Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Rebahan di Karpet Masjid: Sepele tapi Beri Kedamaian Batin dari Dunia yang Penuh Standar, Tuntutan, dan Mengasingkan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 November 2025
A A
Menemukan kedamaian batin dari rebahan karpet masjid MOJOK.CO

Ilustrasi - Menemukan kedamaian batin dari rebahan di karpet masjid. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kala jidat dan telapak tangan menyentuh karpet masjid, ada rasa lembut yang menyenangkan. Lalu seperti ada energi damai yang tiba-tiba terserap dalam pikiran dan batin. Energi damai itu bertambah besar setelah salat selesai ditunaikan: Ketika rebahan dan merasakan kelembutan dari karpet yang tergelar di dalam masjid. Kira-kira begitu yang dirasakan banyak orang ketika singgah di sebuah masjid saat dalam perjalanan atau di perantauan.

***

“Rebahan di karpet masjid ternyata bisa jadi healing terbaik.”

“Kok bisa ya, masjid orang (di perjalanan atau perantauan) terasa begitu menenangkan.” Begitu suara-suara yang belakangan riuh di lini masa media sosial saya.

Sebenarnya sudah sejak lama saya merasa begitu. Saat singgah di sebuah masjid dalam suatu perjalanan, ada sensasi sejuk dan damai dalam hati. Itu membuat saya kerap berlama-lama duduk bersila atau menyelonjorkan kaki di karpet masjid yang berbulu lembut.

Tiba-tiba rasa lelah hilang. Tiba-tiba saja lebih siap melanjutkan perjalanan dan hidup dengan segala ketidakpastiannya. Ternyata banyak orang yang merasa serupa.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Abdul Majid (@simajidun)

Seperti masuk ke dimensi lain

Misalnya yang diungkapkan oleh Muammar (26), pemuda asal Madiun, Jawa Timur.

Sensasi semacam itu sudah ia rasakan sejak masa kuliah dulu. Jika sedang pulang ke Madiun yang berjarak sekitar 4 jam dari Surabaya, ia biasanya akan berhenti di masjid-masjid yang ia temui di jalan.

Awalnya memang hanya sekadar untuk menunaikan salat lima waktu. Namun, kadang dia bisa lebih lama berhenti di masjid karena seperti tak ingin lepas dari kedamaian tersebut.

“Sekarang pun masih. Kalau perjalanan jauh, entah kenapa singgah di masjid itu bikin recharge banyak hal. Recharge energi fisik dan batin,” ungkapnya, Selasa (11/11/2025).

Iklan
Menemukan kedamaian batin dari karpet masjid MOJOK.CO
Ilustrasi – Menemukan kedamaian batin dari rebahan di karpet masjid. (Alim/Unsplash)

Lelah itu sebenarnya masih terasa menimpa punggungnya saat di tempat wudlu. Namun, saat kaki melangkah ke dalam masjid, dia seperti tersedot di dimensi lain. Dimensi yang berbeda sama sekali dari dunia luar.

“Hiruk-pikuk dunia di luar masjid penuh tekanan, bikin stres dan overthinking. Misalnya, beban kerja yang nggak sebanding dengan gaji. Bertemu dengan orang-orang licik, dan kekecewaan-kecewaan duniawi lain,” kata Muammar.

Dunia di luar masjid, kata Muammar, dipenuhi standar-standar duniawi yang membuatnya acap merasa terasing dan teralienasi. Sementara di dalam masjid, orang-orang hanya fokus pada satu hal: Menghadap pencipta-Nya.

Masjid dan kontemplasi

Hakikat masjid seharusnya memang menenangkan dan memberi energi damai. Baik masjid yang dijumpai di perjalanan atau perantauan maupun yang dekat di lingkungan sendiri. Persis seperti yang diungkapkan Azzahra Kamila Cahyani Masdar dkk dalam jurnal “Masjid Sebagai Ruang Kontemplasi: Menemukan Kedamaian di Tengah Kesibukan.”

Membaca jurnal tersebut, rasa-rasanya wajar jika sekarang banyak orang merasa isi kepalanya yang penuh dan jagat batinnya yang sumpek bisa terurai pelan-pelan ketika sekadar berdiam diri di masjid.

Kehidupan modern memaksa orang-orang menjadi amat sibuk dangan capaian-capaian tertentu. Membuat mereka terasing dan tersisih kala tak bisa mengikuti ritme hidup yang serba cepat. Sehingga mereka butuh katarsis dan ruang yang memberi mereka titik untuk menemukan makna hidup kembali.

Menemukan kedamaian batin dari karpet masjid MOJOK.CO
Ilustrasi – Menemukan kedamaian batin dari rebahan di karpet masjid. (Abu Mikayla/Unsplash)

“Sebagai ruang kontemplasi, masjid memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang melelahkan, duduk diam, dan merenungkan makna hidup mereka,” tulis Azzahra dkk.

“Kontemplasi di tempat ibadah seperti masjid dapat menurunkan tingkat stres secara signifikan. Dengan suasana yang hening dan penuh kekhidmatan, jamaah dapat fokus pada doa dan zikir, yang pada gilirannya membawa ketenangan batin,” sambungnya merujuk penelitian Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI).

Terlebih, masjid memungkinkan adanya pertukaran energi positif antar-jemaah. Obrolan dengan sesama jemaah, meski tidak mengenal satu sama lain, sering kali memberi banyak instight. Mungkin hanya insight sederhana, tapi siapa tahu justru itu menjadi nilai bermakna bagi seseorang.

Energi spiritual memberi energi hidup

Energi spiritual itu bisa memberi suntikan energi hidup, loh. Sementara begitu yang diungkapkan Lobna Cherif dkk dalam jurnal “Character Stengths and Inner Peace”.

Kata Lobna, spiritualitas menjadi salah satu faktor manusia untuk menemukan inner peace (kedamaian diri). Sebab, spiritualitas membuat seseorang memiliki keyakinan kuat pada makna atau tujuan hidup yang lebih tinggi.

Dalam konteks masjid sebagai salah satu pusat spiritual (khususnya bagi umat Islam), seperti juga dipaparkan Azzahra, orang akan sadar kalau hidup akan terasa tidak bermakna, sumpek terus, karena orang tidak menyadari hakikat dirinya sendiri.

Masjid mengingatkan bahwa dunia bukan akhir. Melainkan tidak lebih dari sebatas tempat singgah. Ada tujuan puncak bernama “Ilahi”. Dari situ, akan muncul penerimaan-penerimaan diri.

Tapi kok masjid sering dikunci?

Ya. Bertahun-tahun isu ini menjadi keresahan publik. Jika masjid adalah pusat spiritual, kenapa banyak masjid yang hanya dibuka ketika waktu salat saja? Sisanya selalu terkunci rapat. Malah ikut mengasingkan orang-orang yang sedang mencari kedamaian batin. Rasa-rasanya para pengurus masjid yang masih menerapkan manajemen semacam itu perlu melakukan refleksi.

Untungnya, belakangan banyak tumbuh masjid-masjid dengan konsep “pelayan umat” atau “pelayan tamu Allah”. Karena jika masjid dibahasakan sebagai “rumah Allah”, maka yang datang adalah tamu-Nya. Dengan begitu, para takmir atau pengurus masjid adalah “pelayan tamu Allah”. Misalnya yang pakai konsep itu adalah Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi Jawa Barat.

Menyenangkan sekali jika melihat masjid yang dikelola oleh para pemuda itu. Para musafir diberi ruang untuk istirahat (sekadar rebahan atau tiduran) di dalam masjid. Kalau ada jemaah yang tampak keleleran di teras, malah dipersilakan istirahat di dalam, dikasih banta. pula. Masih diajak makan dan ngopi gratis pula.

Masjid Sejuta Pemuda juga terbuka untuk siapa pun. Anak-anak kecil yang kerap dianggap sebagai perusuh hinggga kelompok-kelompok yang dimarjinalkan dari lingkungan sosial juga diterima.

“Selama itu tidak melanggar syariat, dikerjakan di luar waktu salat, sah-sah saja untuk melayani tamu Allah. Yang tidur (khusunya di Sejuta Pemuda) itu mereka bukan di jam salat, tapi saat trefik orang salat sedang rendah (misalnya jam delapan malam ke atas,” terang Ustaz Anggy dalam podcast di kanal YouTube Kasisolusi.

“Silakan nginep. Tapi wajib ikut salat, wajib ikut ngaji,” sambungnya. Prinsipsnya, orang akan merasa nyaman lebih dulu di masjid. Lalu mereka lambat-laun juga akan semakin tekun dalam beribadah.

Toh tidak ada ajaran Nabi Muhammad yang melarang seseorang tidur di masjid. Sejak zaman Nabi dulu sudah ada ahlu al-shuffah (mereka yang tidur di serambi-serambi masjid). Prinsipnya, mereka tidak melakukan maksiat, mengotori masjid, dan tentu mengikuti salat berjemaah.

Kata Ustaz Anggi, setidaknya ada empat pilar yang dibangun di Masjid Sejuta Pemuda, dan semestinya dibangun di masjid-masjid lain:

  1. Pilar Baitullah: Memfungsikan masjid sebagai tempat ibadah.
  2. Baitul Qur’an (pilar pendidikan): Masjid memiliki aktivitas pendidikan
  3. Baitul Amal (pilar kepedulian): Masjid harus menjadi jembatan amal saleh orang baik ke orang membutuhkan
  4. Pilar Muamalah (pilar kemandirian): Masjid harus memberdayakan umat.

Rasa-rasanya memang akan lebih baik jika umat Islam (khususnya) mencari kedamaian di masjid ketimbang lari ke hal-hal yang jauh dari syariat, bukan? Sehingga penting juga ketika masjid sengaja didesain dengan manajemen dan fasilitas untuk memanjakan umat. Lantas, mau sampai kapan mengunci masjid dan mengusir orang yang sekadar rebahan di dalam rumah Allah itu?

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mengupas Misi Masjid Deresan Sleman yang Suka Borong Sayur dari Petani, Punya Banyak Gebrakan yang Layak Ditiru Masjid Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 12 November 2025 oleh

Tags: hukum tidur di masjidkarpet masjidMasjidmasjid 24 jammasjid sejuta pemudamasjid ternyamanmasjid untuk musafirpilihan redaksirebahan di masjidtidur di masjid
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

blok m jakarta selatan.mojok.co
Urban

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO
Catatan

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
bencana.MOJOK.CO
Jagat

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

karet tengsin, jakarta. MOJOK.CO

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis MOJOK.CO

Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis

31 Januari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar.MOJOK.CO

Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

30 Januari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.