Cerita beberapa orang di Jogja membuat saya sedikit tercengang. Mereka mengaku bisa amat mudah memberikan bintang 2 bahkan 1 untuk driver ojek online (ojol) sebagai bentuk ketidakpuasan. Sekalipun ketidakpuasan tersebut berangkat dari hal-hal kecil.
Misalnya, perkara motor jelek, helm apek atau mleyot, cara berkendara yang lamban, bahkan perkara bau badan si driver ojol pun bisa menjadi alasan untuk memberikan bintang 2.
“Pelayanan nggak memuaskan masa kasih bintang 5. Itu kan hak kami juga sebagai customer, kalau nggak puas ya kasih bintang 2, biar dapat evaluasi,” begitu alasannya.
Tidak salah. Tapi entah kenapa kalau saya pribadi tidak pernah punya ketegaan untuk tidak memberi bintang 5. Saya membatasi pikiran hanya dalam konteks: saya sudah pakai jasanya, saya bayar, dan langsung kasih bintang 5 tanpa banyak pikir panjang.
Pada mulanya sebatas itu. Sampai kemudian saya kerap mendapati: betapa pentingnya bintang 5 tersebut bagi para driver ojol.
Saat driver ojek online (ojol) kelelahan hingga tertidur sambil bawa penumpang
Saya beri contoh kejadian yang baru saya alami pada pertengahan April 2026 lalu. Saya memesan driver ojol menjelang jam 10 malam untuk perjalanan dari Plosokuning, Ngaglik, Sleman, menuju hotel ARTOTEL Suites Bianti di Kota Jogja.
Si driver menjemput saya dalam kondisi wajah kuyu. Dari matanya tampak betul tengah menahan lelah dan kantuk.
Dan dia memang benar-benar ngantuk berat. Sebab, beberapa kali ketika berhenti di lampu merah, si driver kerap menundukkan kepala. Saya kira ia sedang mengecek maps di ponsel.
Ternyata tidak. Ia selalu tergeragap ketika mendengar klakson kendaraan dari belakang saat lampu berubah warna hijau.
“Ngantuk, po, Mas?” Tanya saya memastikan di lampu merah kesekian.
“Iya, e, Mas, mohon maaf,” jawabnya penuh sesal dengan suara agak serak.
Langsung terbersit di kepala saya: situasi seperti ini bisa dibilang membahayakan penumpang. Ada alasan kuat untuk “menghukum” driver dengan bintang 1. Tapi nurani saya mencoba menampik pikiran tersebut, apalagi setelah melihat reaksi driver setelahnya.
“Kalau ngantuk kok nggak berhenti terus pulang, Mas?” Tanya saya.
“Nambah dikit lagi, Mas, mengamankan jatah kebutuhan harian rumah dulu,” jawabnya.
Melawan batas tubuh, pantang pulang sebelum menjamin anak-istri aman
Saat saya menyerahkan helm, driver ojol tersebut malah memohon-mohon agar tidak diberi bintang 1. “Tolong nggih, Mas. Kalau bintang 1 nanti saya susah dapat orderan,” ujar driver ojol itu. Saya berjanji tidak akan memberi bintang 1 atas situasi “riskan” di lampu-lampu merah tadi.
Mendengar jawaban saya, ia pamit dengan berkali-kali meminta maaf dan berterima kasih. Ah, saya paling tidak bisa berhadapan dengan situasi tersebut. Langsung brebes mili.
Apalagi saat ia bercerita di sisa perjalanan kami sebelum tiba di lokasi tujuan. Jika tidak sedang sangat kelelahan, ia biasanya berangkat di jam 8 pagi. Tapi pulangnya tidak menentu. Kadang isya sudah pulang, tidak jarang pula baru pulang menjelang tengah malam.
Ngantuk menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Kalau sudah tidak tahan, ia bisa mampir ke Warmindo untuk pesan minum, ngecas hp, dan tidur barang beberapa menit.
Malam saat mengantar saya itu, ia benar-benar sangat kelelahan. Kantuknya benar-benar tidak tertahan sampai ketiduran saat berhenti di lampu merah.
Melawan batas tubuhnya sendiri. Itulah yang bisa ia lakukan jika ingin dapat hasil lumayan dari narik penumpang. Pesaingnya banyak. Sudah begitu, sering kali ia menerima “layanan hemat”: uang yang masuk ke dompet digitalnya terlalu tipis. Alhasil, ia harus nge-push dirinya lagi untuk mendapat angka “aman” untuk dibagi-bagi buat kebutuhan rumah.
Ia sendiri menarget, dapat Rp250 ribu saja sehari, sudah cukup buatnya untuk pulang. Walaupun tidak jarang pula sebelum menyentuh itu ia akan pulang lebih awal. Karena untuk mencapai angka Rp250 ribu saja, baginya, susahnya minta ampun.
Ngasih bintang 5 ke driver ojek online (ojol) tidak bikin rugi-rugi amat
Ternyata ada orang yang punya pikiran yang sama dengan saya: puas atau tidak puas, tetap kasih bintang 5 saja ke driver. Misalnya pengakuan dari Jonan (27), pekerja swasta di Jogja.
Jonan bahkan pernah telat mengejar jam keberangkatan kereta gara-gara driver ojol yang ia pesan tidak bisa ngebut. Tidak begitu lincah pula mencari jalan tikus atau meliuk-liuk di sela kemacetan padat merayap.
“Pas tahu aku telat, respons batinku pertama ya kesel. Karena tiketku hangus dan harus pesen lagi. Tapi pas buka aplikasi, mau ngasih bintang 1 itu ketahan. Nggak tega saja karena aku tahu kalau nasib driver ojol itu sudah penuh himpitan,” ungkapnya berbagi cerita, Minggu (2/5/2026).
Memang Jonan rugi karena harus pesan tiket kereta api lagi. Tapi ia mencoba memperluas sudut pandangnya dengan lebih manusiawi: kalau dihitung, ya tidak rugi-rugi amat.
Sebab, setidaknya ia punya pemasukan pasti. Sementara kondisi driver ojol tidak sebaik itu. Itu mendorong, sekecewa apapun dengan layanannya, ia tetap akan memberi bintang 5.
“Asal nggak kebangetan aja. Maksudnya kebangetan itu ya misalnya arogan, melakukan pelecehan seksual, atau menjadi pelaku kekerasan ke customer. Kalau sudah kayak begitu, lapor ya lapor aja lah ke Polisi,” tutur Jonan.
Perkara ramah dan tidak ramah yang kerap memicu bintang 1
Makanya, sama seperti saya, Jonan juga mengaku tercengang saat ada customer yang bisa dengan leluasa memberikan bintang 2 bahkan 1 ke driver ojol.
Sepengalaman Jonan, ia ada teman yang bahkan ngasih bintang 1 karena merasa si driver nggak ramah: tidak menyapa dengan senyum, diam saja sepanjang perjalanan (tidak ngajak berbincang).
“Sekarang gini lah, betapa repotnya bapak-bapak ojol. Pas dia ngajak ngobrol, eh ada customer dengan tipikal introvert yang merasa keganggu karena merasa bapak ojol sok akrab dan melanggar privasi. Tapi pas coba diam dengan alasan hati-hati, dapat customer tipikal kaya temenku kena juga dibilang nggak ramah,” beber Jonan.
Sialnya memang di aplikasi belum ada fitur yang bisa milih: misalnya milih driver yang suka ngobrol. Seandainya ada, pasti salah paham-salah paham seperti yang dipaparkan Jonan bisa diminimalisir.
Kalau Jonan sendiri, dalam konteks perbincangan di atas motor, mencoba selalu husnuzon. Siapa tahu si bapak ojol diam saja karena sudah sangat kelelahan.
“Kalau dapat yang suka ngobrol, walaupun aku energi sosialku udah habis, tetap kuladenin walaupun sekenanya. Karena aku melihatnya, itu adalah upaya si driver biar dapat bintang 5, dianggap ramah dan menyenangkan. Dan akhirnya memang kukasih bintang 5,” kata Jonan.
Sementara bintang 1 bikin rezeki mereka terancam seret
Kembali ke pernyataan Jonan: ngasih bintang 5 ke driver ojol tidak bikin rugi. Tapi sekali memberi bintang 1, itu akan membuat rezeki mereka terancam seret.
Dampak paling dekat dari pemberian bintang 1 adalah turunnya rating si driver. Jika sudah begitu, maka si driver tidak akan menjadi prioritas driver untuk menerima orderan: jumlah orderan pun akan berkurang jika tidak lekas diiringi oleh perbaikan rating.
Itu sangat menjelaskan kenapa driver ojol yang mengantar saya sampai memohon-mohon agar tidak saya “hukum” dengan bintang 1. Pasalnya, dalam situasi rating normal saja ia masih kesulitan mendapat orderan, apalagi kalau ratingnya turun. Jumlah orderan pun akan makin seret.
“Kalau berpikir sampai situ, aku selalu nggak tega kalau mau ngasih bintang 1. Dan aku belum pernah. Karena ketidakpuasan layanan yang kuterima pun masih di wilayah wajar, belum yang kebangetan,” ujar Jonan.
“Kalau ada dorongan buat ngasih bintang 1, aku langsung kebayang, bapak-bapak ojol ini di rumah ada anak dan istri. Aku nggak sampai hati kalau bikin seret rezeki bapak ojol, sementara ada anak dan istri yang harus dihidupi. Di saat yang sama, aku juga menyadari, bapak-bapak ojol ini juga korban sistem kapital,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














