Film “Surat untuk Masa Mudaku” tak hanya bercerita tentang trauma anak-anak yang tinggal di panti asuhan. Film karya Sutradara Sim F yang tayang di Netflix ini mengisahkan hubungan bermakna antar lintas generasi yang saling mengisi kesepian satu sama lain, serta cara seseorang berdamai dengan kehilangan.
***
Film “Surat untuk Masa Mudaku” di Netflix diawali dengan kecemasan Kefas–diperankan oleh Fendy Chow, yang terlalu protektif dengan putrinya Abigail (Sadiya Aisye). Di momen ulang tahun putri kecilnya itu, Kefas seolah hilang kendali saat putrinya jatuh sakit.
Padahal, istrinya Rania (Agla Artalidia) sudah merawat Abigail. Tapi Kefas yang panik akhirnya membawa Abigail ke rumah sakit dan minta segera ditangani. Merasa ada yang salah dengan suaminya, Rania memutuskan membawa pergi Abigail pagi-pagi sekali agar Kefas menenangkan diri.
Tak lama setelah itu, Kefas mendengar kabar duka di mana pengurus panti asuhan tempat tinggalnya dulu, Simon Ferdinan (Agus Wibowo) meninggal. Sosok pengurus yang awalnya tidak ia sukai, tapi berujung jadi hubungan penuh arti.
Dari situlah kisah berlanjut ke masa lalu. Tentang Kefas remaja (Millo Taslim) yang mengalami trauma karena adiknya tiada. Sementara pengurus pantinya dulu tak peduli. Bahkan menipu anak-anak di panti dengan menyalahgunakan dana dari donatur.

Akibatnya, Kefas membenci siapa pun pengurus pengganti di panti asuhan Pelita Kasih. Hingga menjahilinya agar mereka tak betah. Namun, ada satu orang yang akhirnya memahami sifat nakal Kefas di masa remaja. Ia adalah Simon.
Kehidupan nyata anak panti asuhan
Di awal kehadiran Simon dalam film “Surat untuk Masa Mudaku” di Netflix, saya cukup sulit menebak bagaimana caranya Simon mengakrabkan diri dengan anak-anak. Dan apa tujuan sebenarnya menjadi pengurus panti asuhan. Sebab, saat pertama kali datang, Simon sama sekali tak menunjukkan kesan peduli maupun serius menjalani tugasnya.
Wajahnya lempeng, sama sekali tak menunjukkan minat tapi pada dasarnya ia adalah orang baik. Beberapa kali Kefas menjahilinya dan membuatnya repot, tapi Simon tetap sabar. Sampai akhirnya, Kefas melakukan hal fatal saat acara bakti sosial di pantinya.
Bagi anak-anak panti asuhan, acara itu sangat berharga karena mereka bakal kedatangan para donatur. Syukur-syukur kalau mereka tertarik dengan salah satu anak panti dan mengadopsinya. Itulah mengapa acara bakti sosial begitu penting bagi mereka, tapi Kefas justru menghancurkannya.

Tak pelak teman-temannya seperti Sabrina (Aqila Faherby) sosok paling dewasa di antara mereka, Joy (Cleo Haura) cewek tomboy sahabat Kefas, Boni (Halim Latuconsina) si anak bontot yang berperawakan khas Indonesia timur, Romi (Jordan Omar) dan Desi (Diandra Salsabila Lubis) yang pintar menyanyi, justru memusuhi Kefas karena perilakunya sudah kelewat batas.
“Surat untuk Masa Mudaku” bukan film biopik
Sebagai Sutradara film “Surat untuk Masa Mudaku” di Netflix, Sim F mengaku terinspirasi dari kehidupan nyata anak-anak di panti asuhan. Ia ingin menunjukkan perjuangan mereka mengatasi kesedihan karena ditinggal orang-orang yang dicintainya, tapi kemudian bahagia dengan kehadiran satu sama lain meski tak punya ikatan darah.
Tak kalah penting, di balik kesedihan itu, ada harapan dari anak-anak panti asuhan untuk memperoleh kebahagiaan dengan diadopsi dan memiliki keluarga baru. Meski begitu, Sim F tak ingin mendramatisasi kisah hidup tokoh nyata.
Ia bersama penulis naskah Daud Sumolang telah berupaya meracik cerita nyata tersebut menjadi satu benang merah emosional yang kuat. Itu sebabnya, alur cerita yang dihasilkan sangat runtut dan jelas meski film “Surat untuk Masa Mudaku” menggunakan alur maju-mundur.
“Saya dan penulis naskah Daud Sumolang meramu cerita-cerita dari kehidupan nyata di panti asuhan menjadi satu tema, yaitu rasa kehilangan, yang dirasakan oleh karakter Kefas remaja, Kefas dewasa, sampai Pak Simon,” ujar Sim F dalam konferensi pers pada Rabu, (28/1/2026).

Tapi, walaupun alur ceritanya sudah bagus, akting para pemain khususnya anak-anak masih terasa agak kaku di sepertiga film. Maklum karena beberapa pemain memang masih baru. Beberapa dialognya juga terdengar sangat rapi dengan gestur emosi yang belum natural.
Namun, seiring berjalannya waktu, kualitas akting para pemain menunjukkan peningkatan yang signifikan. Terutama Halim Latuconsina yang terkesan natural dengan kepolosan dan kelucuannya sebagai Boni.
Saling mengisi kesepian
Kisah masa lalu Simon terungkap pada adegan klimaks, di mana Kefas kabur dari panti asuhan karena ia marah pada Wahyu (Willem Bevers) selaku pemilik yayasan yang bakal mengusir dirinya.
Saat Kefas menumpahkan kesedihannya di makam Angelina adiknya, Simon hadir untuk menemani. Hati Kefas yang masih batu akhirnya luruh saat Simon bercerita tentang masa lalunya.
“Anak saya kecelakaan motor enam tahun yang lalu. Istri saya meninggal mendadak empat bulan yang lalu. Saya tahu rasanya ditinggal sendirian dan itu nggak enak,” ujar Simon yang semasa kecil juga pernah tinggal di panti asuhan bersama Wahyu.
Tak hanya Kefas yang akhirnya luruh, Simon yang sebelumnya kesepian setelah kehilangan anak dan istrinya, kini lebih bisa tersenyum dengan tulus berkat keceriaan anak-anak di panti asuhan.
Alih-alih mengakhiri hidup, Simon berubah pikiran dengan tetap menjadi pengurus panti asuhan hingga Tuhan benar-benar mengambil nyawanya. Kematian Simon membuat Kefas sadar untuk berdamai dengan kematian sekaligus kesepian. Dalam euloginya di Netflix, Kefas berpesan.
Isi film “Surat untuk Masa Mudaku”
Aku ingin bersyukur pada diriku yang berusia 12 tahun. Di usia itu kau dan adikmu ditinggalkan di panti asuhan dengan janji akan kembali, meski kau tahu janji itu tak akan ditepati tetapi kau terus menunggu dan berharap. Banyak rasa sakit hati, kehilangan, serta tangisan di malam hari, tapi kamu nggak pernah mau menunjukkannya ke orang lain. Kamu berusaha menjadi kekuatan untuk adikmu.
Aku juga ingin bersyukur pada diriku yang berumur 15 tahun. Di mana kau harus menghadapi kepergian adikmu dengan menyalahkan diri sendiri karena tak mampu menjaganya. Rasa bersalah serta kemarahan terus ada padamu. Namun, aku bangga karena di tengah kegelapan itu kau memilih untuk bangkit dan melawan keputusasaan, meski itu tidak mudah.
Di tengah segalanya aku sangat bersyukur Pak Simon hadir pada saat itu. Dan juga kembali hadir di saat ini. Ternyata rasa ketakutan akan kehilangan orang yang kucintai masih ada sampai saat ini.
Di hari kehilanganmu ini kamu justru mengingatkanku bahwa apa yang kamu alami di masa lalu menjadi kekuatanku di hari ini, yaitu kekuatan untuk bersyukur. Dan menerima setiap kehilangan dengan hati yang lapang. Memilih kebahagiaan, meski di tengah rasa kehilangan.
Sekali lagi Pak Simon, yang akhirnya membuatku paham hari ini, di hari aku kehilanganmu. Selamat jalan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Series “Trio Bintang Lima”: Saat Arwah Eyang Turun Tangan Ingatkan Gen Z yang Lupa Soal Tata Krama Orang Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














