Bagi para perantau di kota, membangun rumah megah di kampung halaman memang membanggakan. Paling tidak, bisa memenuhi standard kesuksesan di desa. Namun, bagi narasumber Mojok, langkah ini malah bikin ibu kesepian dan menderita.
***
Sebagai orang yang lahir, tumbuh, dan besar di Wonogiri, saya hafal betul ritme kehidupan dan standard sosial di sini. Wonogiri, sama seperti kota tetangga, Pacitan atau Gunungkidul, adalah gudangnya kaum perantau.
Setiap tahun, ribuan pemuda desa berangkat ke kota besar dengan satu tujuan: mengubah nasib.
Menderita di perantauan, jadi kebanggan di desa
Kalau kita melihat kehidupan para perantau ini di kota, sebenarnya gaya hidup mereka sangat standard, biasa-biasa saja. Ada yang sudah sukses, yang masih struggle pun banyak. Tak jarang teman-teman perantau di kota chat meminjam uang karena di hari itu ia kesusahan buat makan.
Di kota, kehidupan mereka terlihat “kasihan”. Tinggal di kos sederhana, makan di warung murah, kendaraan pun tak mewah-mewah amat. Paling mentok Yamaha NMAX atau Honda PCX, yang dianggap sebagai motor standard kesuksesan di desa.
Pendeknya, hidup mereka realistis, sesuai “porsi” pekerja kelas menengah.
Namun, semua stigma “kasihan” itu akan langsung lenyap ketika kita melihat aset yang mereka bangun di kampung halaman.
Di desa-desa kantong perantau ini, ada sebuah aturan main tidak tertulis yang sudah mendarah daging. Kesuksesan seorang pemuda tidak diukur dari apa jabatan di kota. Tolok ukur mutlak kesuksesan seorang perantau adalah seberapa besar, megah, dan mentereng rumah yang bisa ia bangun di tanah kelahirannya.
Rumah megah ala sinetron SCTV di tengah desa
Karena tuntutan standard kesuksesan itulah, bentuk fisik rumah yang dibangun para perantau seringkali terlihat memaksakan diri.
Alih-alih merenovasi rumah menjadi lebih nyaman, mereka lebih suka membawa gaya rumah cluster pinggiran Jakarta atau rumah gedongan ala sinetron di televisi langsung ke tengah desa.
Desainnya seragam. Bangunannya megah, kadang berlantai dua, menggunakan jendela kaca besar. Umumnya beratap datar.
Di kota besar dengan tata letak yang padat, desain seperti ini mungkin terlihat modern dan elegan. Namun, saat dibangun di tengah desa yang dikelilingi hamparan sawah dan ladang, desain ini sebenarnya nggak banget.
Saya melihat tren ini dengan mata kepala saya sendiri setiap kali pulang ke desa. Satu per satu rumah tradisional berbentuk limasan atau joglo yang berbahan kayu dibongkar habis. Padahal, kalau kita membaca banyak literatur, rumah tradisional itu dirancang dengan sirkulasi udara yang sangat baik dan sejuk.
Sebagai gantinya, berdirilah rumah berdinding bata dan beton. Yang, kalau tak dipasang AC, kadang malah bikin gerah.
Namun, semua ketidaknyamanan itu rela dikorbankan. Sebab, rumah-rumah megah ini menjadi standard kesuksesan yang paling cepat diakui. Semakin mirip dengan rumah orang kaya di sinetron SCTV, semakin puas mata tetangga yang melihatnya.
Bikin rumah megah di desa demi memuaskan ego tetangga
Dulu, saya mengira teman-teman perantau yang berhasil membangun rumah gedongan ini hidupnya sangat bahagia di kota. Sampai saat masa libur Lebaran lalu, saya ngopi dengan Wahyu (28), salah satu teman akrab semasa SMA.
Wahyu sekarang bekerja sebagai staf di kawasan industri Cikarang. Saat mudik, ia membawa motor NMAX kebanggaannya. Di desa, ia baru saja selesai membangun rumah dua lantai senilai ratusan juta rupiah.
Namun, saat nongkrong malam itu, Wahyu curhat. Dia mengaku rumah megah itu awalnya murni dibangun karena dorongan gengsi.
Di desa kami, pangkat atau gaji besar di kota tidak ada artinya kalau rumah orang tua di kampung masih berdinding papan. Namun, setelah rumah itu berdiri megah, Wahyu tidak merasa bangga.
Dia justru dihantui rasa penyesalan yang mendalam.
“Padahal bisa lho renov yang biasa-biasa aja, tapi yang namanya gengsi kan, apalagi udah bertahun-tahun kerja di kota,” kata dia, Senin (23/3/2026) lalu.
Bikin ibu tersiksa
Bahkan, Wahyu sadar bahwa ia baru saja membangun sebuah rumah yang malah menyiksa ibunya sendiri. Sang ibu kini tinggal sendirian di rumah raksasa tersebut karena Wahyu harus kembali bekerja di Cikarang.
Setiap pagi, ibunya kelelahan karena harus menyapu dan mengepel lantai yang sangat luas. Tenaga orang tua jelas tidak sebanding dengan ukuran rumahnya.
“Kadang kasihan juga ngebayangin ibu kudu bersih-bersih tiap hari, nggak ada anak-anaknya yang bantuin,” kata dia. “Kadang juga khawatir ibu kenapa-kenapa di tangga.”
Puncak kesedihan Wahyu adalah saat ia menyadari seberapa sepi rumah tersebut di malam hari. Wahyu mendesain ruang keluarga yang sangat luas untuk menampung banyak orang.
Namun, realitasnya, hanya ibunya yang duduk di sana. Wahyu pun tersadar: rumahnya memang megah, dipuji oleh tetangga, tapi anak dan cucunya tidak ada di sana.
“Too much aja sih kelihatannya. Rumah gede gitu cuma satu orang aja,” ungkapnya. “Yang ada fungsi cuma lantai bawah, ibu sama sekali nggak pernah pakai lantai atas karena buat apa juga?”
Rumah megah yang cuma “berfungsi” lima hari
Obrolan dengan Wahyu membuka mata saya tentang siklus sebenarnya dari rumah-rumah megah perantau di desa. Rumah-rumah bernilai ratusan juta rupiah itu sebenarnya memiliki nasib yang tragis.
Selama kurang lebih 360 hari dalam setahun, rumah-rumah tersebut sepi seperti kuburan. Rumah-rumah raksasa itu baru benar-benar berfungsi sesuai dengan desainnya selama lima hari libur Lebaran.
Saat Wahyu kembali ke perantaun, ia kembali sepi.
“Bangganya cuma pas Lebaran. Abis itu, ya, hambar aja punya rumah besar.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
