Ada sekian dalil—baik dalam Al-Qur’an maupun Hadis Nabi Saw—yang mengisyaratkan agar manusia tak merusak alam. Dalil-dalil tersebut dipaparkan (kembali) oleh tokoh-tokoh kaliber pesantren seperti KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), KH. Abdurrohman Al Kautsar (Gus Kautsar), Tuan Guru Bajang Zainul Majdi, hingga Prof. Quraish Shihab. Warganet menggunakan dalil-dalil tersebut sebagai respons atas tuduhan wahabi lingkungan dari Gus Ulil terhadap orang-orang yang menyerukan untuk senantiasa menjaga alam.
Gus Ulil, wahabi lingkungan, dan tombing-tambang
Kala banjir bandang memorak-porandakan Aceh dan Sumatera, pernyataan Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) dalam acara ROSI Kompas TV menjadi salah satu yang diungkit warganet.
Pertanyaan balik Gus Ulil kepada Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, benar-benar membuat publik geram.
“Kenapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ekosistem awal?” Pertanyaan balik itu dilontarkan Gus Ulil dengan dagu mendongak. Bahkan setelahnya diikuti dengan tudingan “wahabi lingkungan” bagi orang-orang yang dianggap mengampanyekan upaya menjaga alam secara berlebihan.
Pertanyaan balik Gus Ulil itu kemudian disandingkan dengan potongan-potongan video: Kayu-kayu gelondongan—diduga hasil pembalakan untuk sawitisasi dan aktivitas pertambangan—yang turut terseret banjir bandang yang menenggelamkan Aceh dan Sumatera.
Membawa laqab “Gus” sebagai orang yang dianggap paham soal agama, publik tentu mempertanyakan: Memangnya agama, terkhusus agama Islam sebagai agama yang Gus Ulil anut, tidak mengajarkan betapa pentingnya menjaga alam/lingkungan?
Lebih-lebih, alih-alih memberi klarifikasi yang menunjukkan empati atas bencana di Aceh dan Sumatera, belakangan Gus Ulil malah memberi pernyataan yang makin memancing amarah publik.
Ulil mengatakan, manusia saat ini bergantung dengan produk tambang, terutama untuk kebutuhan energi. Oleh karena itu, ia terang-terangan menolak gagasan zero mining (nol penambangan).
“Jadi kalau ada orang kok pandangannya zero mining bagi saya itu goblok,” ujar Gus Ulil sebagaimana tersebar di media sosial, Selasa (2/12/2025).
“Mining yang tepat, adalah, oke, kita mining tetapi diatur dengan aturan. Saya mendukung pemerintah untuk melakukan penertiban,” tambahnya.
Dalil agar tak merusak alam, menjawab tudingan wahabi lingkungan dari Gus Ulil
Al-Qur’an dan Hadis—sebagai landasan hukum utama—umat Islam sebenarnya sudah mengatur secara jelas perihal ini. Inna Allaha la yuhibbu al-mufsidin (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan).
Pendek saja. Tapi seharusnya sudah bisa ditangkap maksudnya. Namun, bagi warganet, mau berharap apa pada Gus Ulil sebagai orang yang terkesan mengotak-atik hukum Islam untuk mencapai tujuan golongan?
Karena bersamaan dengan pernyataan kontroversial Gus Ulil tentang alam di atas, beredar video lama saat Gus Ulil menyatakan bahwa hukum rasuah/menyuap itu sah asal untuk tujuan yang haq.
Sementara dalam H.R. Ahmad, Abdullah bin Amr dan Ibnu Abi Syaiban menyebut Rasulullah Saw secara tegas mengatakan: “Laknat Allah kepada pemberi suap, penerima, dan perantaranya.”
Nah, kembali soal menjaga alam/lingkungan, sejumlah tokoh kaliber pesantren memberi penjelasan tentang ayat-ayat Al-Qur’an dan Sabda Nabi Saw perihal betapa seharusnya manusia tak merusak alam:
Gus Kautsar: Menanam-menjaga alam itu harus sampai kiamat
Gus Kautsar menjadi tokoh yang paling terang-terangan mengkritik pernyataan Gus Ulil. Melalui majelisnya, kiai asal Kediri, Jawa Timur, itu menyayangkan Gus Ulil yang mempertanyakan apa pentingnya mengembalikan ekosistem.
Gus Kautsar menukilkan Hadis sahih dari riwayat Ahmad dan Bukhari:
إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Kalau memang kiamat nyata-nyata mau datang dan di tangan kita masih ada benih, kalau masih punya kesempatan, nyawa masih ada, tangan masih ada, maka tanam! Meskipun kiamat sudah di depan mata,” jelas Gus Kautsar mengenai maksud dari Hadis sahih tersebut.
“Karena ada generasi berikutnya sebagai khalifah-khalifah generasi sebelumnya yang akan meneruskan itu semua,” sambungnya.
Bagi Gus Kautsar, apa yang kita rasakan, keindahan yang kita dapatkan, keamanan yang kita dapatkan saat ini, harus dirasakan pula oleh anak-anak dan keturunan kita di masa mendatang.
Lihat postingan ini di Instagram
Gus Baha: Allah mengkritik orang jahat, yakni orang yang merusak alam
Dalam sebuah kajian, Gus Baha mengaku senang dengan keberadaan orang-orang yang mengampanyekan untuk merawat/menjaga bumi.
Sebab, sudah seharusnya manusia itu takhallaqu bi akhaqi-llah (berakhlak sebagaimana akhlak Allah). Di antara akhlak atau perbuatan Allah Swt berakaitan erat dengan urusan tanam-menanam.
Gus Baha menyebut, Allah dengan bangga berkata dalam Q.S Abasa: 24-32:
فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami (Allah) benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”
Gus Baha juga menyitir Hadis riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmizi dan Tabrani:
لاَ يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَادَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Rasulullah Saw bersabda, ‘Tiada seorang muslim (manusia) yang menanam pohon atau tumbuhan lalu dimakan oleh seseorang, hewan ternak, atau apapun itu, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya.’”
Sebagai penegasan, Gus Baha menunjukkan betapa Allah Swt mengkritik orang-orang yang suka merusak alam seperti dalam Q.S. Al-Baqarah: 205:
وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Apabila berpaling manusia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Sungguh Allah tidak menyukai kerusakan.”
“Ciri-ciri utama orang yang tidak baik adalah yang merusak tanaman, tetumbuhan, merusak populasi,” jelas Gus Baha.
Lihat postingan ini di Instagram
Quraish Shihab: Al-Qur’an ajarkan keseimbangan
Sementara itu, Quraish Shihab dalam momen “Ngaji Bareng bersama Prof. Quraish Shihab dan Gus Baha” di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta baru-baru ini, menekankan pentingnya manusia menjaga keseimbangan. Termasuk keseimbangan menyikapi alam. Sebab itu lah ajaran Allah Swt dalam Al-Qur’an.
“Boleh jadi bencana di Aceh hingga Sumatera itu karena ulah kita (karena tidak seimbang),” ucapnya.
“Bumi ini indah dan kait-berkait. Pohon berbatang berdampingan dengan rumput, pohon besar tidak menzalimi yang kecil, yang kecil tidak mengganggu yang besar. Ada keserasian,” jelas Quraish Shihab. Artinya, manusia seharusnya tidak zalim pada alam agar tercipta keseimbangan.
أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
Q.S Al-Rahman: 7 itu ditekankan betul oleh Quraish Shihab agar manusia tidak melampaui batas atas timbangan dan keserasian yang ditetapkan oleh Allah Swt.
Jika manusia melampaui batas, gemar merusak alam/lingkungan alih-alih menjaga, maka akan terjadi sebagaimana dalam Q.S Al-Rum: 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Tuan Guru Bajang (TGB) juga mengutip Q.S Al-Rum tersebut sebagai pengingat atas bencana yang terjadi. Melalui akun Instagram resminya, ia mengedukasi publik perihal cara pandang Islam terhadap alam/lingkungan yang berbeda sama sekali dengan narasi “wahabi lingkungan” dan “zero mining itu goblok” dari Gus Ulil.
Lihat postingan ini di Instagram
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tapa Ngeli hingga Akidah Muttahidah Sang Wali Lingkungan, Menjaga Alam Muria dari Pengrusakan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













