Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Februari 2026
A A
Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO

Anak rantau yang sendirian dan rindu ibunya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada sebuah pemandangan yang jamak kita lihat di terminal atau stasiun menjelang berakhirnya masa libur panjang. Para perantau, biasanya anak-anak muda, memeluk sebuah tas kecil berisi wadah plastik atau bungkusan kertas minyak. Di dalamnya, biasanya tersimpan nasi bekal dari rumah. 

Ya, saya pernah menjadi salah satu dari mereka.

Dulu, setiap kali masa mudik berakhir dan saya harus kembali ke perantauan untuk kuliah, simbah putri selalu menyiapkan ritual yang tidak pernah absen. Beliau akan sibuk di dapur sejak subuh, menyiapkan bekal untuk menemani perjalanan saya.

Isinya sebenarnya sangat sederhana, bahkan bisa dibilang “menu standar” orang desa. Biasanya cuma kering tempe, telur dadar, atau ayam goreng yang bumbunya terasa sedikit asin. Jika saya sedang beruntung, simbah akan masak sayu khas ndeso favorit saya: oseng kulit mlinjo.

“Ojo lali dimaem [jangan lupa dimakan],” kata simbah putri, suatu waktu, kala memberikan bekal tersebut.

Secara logika, tidak ada alasan mendesak bagi saya untuk membawa bekal tersebut. Perjalanan saya dari rumah ke perantauan cuma dua setengah jam, saya bisa menahan lapar. 

Bahkan, menu-menu yang dibawa bukanlah makanan langka. Di kota perantauan saya, hampir setiap warung makan atau warteg menyediakan kering tempe dan ayam goreng dengan harga yang relatif murah. Oseng kulit mlinjo pun sesekali bisa saya temukan di pasar dekat kos. 

Namun, ada semacam hukum tidak tertulis yang memaksa saya untuk menerima dan membawa bekal tersebut.

Bahkan ketika sudah tak layak makan pun saya tak tega membuangnya

Pernah suatu kali, perjalanan kembali ke perantauan memakan waktu lebih lama dari biasanya karena macet yang parah. Sesampainya di kamar kos, saya baru sempat membuka bekal tersebut pada malam hari. 

Durasi perjalanan yang lama membuat makanan itu mulai berubah. Oseng kulit mlinjonya sudah sedikit berbau asam, dan ayam gorengnya pun mulai terasa tidak segar. Makanan itu kelihatan sudah tidak layak konsumsi. 

Namun, di hadapan meja kayu kamar kos, saya justru merasa buntu. Ada perasaan bersalah yang luar biasa jika saya langsung membuangnya ke tempat sampah. Saya akhirnya tetap memakannya beberapa suap, mencoba menghargai setiap tenaga yang dikeluarkan simbah untuk menggorengnya di dapur pagi-pagi buta.

Fenomena ini ternyata bukan hanya saya yang mengalaminya. Belakangan, saat saya membuka aplikasi TikTok, algoritma membawa saya pada konten-konten serupa. 

Banyak perantau yang mengunggah video kotak bekal pemberian orang tua mereka. Ada yang merekamnya sambil menangis di dalam bus, ada pula yang memotretnya di atas karpet kos. Mereka menyebutnya sebagai “makanan paling enak sekaligus paling menyakitkan.”

Bahkan, ada yang rela memanaskan makanan ini berkali-kali sambil menangis di depan penggorengan. Ada yang seperti saya, rela memakannya meski kondisi sudah tidak segar lagi karena tak tega membuangnya. Yang jelas, di balik nasi bekal itu, ada perasaan sedih yang susah untuk dicari penyebabnya.

Iklan

Serundeng kelapa, makanan yang tidak saya sukai tapi tetap saya habiskan demi ibu

Salah satu kisah haru pernah diceritakan Ayu (26), yang dulu berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dulu, setiap kali ia akan balik ke perantauan untuk melanjutkan studi, ibunya selalu membekalinya dengan serundeng kelapa. 

Lucunya, Ayu sebenarnya tidak terlalu suka serundeng. Rasanya yang manis dan teksturnya yang kering bukan seleranya. Namun, sang ibu tetap membawakannya karena alasan serundeng makanan yang paling “awet”.

“Katanya biar aku bisa ngirit,” kata Ayu, bercerita kepada saya, Jumat (6/2/2025).

Ibu Ayu tahu bahwa hidup di tanah rantau itu tidak mudah. Ada masa-masa di mana uang kiriman belum datang atau tugas kuliah begitu menumpuk hingga tak sempat mencari makan keluar. 

Menurutnya, serundeng itu dipersiapkan sebagai penyelamat Ayu di masa sulit. Ayu pun menyadarinya. Meski tidak doyan, ia selalu menghabiskan serundeng itu hingga butir terakhir. 

Ia memakannya bukan karena lapar atau doyan, tapi karena ia tahu serundeng itu adalah wujud kasih sayang ibunya yang tidak bisa menemaninya setiap hari di tanah orang.

“Apalagi aku juga tahu gimana ibu bikin serundeng itu lama dan penuh kesabaran. Kalau ingat masa-masa kuliah itu rasanya ingin nangis,” kata perempuan yang kini sudah bekerja sebagai PNS di Sleman tersebut. 

Sambal kacang berjamur yang tetap disimpan oleh perantau

Cerita lain datang dari Farhan (25). Saat baru awal-awal merantau untuk kerja, ibunya di kampung selalu membawakan sambal kacang dalam bungkusan plastik. Alasannya sama seperti ibu Ayu: sambal itu tahan lama, awet. 

Suatu ketika, karena kesibukan pekerjaan yang luar biasa, Farhan lupa mengeluarkan sambal itu dari wadahnya. Berhari-hari kemudian, ia baru tersadar dan mendapati sambal buatan ibunya sudah mulai berjamur putih di permukaannya.

Alih-alih membuangnya, Farhan justru memindahkan sambal yang sudah rusak itu ke dalam toples kaca yang lebih bagus dan menyimpannya di rak buku. Ia tidak bisa memakannya, tapi ia juga tidak sanggup melenyapkannya. 

“Aku nggak sanggup buat buang makanan dari ibu,” ujarnya.

Ia baru membuangnya ketika mudik dan bilang secara jujur kepada ibunya bahwa dia pernah lupa menghabiskan bekal itu. “Kata ibu nggak apa-apa dibuang, nanti dibuatkan lagi. Jujur kalau ingat masa-masa itu rasanya sedih banget.”

***

Bagi saya, merantau adalah proses menjadi asing. Di kota besar, kita hanyalah angka dalam statistik. Kita semua pekerja yang bisa diganti kapan saja, atau mahasiswa yang tidak dikenal siapa-siapa. 

Namun, saat kita membuka kotak bekal dari rumah, identitas kita kembali pulih. Kita kembali menjadi anak ibu atau cucu simbah yang disayangi. Aroma kering tempe atau sambal kacang itu adalah aroma rumah yang kita bawa di dalam tas.

Kesedihan yang muncul saat memakan bekal itu, yang sering disebut sebagai bagian dari post-travel depression, sebenarnya adalah wujud syukur yang tak tersampaikan. Kita menangis bukan karena makanannya tidak enak, tapi karena kita sadar bahwa seiring dengan habisnya isi kotak bekal tersebut, habis pula sisa-sisa kedekatan fisik kita dengan rumah. 

Ada yang pernah merasakannya juga?

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2026 oleh

Tags: cerita merantauibukesedihan merantaumerantauperantaupilihan redaksirindu rumah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO
Tajuk

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026
Open To Work.MOJOK.co
Sehari-hari

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
Sinefil.MOJOK.co
Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO

Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata

9 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan dan Vita Rilis Video Klip "Rayuanmu" yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!.MOJOK.CO

Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!

9 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.