Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Lagi-lagi Polisi Minta Maaf bikin Kita Muak karena Sudah Tahu Ujungnya: Tak Ada Keadilan untuk Rakyat Kecil

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
29 Agustus 2025
A A
Polisi minta maaf atas kematian driver ojol. MOJOK.CO

ilustrasi - polisi minta maaf atas meninggalnya driver ojol. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Untuk yang kesekian kalinya, polisi meminta maaf kepada rakyat atas “penindasan” yang mereka lakukan. Kali ini, kata menindas benar-benar terdifinisikan secara harfiah. Aparat kepolisian telah melindas tubuh seorang ojol saat kerusuhan demonstran di gedung DPR/MPR RI pada Kamis malam, (28/8/2025).

Polisi tak bisa lagi mengelak atau berujar jika rekaman CCTV telah hilang–seperti alasan yang sudah sering kita dengar. Sebab, buktinya sudah jelas. Semua mata melihat. Beberapa di antaranya bahkan merekam perilaku biadab itu dengan gawai mereka. 

Mojok mencoba merangkum kejadian-kejadian polisi minta maaf usai mereka membuat ulah, hingga menurunkan kepercayaan kita terhadap aparat.

#1 Polisi minta maaf atas Tragedi Kanjuruhan

Tahun 2022 lalu menjadi masa paling kelam di dunia sepak bola Indonesia. Tepat pada tanggal 1 Oktober 2022, ratusan supporter bola meninggal usai pertandingan Arema FC vs Persebaya. Kejadian bermula saat beberapa penonton tiba-tiba masuk ke lapangan hijau untuk menunjukkan rasa kekecewaannya. 

Melihat kejadian itu, polisi langsung menembakkan gas air mata karena menilai mereka anarkis. Situasi itu membuat penonton panik dan berbondong-bondong menuju pintu keluar. Sayangnya, beberapa di antara mereka salah pintu sehingga terjadi penumpukan orang yang mengakibatkan mereka kekurangan oksigen.

Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali mengatakan tindakan polisi yang menembakkan gas air mata sebetulnya tidak sesuai prosedur dan melanggar aturan FIFA. Karena gas air mata itulah, kata dia, salah satu faktor yang membuat supporter sesak napas.

“No firearms or ‘crowd control gas’ shall be carried or used (senjata api atau ‘gas pengendali massa’ tidak boleh dibawa atau digunakan)” ujar Akmal sesuai beleid yang tertuang dalam FIFA Stadium Safety dan Securitu Regulations pasal 19 b.

Atas kejadian tersebut, diperkirakan 131 orang tewas dan polisi hanya bisa meminta maaf. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Nico Afinta langsung meminta maaf dihadapan publik usai memantau kondisi korban yang dirawat di rumah sakit.

“Saya sebagai Kapolda prihatin dan turut menyesal, sekaligus minta maaf di dalam proses pengamanan ada kekurangan. Ke depan, kami akan mengevaluasi bersama-sama dengan panitia penyelanggara, Presiden Liga, dan PSSI. Harapannya, pertandingan sepak bola ke depan aman, nyaman, dan bisa menggerakkan ekonomi,” kata Nico dikutip dari Kompas.com, Selasa (4/10/2022).

Nyatanya, kita semua tahu kasus ini belum diusut tuntas. Bahkan tak sedikit dari anggota keluarga korban Tragedi Kanjuruhan yang masih mencari keadilan. 

#2 Kasus Gamma yang berbelit dan berakhir begitu saja

Keadilan, tak hanya dibutuhkan oleh keluarga korban Tragedi Kanjuruhan tapi juga orang tua Gamma siswa SMKN 4 Semarang yang meninggal ditembak polisi. Remaja berusia 17 tahun itu tewas ditembak anggota Satresnarkoba Aipda Robig di dekat wilayah Paramount, Semarang pada Minggu (24/11/2024).

Polrestabes Semarang mengklaim penembakan terjadi karena Aipda Robig melihat adanya tawuran antar dua gangster. Namun, keterangan ini berbeda dengan temuan LBH Semarang. Berdasarkan rekaman CCTV dan para saksi, Gamma dan beberapa temannya tidak sedang tawuran, melainkan Robig tidak terima karena sepeda motornya tidak sengaja dipepet oleh salah satu kendaraan yang bersama Gamma.

Saat dipanggil oleh Komisi III DPR untuk menjelaskan kasus penembakan Gamma, Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Semarang Komaris Besar Irwan Anwar pun meminta maaf atas kematian Gamma. 

“Kami mengucapkan sekali lagi belasungkawa kami atas nama kepolisian Kapolrestabes Semarang atas berpulangnya ananda Gamma akibat tidak profesionalnya anggota kami,” ucap Irwan di Gedung DPR, Jakarta pada Selasa (3/12/2024).

Kasus ini sempat berbelit-belit di kejaksaan hingga hakim ketua sidang menyatakan jika Robig terbukti bersalah. Namun, ia hanya dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun. Sementara, duka orang tua atas kehilangan anaknya masih membekas selamanya.

#3 Kematian driver ojol yang dilindas polisi

Terkini, polisi lagi-lagi minta maaf atas kendaraan taktis (rantis) Brimob yang menabrak ojol saat kerusuhan demonstran di gedung DPR/MPR RI pada Kamis malam, (28/8/2025). Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan penyesalannya dan segera mengerahkan bawahannya untuk menangani kasus tersebut.

“Saya sangat menyesali terhadap insiden yang terjadi, dan mohon maaf sebesar-besarnya atas peristiwa ini,” ujarnya dikutip dari detik.com, pada Kamis (28/8/2025).

Sigit menegaskan sudah memerintahkan Kepala Polisi Daerah (Kapolda) untuk mencari keberadaan korban. Lalu, memastikan penanganan medis driver ojol bersama tim Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) serta Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Polri. 

Iklan

Saat bertemu dengan keluarga driver ojol di rumah sakit, Sigit langsung memeluknya. Kini, tujuh orang polisi yang berada di dalam kendaraan rantis telah diperiksa. Sayangnya, amarah masyarakat tak bisa redam begitu saja. Beberapa netizen meminta Sigit mengusut tuntas kasus tersebut.

“…Tindakan yang telah merenggut nyawa anggota keluarga korban bukan hanya melukai hati, tetapi juga menciderai rasa keadilan…,” ujar salah satu akun @sal*** di Instagram, dikutip Jumat, (29/8/2025).

“Usut tuntas!” kata @muh*** dengan emoticon api yang membara.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Riwayat Warga Kampung Kentingan Baru Melawan Mafia Tanah Solo, Digusur Paksa Polisi dan Preman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2025 oleh

Tags: aparat kepolisiandriver ojolgammakanjuruhanpolisi minta maafpolisi pembunuh
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Menormalisasi memberi bintang 5 ke driveri ojek online (ojol) meski tidak memuaskan. Bintang 1 bikin rezeki mereka seret MOJOK.CO

Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga

2 Mei 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Event bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan jadi berkah bagi driver obol Jakarta MOJOK.CO

Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora

20 Januari 2026
Dari driver ojol dari supervisor. Perjalanan Ardi Alam Jabir kejar mimpi kuliah di Teknik Pertambangan UNHAS hingga bisa ke Jepang dan Tiongkok berkat Beasiswa LPDP MOJOK.CO

Kuliah Teknik Pertambangan UNHAS hingga Dapat Beasiswa LPDP ke Tiongkok, Ubah Nasib Driver Ojol Jadi Supervisor

1 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori MOJOK.CO

Magang Pemerintah Belum Jadi Solusi Pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi, Apalagi Kuliah cuma Dibekali Teori

18 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.