Sewaktu bekerja di Jakarta, kereta rel listrik (KRL) berada pada opsi terakhir transportasi umum (transum). Alasannya mudah, perjuangan para penumpang transum itu membuat saya memilih mundur dan beralih ke MRT.
Sebab, setiap penumpang menunjukkan usaha bertahan hidup mereka habis-habisan dengan gempuran antar penumpang yang juga menaiki KRL setiap harinya.
Ini juga yang membuat kecelakaan KRL yang menewaskan penumpang, pada gerbong perempuan, menjadi kabar duka yang menyayat hati. Bahkan, tak sanggup dibaca terlalu lama dan diselami kalau saja dapat dihindari.
Naik KRL adalah arena pertarungan bertahan hidup pekerja Jakarta
Mantan pekerja Jakarta selama lebih dari satu tahun, Ifroh (24), mengatakan bahwa dirinya pernah berada di posisi para pekerja yang mau tidak mau harus bersahabat dengan KRL sebagai transum andalan.
Mengingat KRL memiliki rute dan jangkauan paling luas di Jabodetabek, Ifroh memilih untuk menggunakan transum ini sebagai moda transportasinya.
“Awal aku di Jakarta sebelum ada motor, apalagi pas kosku masih di Cempaka Putih terus kantor di Jakbar (Jakarta Barat) tuh berasa banget ya, transum adalah kehidupanku termasuk TJ dan KRL ini,” kata dia kepada Mojok, Selasa (28/4/2026).
Menurut dia, kehadiran transum ini mempermudah mobilisasinya. Meski tentu saja, dalam menggunakan KRL, perempuan yang kini bekerja di Jogja ini mengakui bahwa dirinya harus bertarung dengan para penumpang lainnya.
Namun, Ifroh mengatakan, kondisi desak-desakan yang dianggap tidak kondusif oleh sebagian orang itu justru menunjukkan betapa beratnya perjuangan orang-orang yang mencoba bertahan hidup di Jakarta. Ia menjadi tidak ambil pusing dengan orang lain, yang diketahuinya sama-sama sedang berjuang.
“Merekalah yang bisa mempermudah mobilitasku ke mana-mana, even mau desek-desekan udah gak peduli sebenarnya yang penting sampai kos cepat,” kata dia.
Hanya manusia kuat yang sanggup naik transum
Melihat berita mengenai kecelakaan kereta api di Bekasi, Ifroh mengakui dirinya kembali diingatkan dengan perjuangan naik KRL selama bekerja di Jakarta.
Dalam hari-hari biasa saja, perempuan ini bilang, menaiki KRL sudah bertaruh dengan kepadatan pekerja Jakarta lainnya. Tragedi ini, kata dia, makin menekankan pertarungan yang harus dihadapi.
Transum ini bukan untuk semua orang. Melainkan, hanya untuk mereka yang tergolong sebagai manusia kuat.
Namun Ifroh menyayangkan, perjuangan ini ternyata masih harus disertai risiko tinggi. Bayangkan saja, seseorang yang sudah bersusah-payah berusaha untuk mencari nafkah demi membiayai kehidupannya dan keluarga, justru harus bertaruh nyawa dalam perjalanan.
“Sedih banget jujur ngeliat berita nggak tega gue kayak betapa chaos-nya kondisi di situ kayak lu mau gawe aja taruhannya tetap lagi lagi adalah nyawa,” kata dia.
Peristiwa tersebut berawal dari CommuterLine yang melaju dari arah Jakarta menuju Cikarang berhenti di jalur 1, Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, lantaran CommuterLine dari arah berlawanan menabrak satu unit mobil taksi.
Beberapa saat kemudian, datang Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek yang langsung menabrak bagian belakang CommuterLine yang melaju ke arah Cikarang. PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat korban mencapai 107 orang, terdiri dari 16 korban meninggal dunia dan 91 korban luka-luka.
Kejadian ini meninggalkan perasaan was-was bagi penumpang kereta lainnya, termasuk Ifroh. Meski sudah meninggalkan Jakarta, ia masih sering menggunakan kereta api untuk kebutuhan mobilisasi. Hal ini membuat Ifroh merasa cemas ketika menaiki kereta.
“Kejadian tadi malam lumayan bikin aku jadi was-was dan agak takut kalau bolak-balik pulang ke rumah. Baru banget kemarin balik, terus harus balik lagi ya dua minggu lagi lah kira-kira jadi sebisa mungkin harus siap dan buang pikiran kotor ini,” kata dia.
Lebih memilih mundur dari jajaran pejuang KRL, beralih ke MRT
Ketakutan penumpang kereta akibat kejadian ini merupakan sesuatu yang tidak mengejutkan. Khususnya, bagi saya, sebagai seseorang yang lebih memilih undur diri dari persaingan menumpangi KRL di Jakarta.
Selama bekerja di Jakarta, saya akan menghindari menaiki KRL. Apabila dapat ditempuh dengan mentrasitkan diri—naik-turun satu transportasi ke transportasi lain—meski memakan biaya lebih, saya akan mengambil jalan tersebut.
Misal, dari stasiun CommuterLine terdekat, saya akan memilih menggunakan MRT yang memakan biaya lebih. Atau, LRT, dibandingkan dengan KRL yang lebih terjangkau, serta mampu menjangkau lebih banyak rute dalam satu kali tuju.
Namun, mengingat kali pertama menaiki KRL rute Stasiun Pasar Minggu ke Stasiun Mangga Besar pada pagi hari tepatnya 06.00 WIB, penumpang kereta ramai berdesak-desakan untuk dapat mencapai tujuan masing-masing.
Bukan berarti menganggap keramaian ini sebagai sesuatu yang negatif. Justru, perjuangan ini yang membuat saya merasa bahwa hanya mereka yang tangguhlah yang dapat bertahan dan melaju menggunakan KRL setiap harinya.
Sementara, saya tidak.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Usulan Menteri PPPA Pindah Gerbong Perempuan di KRL Solusi Instan: Laki-laki Merasa Jadi Tumbal, Tak Sentuh Akar Persoalan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














