Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Duka Merantau Lama: Rumah Jadi Tak Seperti Rumah Sendiri, Tiap Pulang Terasa Hanya Sebagai “Tamu” Bukan Penghuni Asli

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 Oktober 2025
A A
Duka bertahun-tahun merantau di perantauan: Rumah tak seperti rumah, pulang bukan sebagai penghuni tapi tamu MOJOK.CO

Ilustrasi - Duka bertahun-tahun merantau di perantauan: Rumah tak seperti rumah, pulang bukan sebagai penghuni tapi tamu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang tua belum puas melihat anak, tapi sudah harus “direbut” perantauan

Karena jarak antara rumah dan tempat merantau yang membentang jauh, sulit bagi Citra dan Nofri untuk leluasa pulang (misalnya seperti saya yang dua bulan sekali).

Sebenarnya, bisa saja mereka pulang tiga bulan sekali, mengambil akhir pekan. Namun, waktunya akan habis di perjalanan. Sementara pekerjaan mereka kerap tak mengenal libur panjang, sekali pun tanggal di kalender menunjukkan warna merah menyala.

“Aku pernah seperti itu (nekat pulang di akhir pekan) karena sudah kangen. Pulang Jumat malam, sampai rumah Sabtu pagi. Terus Minggu siangnya harus balik Jakarta lagi,” ungkap Citra.

“Rasanya baru nyampe rumah, numpang tidur, terus bangun tidur langsung pergi,” sambungnya.

Akhirnya, tangis lah yang mengiringi perjalanan Citra kembali ke perantauan. Terbayang wajah bapak-ibu yang penuh haru melepasnya kembali.

“Rasanya nyesek ketika ibu berbisik, “Mbak, mbak, Ibu belum puas melihat kamu di rumah, kamu malah cuma sebentar”,” tutur Citra. Pulang tak lebih dari sekadar bertamu. Begitu kira-kira jadinya.

Pulang ke rumah bukan seperti penghuni, tapi tamu

Nofri pun sama belaka. Tiap pulang, rasanya baru sebentar dia duduk di kursi ruang tengah. Menikmati kopi pahit buatan ibu, sembari mengisap rokok bersama bapak. Lalu membincangkan hal-hal sederhana hingga larut.

Namun, esok harinya, Nofri harus kembali lagi ke perantauan. Padahal, dulu—jauh sebelum merantau—situasinya tak seperti itu.

“Misalnya, dulu waktu SMA, aku kan sering pamit main sama teman-teman ke gunung katakanlah. Paling tiga hari, lalu di rumahnya lebih lama. Sekarang malah jadi turis atau tamu di rumah sendiri,” kata Nofri.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Bromenn__ (@ironmen____123)

Tak pernah benar-benar merasa pulang

Di perantauan, indekos memang menjadi laiknya rumah bagi Citra dan Nofri. Paling tidak dalam konteks permukaan: Tempat pulang.

Iklan

Akan tetapi, indekos tetaplah indekos. Bukan rumah.

Alhasil, setelah bertahun-tahun merantau, Citra dan Nofri merasa mereka tak pernah benar-benar bisa merasakan “pulang”. Indekos tetaplah tetap asing. Sementara rumah yang mereka huni sejak kecil kini membuat mereka terasa tak lebih dari seorang tamu yang singgah sebentar.

Eisenbruch dalam Social Science & Medicine (1991) menyebut pengalaman ini sebagai cultural bereavement. Yakni ketika migran (perantau) sering kali merasa seolah-olah mereka kehilangan rumah, bahasa, bahkan sebagian jiwanya. Duka budaya ini membuat seseorang seperti hidup di antara dua dunia, tanpa bisa sepenuhnya pulang ke salah satunya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Suara Ibu di Telepon Selalu bikin Tenang usai Hadapi Hal-hal Buruk dan Menyakitkan di Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2025 oleh

Tags: merantauperantauanpulangrumahrumah tak lagi sama
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO
Sehari-hari

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO
Urban

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

9 Maret 2026
Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO
Urban

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Senyum Palsu Anak Pertama Saat Adik Lolos PTN Impiannya, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Penuh Derita dan Pusing Mikir Biaya

10 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan pesawat

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.