Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
21 Januari 2026
A A
Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO

Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di Tiongkok. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP asal Ponorogo yang tak ingin terkukung di tempat kelahirannya, kini berhasil keluar dari zona tersebut. Mulai dari kuliah S1 Fisika Murni di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), jadi guru honorer di kampung halaman, lanjut S2 di Tiongkok, hingga diterima di perusahaan internasional.

***

Ulfi berujar belum banyak anak-anak di Ponorogo yang punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi pada masa itu. Lulus SMA saja sudah syukur alhamdulillah. Maklum, kata dia, sebab Ponorogo bukanlah kota besar dan ramai. Tapi justru, dari pemikiran itulah tekad Ulfi untuk merantau dan menemukan hal baru muncul. 

“Awalnya aku berpikir, bagaimana aku bisa keluar dari Ponorogo? Karena aku ingin lihat dunia lebih luas,” kata Ulfi.

Tanpa sengaja, Ulfi mengamati kakak tingkatnya di Madrasah Aliyah yang berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri ternama. Dari sanalah Ulfi seolah menemukan jawaban. Ia pun bertekad untuk menempuh jalur serupa.

Guna menembus PTN yang ia inginkan, Ulfi mengumpulkan prestasi dari lomba karya tulis ilmiah, penelitian, dan kompetisi penulisan. Beruntung, upayanya tersebut membuahkan hasil yakni diterima sebagai mahasiswa S1 Fisika Murni di UNY jalur beasiswa Bidikmisi.

Tunda mimpi dan jadi guru honorer

Singkat cerita, Ulfi akhirnya lulus sebagai Sarjana Fisika Murni di UNY. Ia pun punya keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Namun, ia memilih menyimpan niat tersebut rapat-rapat karena belum percaya diri.

Anak sulung dari empat bersaudara itu mengaku belum yakin dengan kemampuannya, terutama dalam Bahasa Inggris. Alhasil, Ulfi memutuskan kembali ke Ponorogo dan menjadi guru honorer.

Ketertarikannya dalam mengajar ia dapat semasa kuliah di UNY lewat program Kampus Mengajar selama 6 bulan. Ia pun tak menyangka pengalaman tersebut dapat membawanya lolos wawancara kerja sebagai guru honorer di MAN 2 Ponorogo usai lulus S1.

Di sana, Ulfi tak hanya mengajar pelajaran dasar tapi juga mengampu kegiatan karya ilmiah remaja. Semakin dalam ia menggeluti bidang tersebut, Ulfi jadi sadar dampak nyata dari pendidikan yang membebaskan.

“Aku punya misi, bagaimana caranya anak-anak di sini tahu bahwa kampus itu seperti apa, minatnya di bidang apa dan bukan lagi soal salah jurusan. Dan hal itu harus mereka ketahui sedini mungkin,” tuturnya.

Sayangnya, semangat itu pula yang menyadarkannya bahwa profesi guru terlalu kompleks untuk ia jalani. Apalagi, ia hanya memegang ijazah Fisika murni tanpa punya sertifikasi sebagai seorang pendidik. Sadar dengan realita tersebut, Ulfi akhirnya memilih kuliah lagi guna meningkatkan kapasitas diri.

Sulitnya dapat restu, padahal LPDP sudah digenggaman

Tentu saja Ulfi tahu kalau biaya S2 tidak murah sedangkan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya saja, Ulfi masih bergantung dengan keluarga, di mana ayahnya seorang petani yang harus menghidupi ibu dan 4 adiknya. Karena itu, Ulfi mencari tahu informasi soal beasiswa LPDP.

Setelah mengumpulkan informasi dari teman-temannya, Ulfi mantap memilih program LPDP di Central South University (CSU), Tiongkok sekaligus melanjutkan bidang keilmuan yang ia geluti semasa kuliah di UNY dulu yakni Jurusan Teknik Metalurgi.

Iklan

Teknik Metalurgi mempelajari tentang proses pengolahan mineral, ekstraksi, pemurnian, hingga pembuatan logam serta paduannya. Tanpa disangka, ia lolos sebagai mahasiswi CSU dengan beasiswa LPDP gelombang kedua tahun 2018.

Kini, masalahnya hanyalah perizinan dari keluarga. Sebab di Ponorogo, melanjutkan S2 ke luar negeri ditambah seorang perempuan bukanlah hal lazim. Bahkan, Ulfi mengaku mendaftar tanpa izin ibunya terlebih dahulu. 

“Aku daftar diam-diam dan alhamdulillah-nya lolos,” ucapnya.

Pada akhirnya harus belajar dua bahasa

Penolakan awal sang ibu bukanlah larangan tanpa alasan, melainkan cerminan keterbatasan informasi dan kekhawatiran. Dengan peran ayah yang berpikiran lebih terbuka, Ulfi memilih diskusi pelan tapi konsisten. 

Terutama masalah biaya yang tak perlu dipersoalkan karena ia mendapat beasiswa LPDP. Hingga akhirnya, Ulfi mendapat izin, tepat di akhir semester pertama saat ia harus berangkat ke CSU setelah menjalani kuliah online karena pandemi Covid-19.

“Bapak itu pemikirannya lebih terbuka dan bisa meyakinkan Ibu. Jadi kita ngomongnya bertahap, pelan-pelan, bukan sesuatu yang memaksa, dan Bapak juga ikut bantu buat ngobrol.” kenangnya.

Sebenarnya, bukan pengalaman perdana bagi Ulfi menginjakkan kaki di luar negeri. Ia pernah mengikuti kompetisi di luar negeri saat S1. Hanya saja, tantangannya masih sama yakni dari segi bahasa. Meski pengantar kuliah menggunakan bahasa Inggris, Mandarin tetap hadir dalam diskusi teknis.

“Di situ saya menemukan poin, ternyata bahasa Mandarin itu sangat penting,” ungkapnya.

Setibanya Ulfi di Tiongkok, ia mengikuti kelas Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì (HSK) Mandarin Camp selama tiga bulan, hingga lulus HSK III sebelum magang. Ia juga belajar budaya baru yang membuatnya tertegun.

Di sana, Ulfi melihat pelajar SMP pulang larut malam dengan tumpukan buku, dan mahasiswa memenuhi perpustakaan bahkan di hari Minggu. Tanda bahwa semangat belajar mereka begitu tinggi. Dari situlah semangat Ulfi muncul kembali agar tidak menyia-nyiakan beasiswa LPDP yang ia terima.

Berhasil manfaatkan LPDP setelah lulus

Berkat ketekunannya dalam belajar dan memanfaatkan beasiswa LPDP dengan baik, Ulfi berhasil diterima kerja sebagai Assistant Production Engineer di departemen prekursor PT QMB New Energy di Morowali, Sulawesi Tengah.

Sebagai informasi, perusahaan itu memiliki kerja sama karier dengan program beasiswa LPDP. Tepatnya di bawah naungan GEM Co Ltd. Dari sana, Ulfi menyadari pentingnya mempelajari jumlah rantai pasok nikel di dalam negeri agar tak sekadar mengeruk material mentah dan dibawa lari ke luar negeri.

Lebih dari itu, bagi Ulfi, perjalanannya saat ini adalah bentuk pertanggungjawabannya kepada rakyat Indonesia yang telah membiayai pendidikannya melalui LPDP. 

“Terima kasih banyak kepada pihak LPDP dan tentunya ini semua tidak lepas dari kontribusi rakyat Indonesia. Tanpa mereka semua, aku mungkin nggak bisa melanjutkan pendidikan sampai jenjang sekarang.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Cerita Lulusan Bahasa Mandarin UM Malang Dulu Dianggap Enggak Guna tapi Sekarang Panen Cuan, Biaya Kuliah Tak Semahal Jadi Dokter dan Polisi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2026 oleh

Tags: alumnus UNYkisah inspiratifkuliah di Cinakuliah s2lolos LPDPLPDPperusahaan Tiongkokuny
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO
Sosok

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO
Edumojok

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO
Edumojok

Lulusan Beasiswa Australia Tolak Tawaran Karier Mentereng, Lebih Pilih Jadi Guru Kampung karena Terbayang Masa Lalu

10 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026

Video Terbaru

Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.