Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 Januari 2026
A A
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Ilustrasi - Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seminggu lalu (Minggu, 4/1/2026) saya kembali ke Jogja. Lalu pada Sabtu (10/1/2026) kemarin saya balik lagi melintasi jalan raya Pantura Rembang karena ada situasi yang mengharuskan saya pulang.

Baru seminggu lalu saya melintasi jalanan Rembang yang “wajar”. Namun, saat pulang seminggu kemudian, jalan raya Pantura Rembang benar-benar berubah menjadi jalur mengerikan.

Pasalnya, selama seminggu terakhir, dari cerita orang-orang di rumah, memang hujan turun tanpa hati. Dari pagi ke malam, dari malam ke pagi lagi. Jalur Pati-Kudus bahkan diterjang banjir hingga lalu-lintas tersendat.

Lubang dari ujung ke ujung jalan Pantura Rembang

Saya awalnya tak tahu persis situasi jalan raya Pantura Rembang karena tiba di kota ini malam hari. Bus yang saya naiki pun menurunkan saya persis di gapura desa saya.

Mata saya mulai melihat betapa mengerikannya jalan raya Pantura Rembang pada Minggu, (11/1/2026) sore ketika saya berkendara motor dari Kecamatan Sluke (kecamatan saya) ke Pandangan Wetan (rumah sepupu).

Nyaris tidak ada jalan yang bisa dipilih. Jika biasanya motor menggunakan jalur pinggir, dalam situasi itu motor tidak bisa ngapa-ngapain. Berjalan agak ke tengah banyak lubang besar, berjalan di pinggir malah lebih bahaya lagi: Ada perpaduan antara kerikil licin, genangan air, dan lubang menganga yang tak terlihat.

Ternyata kondisi tersebut juga terjadi hingga ke ujung timur Rembang: Sarang. Berdasarkan cerita sepupu saya yang sehari-hari mengantar pesanan air galon di jalur Pandangan-Sarang, malah sempat ada pengendara motor yang kecelakaan. Ia terlanjur melaju kencang, menghindari lubang di pinggir, meliuk ke tengah, eh jebul kena lubang yang di tengah. Tersungkur lah ia ke aspal.

Kondisi tak kalah parah juga saya dapati hingga ke pusat kota Rembang. Pagi ini, Senin (12/1/2025), saat saya menuju pusat kota untuk mencari bus Rembang-Semarang, saya dan adik saya sampai kelimpungan mencari jalan yang mulus. Nyaris tidak ada. Semua berlubang, rapat, dan beberapa bahkan menganga.

Bahaya di balik genangan

Kebanyakan pemuda desa saya bekerja di pabrik-pabrik di Rembang. Mereka mengku, dari yang semula bisa menancap gas kencang-kencang, meliuk di antara truk-truk besar, hari-hari ini mereka mengaku jiper. Lebih memilih pelan-pelan asal sampai tujuan.

Sebab, hujan yang turun nyaris tanpa henti membuat jalan raya Pantura Rembang banyak tergenang air. Masalahnya, genangan-genangan itu bukan sekadar genangan, yang kalau diterabas, risiko paling mentok hanya basah.

Genangan-genangan itu menyimpan bahaya. Kalau tidak lubang, ya krikil licin. Sehingga mau tidak mau harus sangat pelan melintasinya.

Oleh karena itu, beberapa pemuda desa saya harus berangkat lebih pagi biar tidak terburu-buru dan selamat di jalan. Pulang sampai rumah pun harus sedikit telat. Sebab, di malam hari, jalan raya Pantura Rembang gelap gulita. Kalau mata tidak fokus, bisa-bisa tersungkur ke aspal.

Truk-trun besar makin menyebalkan di jalan raya Pantura Rembang

Di hari-hari biasa, sebenarnya truk-truk besar dan bus yang melintas di jalan raya Pantura Rembang sudah sangat ugal-ugalan. Namun, di situasi hujan dan jalan rusak seperti ini, entah kenapa mereka malah lebih ugal-ugalan lagi.

Beberapa pemuda desa mengakui itu. Saya pun mengalaminya sendiri dua hari ini. Ada dua situasi:

Iklan

Pertama. Karena ugal-ugalan itu, roda-roda truk yang menggilas genangan air tentu saja akan memuncratkan air kotor ke pengendara motor. Alhasil, tidak hanya basah kuyup, pengendara motor seperti saya pun harus berkendara dalam kondisi kotor terkena krikil dan percikan tanah lumpur.

Kedua. Saat pengendara motor mencoba menghindari lubang, mau tak mau harus berjalan zig-zag. Kadang ke tengah, lalu ke pinggir.

Sementara dari arah belakang (bahkan berlawanan), truk-truk besar dan bus melaju ugal-ugalan. Para sopir lalu akan meneror pengendara dengan klakson pekak dan berulang.

Itu bisa membuat pengendara motor kaget dan gugup. Jika gugup, pasti refleks akan mencoba kembali ke pinggir. Sedangkan saat ke pinggir, roda depan langsung menghantam lubang. Alhasil, terseok-seok lah pengendara motor mencoba menyeimbangkan tubuh agar tidak jatuh. Kalau tidak seimbang, wassalam.

***

Masalah-masalah itu menjadi masalah berulang di jalan Pantura Rembang tiap musim hujan. Nanti jika lewat musim hujan, pasti akan ditambal. Berlubang lagi di musim hujan berikutnya, lalu ditambal lagi, begitu seterusnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Rembang Sangat Butuh Kereta Api karena Perjalanan di Jalan Pantura Amat Menyiksa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2026 oleh

Tags: jalan panturajalan pantura berlubangjalan rembang rusakpanturarembang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO
Urban

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO
Sehari-hari

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Mendalam

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Barongsai di bandara saat imlek. MOJOK.CO

Semangat Tahun Kuda Api bikin Trafik Penumpang Milik InJourney Melambung 10 Persen Saat Imlek 2026

19 Februari 2026
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.