Halaman rumah saya di desa tidak cukup luas. Itu lah kenapa selama ini saya kerap membayangkan: Sepertinya enak jika punya halaman luas sebagai halaman rumah teman atau saudara di desa.
Ingatan saya terlempar ke masa kecil. Dulu, jika ingin main bola, selain di sawah bekas panen atau lapangan, kami menggunakan halaman rumah salah satu teman sebagai alternatif.
Hanya saja, seringkali jika mood ibu teman saya sedang tidak baik, maka ia akan marah betul dan mengusir kami. Bahkan, di titik tertentu, bola plastik kami pernah disobek dengan pisau.
Saya pernah kesal: Pelit amat, cuma menggunakan untuk main bola saja dimarahi. Namun, kini, setelah mendengar pengakuan beberapa orang desa yang punya rumah dengan halaman luas, saya akhirnya tahu ternyata halaman luas kerap kali disalahpahami oleh orang lain. Dan itu amat merepotkan sekali.
Kasus saya kecil di atas adalah salah satu contoh: Bagaimana kami—anak-anak desa—menyalahpahami halaman luas rumah orang sebagai ruang terbuka yang bisa diakses sesuka-suka. Begitu lah yang terjadi di desa, terutama berdasarkan keluhan dari tiga orang (laki-laki usia 24 dan 30, serta ibu-ibu umur 40 tahun) asal Rembang, Jawa Tengah.
Menyapu halaman: perkara biasa saja tapi bisa jadi runyam
Menyapu halaman sebenarnya perkara biasa saja. Bahwa akan lebih capek karena terlalu luas, ya itu bagian dari konsekuensi punya rumah dengan halaman luas. Akan tetapi, di desa, persoalan ini bisa menjadi runyam karena sering kali harus berurusan dengan tetangga tidak tahu diri.
Begini: Saat tetangga melepas ayam peliharaannya, ayam-ayam itu kemudian berseliweran di halaman rumah orang lain. Masalahnya, ayam-ayam itu meninggalkan tahi-tahi yang berceceran.
Kondisi tersebut tentu sangat menyebalkan. Sebab, itu artinya memberi tambahan pekerjaan bagi si pemilik rumah saat sedang membersihkannya.
Masalahnya lagi, saat si pemilik rumah protes ke tetangga pemilik ayam, jawabannya alih-alih melegakan dan penuh introspeksi tapi justru memancing emosi.
“Namanya juga ayam, kalau nelek (berak) ya sembarangan. Wong nggak punya akal kayak manusia.”
Jawaban macam apa itu. Iya, memang ayam tidak punya akal. Tapi kan pemiliknya punya. Maka jika tahi-tahi ayam itu sudah mengganggu kenyamanan orang lain, pemiliknya harusnya berpikir untuk mengandangi atau melokalisir gerak si ayam agar hanya di halama rumahnya saja, agar tidak nahi di halaman orang lain.
Rumah dengan halaman luas di desa: tempat numpang apa saja
Rumah dengan halaman luas di desa juga kerap disalahpahami sebagai tempat terbuka yang bisa diakses oleh siapa saja. Akhirnya halaman tersebut kerap difungsikan sebagai tempat nitip.
Tetangga bisa saja titip menjemur hasil panen/kebun (jagung, ketela, padi, dan lain-lain) di halaman rumah tetangga yang memang luas.
Selain itu, luas kerap diartikan sebagai tempat parkir. Diartikan lagi sebagai tempat parkir gratis atas nama nilai sosial.
Yang paling merepotkan adalah ketika tetangga punya hajatan. Karena tidak punya halaman luas, akhirnya meminjam halaman luas rumah orang lain untuk menggelar hajatan. Hal itu membuat si pemilik rumah dengan halaman luas di desa akhirnya tidak punya privasi.
Lebih-lebih, hajatan di desa seringkali berupa pesta besar lebih dari sehari. Selain tamu yang datang silih berganti, gangguan privasi muncul dari sound system yang memutar musik dangdut kencang-kencang sampai membuat jendela rumah bergetar dan memekakkan telinga.
Sialnya, atas nama kehidupan bertetangga ala desa, si pemilik rumah yang halamannya dipinjam tidak akan bisa terus terang protes atau menolak dipinjam. Hanya bisa ngedumel sendiri dan memendam dalam hati.
Urusan tanam-menanam di halaman: susah menikmati hasilnya
3 responden Mojok asal Rembang ini bercerita, mereka sebenarnya punya kesadaran untuk memfungsikan halaman rumah yang luas itu sebagai lahan produktif: untuk urusan tanam-menanam.
Ya minimal bisa lah untuk menanam cabai-cabaian atau jenis sayuran lain yang bisa diolah di dapur. Bahkan juga untuk sekadar menanam bunga-bunga atau tanaman hias guna menambah estetika halaman rumah.
Akan tetapi, bagi 3 responden Mojok, jangan harap bisa tenang. Pertama, tanaman-tanaman tersebut berpotensi dirusak oleh ayam-ayam tetangga. Sementara jika marah, respons tetangga hanya akan mentok pada argumen “Namanya juga ayam.”
Kedua, jika toh akhirnya ada tanaman—terutama sayuran—yang tumbuh, pasti ada saja tetangga yang salah paham: Menganggapnya sebagai sayuran gratis yang bisa diminta kapan saja.
Bahkan ada pula yang dengan enteng “memanen” tanpa izin dengan dalih: Namanya juga hidup bertetangga. Dengan kata lain: Menganggap hidup bertetangga sama artinya dengan: Milik tetanggamu adalah milikku juga, bisa kupetik suka-suka.
Rumah dengan halaman luas di desa: sumber konflik keluarga
Tidak hanya memancing konflik sosial dengan tetangga sebagaimana kasus-kasus di atas, rumah dengan halaman luas di desa juga bisa memicu konflik keluarga loh.
Misalnya yang punya rumah dengan halaman luas tersebut adalah orang tua, maka anak-anaknya akan memasukkannya dalam daftar harta yang patut direbutkan.
Sebab, melihat halaman yang masih terhampar kosong, pikiran anak-anaknya adalah bagaimana agar hamparan tanah kosong tersebut bisa jatuh di tangan mereka untuk kemudian dijadikan rumah. Yang terjadi berikutnya adalah saling sikut antarsaudara.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
