Nasirun memang tidak mau direpotkan oleh teknologi.
“Sebenarnya ia ingin bisa menggunakan perangkat tersebut. Namun, setiap kali keinginan itu muncul, saya teringat pesan salah seorang guru saya, pelukis senior Fadjar Sidik,” katanya.
Julukan seniman gorengan
Keengganan Nasirun menggunakan HP berhubungan dengan masa ketika karyanya sedang diburu pasar. Namanya mencuat pada 1997 setelah lukisan-lukisannya habis terjual bahkan sebelum sebuah pameran di Jakarta resmi dibuka.
Harga karya Nasirun kemudian melonjak. Lukisan yang sebelumnya berada pada kisaran Rp3 juta naik menjadi sekitar Rp17 juta. Karya berukuran besar bahkan mencapai Rp27 juta.
Lonjakan tersebut membuatnya memperoleh julukan “seniman gorengan”. Istilah itu disematkan kepada seniman yang harga karyanya dianggap naik secara cepat karena permainan atau dorongan pasar.
Booming karya Nasirun berlangsung hingga sekitar awal tahun 2000-an. Pesanan berdatangan. Kanvas baru disiapkan, bahkan lukisan belum selesai dibuat, tetapi calon pembeli sudah mengantre melalui sistem inden.
Pada periode itulah berbagai galeri menawarkan kontrak kepadanya.
Nasirun mengaku pernah menerima sekitar enam tawaran kontrak dari galeri yang berasal dari Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Hong Kong. Kontrak tersebut berpotensi membatasi kebebasannya dalam menjual karya maupun mengikuti pameran.
Seorang seniman yang terikat kontrak eksklusif tidak dapat dengan mudah menyerahkan karya kepada galeri lain. Ia juga harus berhati-hati menerima undangan pameran karena galeri dapat menentukan tempat, tingkat, dan wilayah pameran yang diperbolehkan.
Nasirun tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Setiap kali telepon berdering, ia harus menjawab pertanyaan mengenai pesanan, pekerjaan, atau janji kepada galeri yang berbeda.
Berhadapan dengan banyak permintaan membuatnya merasa tidak dapat berkata apa adanya. Ia harus memberikan alasan, menunda jawaban, berbohong kepada sejumlah pihak.
“Entah kenapa kalau dengar telepon saya menjadi fobia. Karena kita tidak jujur,” tuturnya.
Tidak ingin dibatasi kemerdekaan dalam berkarya
Dering telepon, bagi Nasirun, akhirnya bukan lagi sekadar alat komunikasi. Telepon berubah menjadi pengingat tentang tuntutan pasar dan janji-janji yang dapat membatasi kemerdekaannya sebagai pelukis.
Dari pengalaman itulah Nasirun memilih tidak menggunakan HP.
Nasirun mengenang sebuah percakapan dengan Fadjar Sidik sekitar dua minggu sebelum pelukis senior tersebut meninggal dunia pada tahun 2004. Dalam percakapan itu, Fadjar mengingatkan bahwa para pendahulu seni layak dikenang bukan hanya karena kemasyhuran, tetapi juga karena kemanusiaannya.
Fadjar Sidik turut meminta Nasirun berhati-hati apabila menerima kontrak dari galeri. Kontrak dapat membantu kehidupan seorang pelukis, tetapi juga berpotensi membatasi kebebasannya.
Pesan tersebut terus dipegang Nasirun. Ia tidak ingin seluruh perjalanan keseniannya ditentukan oleh kontrak, galeri, harga, dan kepentingan kolektor.
Keengganan menggunakan HP tidak membuat Nasirun sepenuhnya menolak perkembangan teknologi. Dalam wawancara tersebut, Puthut bertanya mengenai godaan terbesar yang dirasakan Nasirun setelah mempunyai kekayaan dan kemasyhuran.
Jawaban Nasirun di luar dugaan.
“Saya ingin bermain TikTok,” katanya tertawa terbahak.
Nasirun: opo gunane berkesenian tapi nggak ada gunanya
Nasirun bahkan mengatakan ingin tetap mempunyai kebebasan mengadakan pameran kecil di lingkungan RT atau di lapangan sepak bola. Baginya, seni tidak semestinya hanya hadir di galeri besar dan dinikmati kalangan yang mempunyai kemampuan membeli karya mahal.
Pak Khocil membenarkan prinsip Nasirun tersebut. “Meski seorang maestro, ia tidak pernah keberatan untuk datang di pameran perupa muda. Bahkan untuk membuka pameran seniman lain yang belum terkenal, ia mau,” kata Khocil.
Menutup perbincangan dengan Puthut Ea di PutCast Mojok, Nasirun menekankan akan proses berkesenian yang tengah ia jalankan. Ia menyatakan berkesenian itu harus ada manfaatnya bagi orang lain. “Opo gunane kalau kita berkesenian, kalau nggak ada gunanya,” ujarnya.
Selamat jalan Maestro. Karyamu abadi.
Tonton obrolan Kepala Suku Mojok dengan Nasirun di Menertawakan Hidup Ala Maestro Nasirun
Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Nasirun, Santrinya, dan Lukisan-lukisan yang Pulang













