Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Ilustrasi - Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Setelah bersinggungan dengan peradaban kota nan modern, orang tua kalangan Gen Z merasa bahwa parenting ala orang tua di desa ternyata cenderung tidak sehat bagi perkembangan anak. Kok bisa begitu?

***

Dalam persoalan tata krama, parenting orang tua di desa memang tidak diragukan. Akan tetapi, dalam persoalan kesehatan dan tumbuh kembang motorik si anak, ada beberapa hal yang memang membedakan dengan parenting ala orang tua modern yang sudah bersinggungan dengan budaya kota. 

Di sejumlah desa di Rembang—-tidak terkecuali di desa saya—kepercayaan terhadap mitos-mitos tertentu masih sangat kuat. Jelas tidak sejalan dengan alam pikir Gen Z. 

Di antara mitos tersebut adalah: larangan untuk keluar desa, entah untuk sekadar cari angin atau main-main. Patokan kapan bayi boleh diajak keluar-keluar adalah ketika dianggap “sudah besar” yang ukurannya sangat relatif. 

Tidak heran jika akhirnya para Gen Z yang mendapat jodoh luar Rembang, apalagi di daerah yang cenderung “lebih kota” dari Rembang, maka mereka akan lebih memilih tinggal di kota saja, menjauh dari desa asalnya di Rembang. 

Parenting ala orang tua desa: banyak larangan hambat tumbuh kembang

Akibat dari larangan untuk keluar-keluar tersebut, interaksi anak dengan dunia luar semakin terbatas. Akibatnya, saya menjumpai sejumlah kasus ketika tumbuh kembang anak terbatas karena tidak punya pemicu untuk perkembangan sensorik dan motoriknya. 

Bahkan di rumah pun terlalu banyak larangan. Misalnya, mau menyentuh dedaunan, rerumputan, pasir atau tanah, tapi dilarang karena takut gatal. 

Padahal telapak tangan dan kaki anak memiliki jutaan saraf sensorik. Menyentuh berbagai tekstur alam (kasar, halus, basah, kering) merangsang otak untuk mengenali lingkungan.

Contoh konkretnya: beberapa waktu lalu, suatu pagi saya hendak mengajak anak saya—bayi usia 6 bulan—bermain di pantai. Beberapa orang tua menentang karena konon nanti anak saya bisa sawan.

Padahal mengajak bayi ke pantai sangat baik untuk menstimulasi perkembangan sensorik (melalui tekstur pasir dan air) serta melatih motorik kasar dan halus. 

Bayi harus anteng

Keresahan serupa juga diutarakan oleh Medina (25), ibu Gen Z asal Rembang, yang memilih melahirkan dan merawat bayinya di rumah suami di Semarang. 

Di desa Medina, bayi diharuskan anteng-teng. Bayi anteng dianggap anak baik. Sementara yang aktif dianggap “polahe ora umum” (dengan konotasi negatif). 

“Padahal semakin aktif si bayi, berarti dia sehat, begitu kata dokterku,” ujarnya. 

Sekira beberapa waktu lalu, orang tua dan saudara-saudara Medina berkunjung ke rumah suami Medina, ingin menengok bayi Medina yang menginjak 5 bulan. Masa ketika si bayi sedang gemar-gemarnya memasukkan jemari ke dalam mulut

Ketika mendapati bayi Medina memasukkan jemari ke mulut, saudara Medina asal desa langsung menarik tangannya dan menegur Medina. Katanya, kok ya dibiarkan. 

“Sementara itu kan fase oral bayi, normal. Asal dalam pantauan orang tua saja. Alasan orang tua di desa nggak membolehkan (jemari masuk tangan) karena takut keloloden. Niatnya baik, tapi justru menghambat eksplorasi bayi,” beber Medina. 

Parenting ala orang tua desa masa kini: habit sejak kecil bikin anak kecanduan hp

Karena anggapan “bayi baik adalah bayi yang anteng”, di masa kini tidak heran jika orang tua desa mencoba mencari cara cepat untuk menenangkan bayinya yang rewel. 

“Entah kenapa, bayi nangis kalau di desaku iku kayak dianggap nggak wajar gitu. Nangis bayi itu kan wajar, karena itu cara komunikasinya. Kalau di kota (Semarang) nangis ya ditenangkan dengan cara biasa saja, nggak panik, kalau di desa sudah panik dulu,” beber Medina. 

Karena panik lah, akhirnya ada kepercayaan bahwa bayi yang suka nangis bisa jadi diganggu oleh makhluk halus alis sawan. Padahal bisa jadi karena si bayi sedang overstimulus, gerah, atau sedang tidak nyaman dengan situasi sekitar. 

Kalau sudah muncul kepanikan seperti itu, orang tua di desa bisa langsung memanggil dukun bayi untuk nyuwuk atau memberi doa-doa agar si bayi tidak nangis lagi. 

“Kalau sekarang, sejak kecil itu kalau nangis kejer langsung dikasih hp. Malah lebih bahaya seperti saudaraku. Anaknya sekarang kecanduan hp banget, karena kebiasaan kalau nangis dikasih hp, sekarang kebalik: nangisnya karena pengin lihat hp,” ujar Medina. “Jadi kecanduan hp.”

Cium sana-sini tanpa tahu konsekuensi

Sementara yang Zizah (23) resahkan adalah perkara cium-mencium. 

Zizah memang masih tinggal di desanya di Rembang, karena pasangannya sama-sama orang Rembang sendiri. Hanya saja, sebagai orang tua Gen Z, Zizah sudah terliterasi dengan parenting modern. 

Di antara yang Zizah garis bawahi adalah: jangan anggap sepele perkara asal cium ke bayi, khususnya di area seperti pipi, bibir, hingga hidung. Karena dari situlah penyakit bisa menular.

“Tapi susah banget ngasih tahu orang desa. Orang kalau lihat bayi bawaannya pengin nyium. Asal nyicum saja,” keluh Zizah. Bayinya sempat tertular flu usai dicium oleh saudara yang memang sedang flu. 

Yang lebih Zizah khawatirkan adalah ketika ada perokok yang mencium sembarangan. Persis setelah rokok, tanpa cuci tangan atau kumur-kumur, langsung pegang bayi dan mencium bayinya. Tanpa ganti baju tapi langsung menggendong. Bikin geregetan. 

“Susah dikasih tahu. Kalau ditegur, jawabnya: alah udah nggak rokok kok. Atau: alah, sedikit aja kok,” gerutu Zizah. 

Sementara jika ia membatasi interaksi ciuman secara sembarangan, banyak orang justru menganggap Zizah terlalu sombong. Padahal aturan Zizah tersebut tidak lain demi kesehatan si bayi. Benar-benar rumit sekali untuk mengedukasi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version