Lebaran identik dengan silaturahmi. Artinya, kamu harus berkunjung atau dikunjungi oleh tidak hanya keluarga, tetapi banyak orang yang belum tentu dikenal baik. Arti lainnya, kamu harus menghadapi sekian banyak orang dengan senyum dan basa-basi. Pada akhirnya, Lebaran tidak selalu menyenangkan, tetapi juga bisa melelahkan.
Inilah yang saya alami hari ini, Minggu (22/3/2026) siang. Padahal, Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah ditetapkan jatuh pada 21 Maret 2026 kemarin. Namun, baru hari kedua Lebaran, energi sosial saya sudah habis terkuras, sampai sekiranya tidak sanggup melanjutkan hari ketiga dan seterusnya.
Persiapan panjang sebelum Lebaran
Rasa lelah karena Lebaran tidak datang seketika. Ada persiapan panjang sebelum Lebaran yang harus dilakukan sehingga baik mental maupun fisik sudah mulai bertempur, bahkan sebelum hari H pelaksanaan.
Dimulai dari mempersiapkan camilan yang akan dihidangkan di ruang tamu, masakan yang akan disajikan, sampai memastikan kebersihan seluruh rumah yang akan diinspeksi dalam silaturahmi. Semua harus dilakukan.
@cawbellymu #CapCut #lebaran #lebaran2026 #lebarancore ♬ suara asli – 📍 – cakeby49
Persiapan semacam ini akan berakibat pada kemunduran jam tidur menjadi dini hari, sama seperti waktu sahur. Kira-kira pukul 02.00 WIB dini hari, bukan mustahil seseorang baru tidur karena persiapan Lebaran.
Esok harinya, orang tersebut masih akan bangun cukup pagi, sekitar sebelum waktu subuh, untuk melanjutkan persiapan yang tidak pernah terasa selesai.
Kelelahan, tapi masih harus silaturahmi
Akibatnya, kelelahan adalah pasti. Sayangnya sebagaimana Lebaran dipahami sebagai momentum silaturahmi—mempererat tali kasih antar sesama—aktivitas bertemu dan berbincang dengan banyak orang tidak boleh terlewatkan.
“Ayo ke rumah nenek.”
“Ke makam dulu.”
“Bertamu ke rumah tante dulu.”
Ajakan-ajakan itu seakan tidak ada habisnya. Karena itu, seluruh waktu akan tersita untuk bertandang ke rumah sanak-saudara, diikuti dengan keharusan untuk bersikap baik, sekalipun merasa lelah.
Mendengar kalimat klise dari keluarga yang lama tidak bertemu seperti, “Wah, sudah besar. Perasaan masih kecil.”
Seakan-akan, melupakan pelajaran biologi bahwa manusia mengalami pertumbuhan. Artinya, akan ada proses peningkatan ukuran fisik, volume, massa, atau jumlah sel pada makhluk hidup, seperti manusia, dalam hal pertambahan tinggi, berat badan, dan lainnya seperti yang diamati.
Namun bagaimanapun ingin membalas sesuai pemaparan keilmuannya, jawaban yang keluar pastilah hanya mengiyakan.
Maka bagi saya, seringnya saya akan menggunakan senjata bernama adik dengan membisikkan permintaan mengajak kedua orang tua pulang kalau sudah mulai merasa panas dengan situasi silaturahmi yang terlalu template dari satu orang ke orang lain.
“Ajak pulang, Dek,” kata saya.
Kemudian, senjata andalan saya ini akan bersuara lantang, “Ma, Bah, pulang.”
Menghadapi basa-basi Lebaran yang kelewatan
Fatma (24) juga menghadapi tekanan yang sama. Ia merasa lelah, bahkan pada hari Lebaran kedua. Ia bilang, dirinya merasa sikap orang-orang saat Lebaran sulit dihadapi. Mereka bersikap baik, tetapi secara tidak langsung menimbulkan tuntutan untuk membalas dengan lebih baik.
“Sangat melelahkan sebenarnya menghadapi orang-orang yang seperti ini,” kata Fatma kepada Mojok, Minggu (22/3/2026).
Bukan hanya soal respons dengan senyum pada sapaan, Fatma juga merasa tertekan karena dihadapkan dengan serangkaian pertanyaan yang dilayangkan bersama ekspektasi sosial. Dirinya merasa seolah-olah harus memiliki jawaban yang tetap agar dapat memenuhi ekspektasi tersebut.
Menurut dia, pertanyaan semacam ini tidak adil. Begitu juga ekspektasi yang disertakan. Masalahnya, pertemuan antar mereka hanya terjadi saat Lebaran. Tidak ada yang melihat “perjuangan” di luar waktu tersebut, tetapi justru dengan beraninya memberikan standar tersendiri tanpa melihat usaha di baliknya.
“Kadang bukan pertanyaannya yang melelahkan bagiku ini, tapi ekspektasi sosialnya juga,” kata Fatma.
“Seolah-olah kita harus punya jawaban yang tepat biar dianggap berhasil atau baik-baik saja, padahal tiap orang punya timeline hidup masing-masing,” tambahnya.
Selain itu, Fatma juga mengaku disinggung dengan pertanyaan lain yang cukup sensitif bagi perempuan usianya. Mayoritas perempuan di Indonesia pertama kali menikah saat umur 19-24 tahun, menurut laporan Badan Pusat Statistik 2024. Sementara itu, Fatma sudah berada pada angka akhir dari usia tersebut dari sudut pandang orang-orang yang mempertanyakan statusnya yang masih melajang.
“Aku lebih [tersinggung] ke kapan nikah katanya, padahal sudah umurnya,” katanya menirukan.
Tak hanya itu, ia juga ditodong dengan pertanyaan lanjutan karena tidak terlihat membawa pasangan. Meski sebenarnya, Fatma juga tahu kalau tameng bernama pasangan sekalipun tidak akan cukup.
Ia pastilah masih akan diserang dengan pertanyaan-pertanyaan lain untuk tampil sempurna sesuai standar orang lain. Artinya, dia tidak akan bisa mengikuti standar itu sampai kapanpun.
“Kenapa nggak bawa pacar? Kalau mamaku padahal santai aja, tapi lebih ke keluarga ini. Capek banget sih sebenarnya,” tandasnya.
Libur Lebaran yang menghabiskan energi sosial
Padahal bagi sebagian orang, Lebaran adalah waktu libur yang dinantikan. Pekerja sampai mahasiswa ingin memanfaatkan momen ini untuk berkumpul bersama keluarga dan beristirahat sejenak.
Namun, bagi Dhanty (27) hari libur Lebaran tidak bisa dinikmati sebagaimana mestinya.
“Jujur, nggak bisa menikmati liburan ini,” akunya.
Di tengah aktivitas kuliahnya yang padat, Dhanty berniat memanfaatkan libur Lebaran untuk memperoleh ketenangan dengan berfokus menghabiskan waktunya bersama keluarga. Setidaknya begitu juga harapannya sampai dihadapkan dengan realitas bahwa dirinya masih harus melangsungkan tradisi Lebaran bersama keluarga besar, serta lebih banyak orang.
Alhasil, ketenangan tinggalah harapan.
Seluruh perhatian Dhanty tersita oleh banyaknya orang yang harus dihadapinya. Kediamannya juga dipenuhi dengan ramainya suara dan sifat yang berbeda-beda dari setiap orang sehingga pemilik rumah pun merasa tersingkirkan.
Energi sosial dirinya diserap sampai ingin “minggat” dari rumah untuk sementara waktu.
“Rasanya pengin minggat,” kata dia.
“Maksudnya, pengin lepas dari semua ini bentar aja,” kata dia menambahkan.
Sayangnya sekalipun berkeinginan begitu, Dhanty tahu kalau hari Lebaran baru berlangsung sampai hari kedua. Masih ada hari berikutnya yang masih harus dihadapi.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













