Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Nekatnya Pengusaha “Kecil” di Jogja dan Jateng yang Tolak Tukang Parkir Liar, Rela Menggaji Mereka Asal Pelanggan Nyaman

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
26 April 2024
A A
tukang parkir liar di jogja dan jawa tengah.MOJOK.CO

Ilustrasi tukang parkir (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tak ingin pelanggan keluar uang lebih, padahal hanya belanja atau bertransaksi dengan nominal kecil, membuat pengusaha di Jogja dan Jawa Tengah ini punya sikap tolak tukang parkir liar. Apalagi, pelanggannya adalah mahasiswa dengan kocek yang tak seberapa.

Bagi sebagian orang, mengeluarkan uang meski hanya Rp2000 untuk tukang parkir yang kehadirannya tidak diharapkan memang terasa berat. Barangkali, itulah yang disadari oleh pemilik Mato Kopi, sebuah kedai kopi merakyat yang punya beberapa cabang di Jogja.

Di cabang-cabangnya, setiap hari ada ratusan kendaraan yang terparkir. Kebanyakan, milik para mahasiswa yang jadi pelanggan. Pasalnya warung kopi ini memang terbilang murah. Modal Rp7000 saja pelanggan bisa menikmati secangkir kopi hitam dan akses WiFi gratis untuk mengerjakan tugas.

Saat ini, Mato Kopi punya cabang di Jalan Selokan Mataram, Condongcatur, hingga di dekat Pasar Gentan. Pendiri warung kopi ini, Hanafi Baedhowi juga mendirikan Secangkir Jawa, kedai dengan gaya mirip yang juga sudah banyak bercabang di Jogja.

potret area mato kopi tanpa tukang parkir.MOJOK.CO
Area Mato Kopi tanpa tukang parkir (Hammam/Mojok.co)

Lulusan UIN Sunan Kalijaga Jogja ini memang ingin menghadirkan warung kopi yang terjangkau untuk kalangan mahasiswa menengah ke bawah. Namun, meski terjangkau ia tidak ingin membuat pelanggannya merasa tak nyaman. Termasuk dengan kehadiran tukang parkir liar.

Rela gaji tukang parkir daripada menariki pelanggan

Di beberapa cabang, sempat ada tukang parkir yang menata kendaraan. Namun, tidak pernah meminta uang kepada pelanggan.  Cak Hanafi mengaku kasihan, kopi saja harganya nggak sampai Rp10 ribu kok pelanggannya harus membayar parkir.

“Lha gimana Mas, wong pelanggan saya itu kebanyakan mahasiswa. Sehari bisa ke sini bolak-balik tiga kali. Sebelum kuliah ngopi, jeda kuliah balik ke sini lagi, pulang kuliah ya di sini lagi. Kasihan kalau ada biaya parkir terus. Uang parkirnya mending buat ngeteng rokok,” jelasnya saat Mojok wawancarai beberapa waktu silam.

Hanafi, punya trik tersendiri agar bisa mengatur keberadaan tukang parkir di tempatnya. Biasanya, sebelum menyewa lahan untuk dibuat warung kopi ia akan melakukan negosiasi dengan pemiliknya, yakni pihak desa atau warga setempat.

“Sebelum sewa saya bilang. Saya maju (menyewa) kalau nanti tidak ditariki biaya parkir. Kalau ada warga yang mau menarik parkir, masuk saja ke warung, saya gaji tapi tidak narik dari pelanggan,” ujarnya.

Sehingga tidak mengherankan jika warung kopi di Jogja ini jadi langganan banyak mahasiswa Jogja. Bahkan, sampai ada pelanggan yang dapat julukan “juru kunci”. Pasalnya, hampir setiap hari pasti nongkrong di Mato Kopi.

Warung kopi ini memang punya slogan “Senyaman Rumah Sendiri”. Frasa senyaman rumah sendiri ini memang begitu melekat. Saking nyamannya, kadang ada orang yang ke sini untuk sekadar memesan secangkir kopi lalu ditinggal rebahan tidur siang.

Baca halaman selanjutnya…

Saat pemilik apotek selama 8 tahun teguh tolak tukang parkir yang berusaha manfaatkan lahannya

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 26 April 2024 oleh

Tags: apotekjawa tengahJogjatukang parkirtukang parkir liarwarung kopi
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.