Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Sisi Gelap Lebaran: Melelahkan karena Harus Tampak Bahagia, padahal Menderita Bersikap “Baik” dan Kehabisan Energi Sosial

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
23 Maret 2026
A A
Ironi silaturahmi Lebaran bersama keluarga

Ilustrasi - Tak tahan silaturahmi Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lebaran identik dengan silaturahmi. Artinya, kamu harus berkunjung atau dikunjungi oleh tidak hanya keluarga, tetapi banyak orang yang belum tentu dikenal baik. Arti lainnya, kamu harus menghadapi sekian banyak orang dengan senyum dan basa-basi. Pada akhirnya, Lebaran tidak selalu menyenangkan, tetapi juga bisa melelahkan.

Inilah yang saya alami pada Minggu (22/3/2026) siang. Padahal, Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah ditetapkan jatuh pada 21 Maret 2026 kemarin. Namun, baru hari kedua Lebaran, energi sosial saya sudah habis terkuras, sampai sekiranya tidak sanggup melanjutkan hari ketiga dan seterusnya.

Persiapan panjang sebelum Lebaran

Rasa lelah karena Lebaran tidak datang seketika. Ada persiapan panjang sebelum Lebaran yang harus dilakukan sehingga baik mental maupun fisik sudah mulai bertempur, bahkan sebelum hari H pelaksanaan.

Dimulai dari mempersiapkan camilan yang akan dihidangkan di ruang tamu, masakan yang akan disajikan, sampai memastikan kebersihan seluruh rumah yang akan diinspeksi dalam silaturahmi. Semua harus dilakukan.

@cawbellymu #CapCut #lebaran #lebaran2026 #lebarancore ♬ suara asli – 📍 – cakeby49


Persiapan semacam ini akan berakibat pada kemunduran jam tidur menjadi dini hari, sama seperti waktu sahur. Kira-kira pukul 02.00 WIB dini hari, bukan mustahil seseorang baru tidur karena persiapan Lebaran.

Esok harinya, orang tersebut masih akan bangun cukup pagi, sekitar sebelum waktu subuh, untuk melanjutkan persiapan yang tidak pernah terasa selesai.

Kelelahan, tapi masih harus silaturahmi

Akibatnya, kelelahan adalah pasti. Sayangnya sebagaimana Lebaran dipahami sebagai momentum silaturahmi—mempererat tali kasih antar sesama—aktivitas bertemu dan berbincang dengan banyak orang tidak boleh terlewatkan. 

“Ayo ke rumah nenek.”

“Ke makam dulu.”

“Bertamu ke rumah tante dulu.”

Ajakan-ajakan itu seakan tidak ada habisnya. Karena itu, seluruh waktu akan tersita untuk bertandang ke rumah sanak-saudara, diikuti dengan keharusan untuk bersikap baik, sekalipun merasa lelah.

Mendengar kalimat klise dari keluarga yang lama tidak bertemu seperti, “Wah, sudah besar. Perasaan masih kecil.”

Seakan-akan, melupakan pelajaran biologi bahwa manusia mengalami pertumbuhan. Artinya, akan ada proses peningkatan ukuran fisik, volume, massa, atau jumlah sel pada makhluk hidup, seperti manusia, dalam hal pertambahan tinggi, berat badan, dan lainnya seperti yang diamati. 

Namun bagaimanapun ingin membalas sesuai pemaparan keilmuannya, jawaban yang keluar pastilah hanya mengiyakan.

Iklan

Maka bagi saya, seringnya saya akan menggunakan senjata bernama adik dengan membisikkan permintaan mengajak kedua orang tua pulang kalau sudah mulai merasa panas dengan situasi silaturahmi yang terlalu template dari satu orang ke orang lain.

“Ajak pulang, Dek,” kata saya.

Kemudian, senjata andalan saya ini akan bersuara lantang, “Ma, Bah, pulang.”

Menghadapi basa-basi Lebaran yang kelewatan

Fatma (24) juga menghadapi tekanan yang sama. Ia merasa lelah, bahkan pada hari Lebaran kedua. Ia bilang, dirinya merasa sikap orang-orang saat Lebaran sulit dihadapi. Mereka bersikap baik, tetapi secara tidak langsung menimbulkan tuntutan untuk membalas dengan lebih baik.

“Sangat melelahkan sebenarnya menghadapi orang-orang yang seperti ini,” kata Fatma kepada Mojok, Minggu (22/3/2026).

Bukan hanya soal respons dengan senyum pada sapaan, Fatma juga merasa tertekan karena dihadapkan dengan serangkaian pertanyaan yang dilayangkan bersama ekspektasi sosial. Dirinya merasa seolah-olah harus memiliki jawaban yang tetap agar dapat memenuhi ekspektasi tersebut.

Menurut dia, pertanyaan semacam ini tidak adil. Begitu juga ekspektasi yang disertakan. Masalahnya, pertemuan antar mereka hanya terjadi saat Lebaran. Tidak ada yang melihat “perjuangan” di luar waktu tersebut, tetapi justru dengan beraninya memberikan standar tersendiri tanpa melihat usaha di baliknya.

“Kadang bukan pertanyaannya yang melelahkan bagiku ini, tapi ekspektasi sosialnya juga,” kata Fatma.

“Seolah-olah kita harus punya jawaban yang tepat biar dianggap berhasil atau baik-baik saja, padahal tiap orang punya timeline hidup masing-masing,” tambahnya.

Selain itu, Fatma juga mengaku disinggung dengan pertanyaan lain yang cukup sensitif bagi perempuan usianya. Mayoritas perempuan di Indonesia pertama kali menikah saat umur 19-24 tahun, menurut laporan Badan Pusat Statistik 2024. Sementara itu, Fatma sudah berada pada angka akhir dari usia tersebut dari sudut pandang orang-orang yang mempertanyakan statusnya yang masih melajang.

“Aku lebih [tersinggung] ke kapan nikah katanya, padahal sudah umurnya,” katanya menirukan.

Tak hanya itu, ia juga ditodong dengan pertanyaan lanjutan karena tidak terlihat membawa pasangan. Meski sebenarnya, Fatma juga tahu kalau tameng bernama pasangan sekalipun tidak akan cukup. 

Ia pastilah masih akan diserang dengan pertanyaan-pertanyaan lain untuk tampil sempurna sesuai standar orang lain. Artinya, dia tidak akan bisa mengikuti standar itu sampai kapanpun.

“Kenapa nggak bawa pacar? Kalau mamaku padahal santai aja, tapi lebih ke keluarga ini. Capek banget sih sebenarnya,” tandasnya.

Libur Lebaran yang menghabiskan energi sosial

Padahal bagi sebagian orang, Lebaran adalah waktu libur yang dinantikan. Pekerja sampai mahasiswa ingin memanfaatkan momen ini untuk berkumpul bersama keluarga dan beristirahat sejenak.

Namun, bagi Dhanty (27) hari libur Lebaran tidak bisa dinikmati sebagaimana mestinya.

“Jujur, nggak bisa menikmati liburan ini,” akunya.

Di tengah aktivitas kuliahnya yang padat, Dhanty berniat memanfaatkan libur Lebaran untuk memperoleh ketenangan dengan berfokus menghabiskan waktunya bersama keluarga. Setidaknya begitu juga harapannya sampai dihadapkan dengan realitas bahwa dirinya masih harus melangsungkan tradisi Lebaran bersama keluarga besar, serta lebih banyak orang.

Alhasil, ketenangan tinggalah harapan.

Seluruh perhatian Dhanty tersita oleh banyaknya orang yang harus dihadapinya. Kediamannya juga dipenuhi dengan ramainya suara dan sifat yang berbeda-beda dari setiap orang sehingga pemilik rumah pun merasa tersingkirkan.

Energi sosial dirinya diserap sampai ingin “minggat” dari rumah untuk sementara waktu.

“Rasanya pengin minggat,” kata dia.

“Maksudnya, pengin lepas dari semua ini bentar aja,” kata dia menambahkan.

Sayangnya sekalipun berkeinginan begitu, Dhanty tahu kalau hari Lebaran baru berlangsung sampai hari kedua. Masih ada hari berikutnya yang masih harus dihadapi.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA:  Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Maret 2026 oleh

Tags: basa basi lebaranbertemu keluarga saat lebarankelelahan mentalkumpul keluarga lebaranLebaransilaturahmisilaturahmi keluargasilaturahmi lebaran
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)
Kilas

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)
Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO
Catatan

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati
Pojokan

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

24 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.