Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) mengeluarkan pengumuman hasil seleksi kemarin sore, pukul 15.00 WIB. Hasilnya ada yang lolos, ada juga yang tidak. Hal yang wajar, tetapi tidak bagi siswa SMA yang sudah mengerahkan segalanya untuk diterima kuliah di PTN seperti UGM melalui jalur yang mengandalkan nilai rapor ini, tidak seperti SNBT dan UM.
***
Kemarin malam, kira-kira pukul 19.00 WIB, saya bertemu seorang teman yang memikul beban hasil SNBP milik adiknya. Maria (22) bercerita kalau pengumuman SNBP adiknya tidak menampilkan warna hijau, serta tulisan selamat.
Adik Maria belum lolos SNBP dengan pilihan kampus di UGM.
Bagi anak SMA, saya bisa membayangkan dunia mereka seakan-akan runtuh dengan kegagalan ini. Namun sebenarnya, saya sangat ingin mengatakan ini kepada Maria dan adiknya, kalau kegagalan lolos SNBP di UGM bukanlah akhir dari segalanya.
Kuliah di PTN juga tidak bisa menjamin masa depan.
Menghabiskan masa SMA untuk persiapan SNBP
Rasa gagal adik Maria, Aria (bukan nama sebenarnya), karena tidak lolos SNBP sangat dapat dipahami. Maria bercerita, sang adik telah mempersiapkan SNBP begitu masuk SMA.
“Dari awal masuk SMA, dia udah bilang, pokoknya SNBP,” kata Maria, Selasa (31/3/2026) malam.
Tekad itu membuat Aria berjuang mati-matian menjaga nilai rapor. Ia tidak pernah mendapat nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal. Ia juga mendapatkan posisi sebagai peringkat ke-7 nilai tertinggi dari satu angkatan di salah satu SMA Negeri di Jawa Tengah.
Dengan pencapaian yang telah diusahakan selama tiga tahun masa sekolah itu, Aria merasa dirinya layak lolos SNBP dengan pilihan kampus di UGM. Nilainya dapat dikatakan memenuhi kriteria untuk dapat diterima berkuliah di PTN yang terletak di Jogja itu.
Sayangnya, pengumuman SNBP berkata sebaliknya. Aria harus menelan kekecewaan berupa kegagalan diterima berkuliah di UGM, melalui jalur SNBP yang sudah dipersiapkannya.
Merasa tertinggal dan hilang arah, padahal dapat golden ticket ITS
Perasaan sedih Aria bertambah ketika mengetahui bahwa teman seangkatan yang menjadi rivalnya mendapatkan hasil baik dari SNBP. Sementara itu, Aria tidak.
“Makin jengkel dia karena teman yang saingannya lolos,” kata Maria bercerita.
Padahal, bicara soal eligible atau tidaknya, Aria sudah optimistis. Ia lebih dulu mendapatkan golden ticket untuk berkuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang mempunyai berbagai jurusan yang diidam-idamkan banyak orang. Namun sebagaimana mimpi setiap orang berbeda, Aria tidak tertarik dengan jurusan yang ditawarkan.
“Dia dapat golden ticket ITS, tapi mati-matian nggak mau. Kubilang jurusan ini aja juga nggak mau,” ujar sang kakak.
Bukan tanpa alasan perempuan ini tidak mau. Aria merasa jurusan yang ditawarkan di ITS tidak sesuai dengan minatnya, serta tidak yakin bahwa dirinya mampu survive hingga akhir perkuliahan ketika dirinya sendiri tidak terlalu menyukai ilmu eksak.
Selain itu, akibat terlalu habis-habisan dalam mempersiapkan SNBP, Maria menyebut Aria menghadapi tekanan tersendiri. Dia merasa gagal dan tak layak kuliah di PTN karena tidak lolos melalui SNBP, padahal masih ada jalur seleksi lainnya, seperti SNBT dan Ujian Mandiri (UM).
“Dia jadi bete karena nggak lolos,” kata Maria.
“Ditanya mau apa, dianya juga nggak tahu. Nggak bisa diajak ngomong buat SNBT dan UM yang udah mepet,” katanya menambahkan.
Pasalnya, Aria sudah merasa kehabisan tenaga untuk SNBP.
Kegagalan SNBP semakin menyerap seluruh energinya. Tidak ada yang tersisa untuk SNBT maupun UM, ia merasa tidak memiliki jalan lain setelah kegagalan ini—hal yang kerap terjadi ketika menghadapi satu kegagalan dalam hidup. Namun bukan berarti, perasaan Aria tidak valid.
Layanan kesehatan mental di Amerika Serikat mengatakan, merasa sedih setelah mengalami kegagalan adalah perasaan yang muncul karena berbagai faktor. Salah satunya, tekanan untuk berhasil yang dirasakan Aria ketika melihat keberhasilan saingannya. Memproses kenyataan ini sekaligus menghadapi keharusan untuk segera melanjutkan persiapan mengikuti seleksi SNBT dan UM, Aria bukan tidak mungkin merasa kewalahan hingga hilang arah.
Belum mempersiapkan jalur seleksi PTN lain akibat gagal SNBP
Untuk dapat mewujudkan mimpinya kuliah di PTN, setidaknya Aria mempunyai kesempatan lain melalui dua jalur seleksi, yakni SNBT dan UM.
Masalahnya adalah pengumuman SNBP tidak berjarak jauh dengan SNBT dan UM. UTBK-SNBT akan dilaksanakan pada 21 sampai 30 April 2026. Artinya, kurang dari satu bulan lagi, Aria sudah harus siap mengikuti UTBK agar dapat berkuliah di PTN.
Strategi untuk UTBK-SNBT juga harus dilakukan segera, termasuk menentukan pilihan PTN yang dirasa rasional dan berpeluang diterima. Sebab, pendaftaran akan ditutup dalam kurang dari seminggu pada 7 April 2026.
Sementara itu, UM UGM, misal, diselenggarakan pada 2 sampai 6 Juni 2026.
Meski terlihat masih ada cukup waktu untuk mempersiapkan, rasa was-was diterima atau tidaknya di PTN bertahan semakin lama. Aria harus mencari akal untuk dapat mewujudkan impian kuliah di PTN sampai dengan selesai ujian di UGM pada bulan Juni.
Persoalan lainnya adalah Aria belum mempersiapkan itu semua, serta masih merasa sedih setelah gagal SNBP. Padahal dengan waktu yang sempit, Aria makin merasa terhimpit dan serbasalah.
“Waktunya sudah mepet, dia belum siap apa-apa,” keluh Maria.
“Dia belum tahu mulai dari mana. Takut belum siap, tapi bingung nyiapinnya,” ujarnya.
Padahal, kuliah di PTN tidak menjamin masa depan
Dari sudut pandang seseorang yang juga mengikuti SNBP dan SNBT (dahulu SNMPTN dan SBMPTN), tekanan untuk lolos memang tinggi. Tidak bisa dipungkiri, kegagalan yang diprediksi sekalipun tetap membuat diri merasa tidak pantas.
Namun sebagaimana yang saya ingin katakan sejak awal, gagal SNBP atau kuliah di PTN tidak menentukan masa depan. Persiapan yang mepet dengan waktu tes juga masih memungkinkan, asalkan punya optimisme.
Sebab, dari artikel mengenai bimbingan belajar (bimbel) untuk lolos SNBT yang pernah dituliskan Mojok sebelumnya, Ning (23) meyakinkan masih ada kemungkinan lolos UGM dengan persiapan terbatas.
Ning tidak ikut bimbel. Ning belajar mandiri melalui platform belajar online, tetapi lolos UM UGM.
“Pas zaman SMA dulu, pulang sekolah teman-teman sekelas langsung mencelat ke bimbelnya masing-masing. Aku langsung pulang karena bimbelku ya langganan Zenius yang waktu itu setahun Rp400 ribu,” katanya, Selasa (3/3/2026) lalu.
Artinya, Aria masih memiliki peluang untuk dapat lolos seleksi PTN dengan melanjutkan perjuangannya. Melihat mahasiswa UGM seperti Ning yang tidak mengikuti bimbel menjadi pemacu Aria dan siswa SMA lainnya yang belum berkesempatan lolos SNBP untuk mengejar jalur seleksi lain dengan mempersiapkan semaksimal mungkin.
Sekiranya dapat membuat mereka merasa yang belum hoki dengan seleksi rapor merasa lebih baik, kegagalan ini juga tidak akan berlangsung selamanya. Berhasil berkuliah di PTN sekalipun, saya ingat percakapan dengan seorang teman lulusan UGM, masih harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan.
“Susah cari kerja. Lulus UGM juga, udah lamar sana-sini…”
Namun pada akhirnya, orang yang berkata mengenai susahnya mencari kerja setahun yang lalu sudah mempunyai pekerjaan saat ini. Satu kegagalan yang dialaminya tidak serta-merta terjadi terus-menerus dan menentukan hidupnya selanjutnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














