Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Tanpa Mbok Yem dan Pecel “Termahal”-nya, Mendaki Gunung Lawu Terasa Tidak Sah dan Tak Menarik Lagi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 April 2025
A A
Mbok Yem tiada. Mendaki Gunung Lawu tidak sah dan tidak menarik lagi tanpa warung pecel hangat itu MOJOK.CO

Ilustrasi - Mbok Yem tiada. Mendaki Gunung Lawu tidak sah dan tidak menarik lagi tanpa warung pecel hangat itu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nasi pecel sederhana tapi “termahal” di Indonesia

Keberadaan warung pecel Mbok Yem di puncak Gunung Lawu memberi rasa tenang bagi para pendaki. Tidak perlu khawatir jika logistik dari bawah ada kurang-kurangnya.

“Ada pendaki yang sengaja nggak bawa bekal makanan banyak. Karena tujuannya emang buat menikmati nasi pecel Mbok Yem,” jelas Bani.

“Kalau bagi kami (Bani dan teman-temannya), warung Mbok Yem buat solusi praktis. seperti petang itu, karena baru nyampe, kondisi masih lelah sehingga belum bisa langsung masak, akhirnya makan di sana,” tuturnya.

Nasi pecel di warung Mbok Yem sebenarnya nasi pecel sederhana: nasi pecel+telur dadar atau ceplok. Harganya di angka R15 ribu-Rp20 ribuan. Bani lupa persisnya.

Bagi Bani, itu adalah nasi pecel termahal yang pernah dia makan. Bukan karena harganya. Tapi karena disantap di atas salah satu gunung tertinggi di Jawa. Apalagi jika disantapnya pagi hari: sembari menikmati hamparan awan dan hangat matahari.

Harga yang Mbok Yem patok sungguh harga yang sangat murah jika menimbang bagaimana proses bahan-bahan bakunya dikirim ke puncak.

Bani ingat betul. Petang itu, setelah kekenyangan, dia dan rombongannya, yang awalnya hanya niat menghangatkan tubuh sekaligus menyelonjorkan kaki di dalam warung, malah ketiduran saking nyamannya.

“Bangun-bangun udah mau jam 9 (malam) aja. Nggak dimarahi Mbok Yem. Tapi kami langsung bergegas bangun buat segera cari tempat buat diriin tenda,” kenangnya.

Tanpa Mbok Yem, mendaki Gunung Lawu tidak menarik lagi

Pengalaman pertama Yudian (27) mendaki Gunung Lawu sebenarnya terbilang buruk. Pada 2018 silam, dia yang merupakan pendaki pemula mengikuti lima orang temannya menempuh jalur Cemoro Sewu, Magetan.

Kata banyak pendaki, jalur tersebut adalah jalur paling menyakitkan. Sejak basecamp hingga puncak hanya berupa jalur menanjak, curam, dan bebatuan terjal. Tanpa bonus sama sekali. Tidak ada sabana seperti di Candi Cetho.

“Menuju pos 3 waktu itu aku sudah mau nyerah. Lututku sakit banget,” ujar Yudian berbagi cerita. Dingin di puncaknya pun bukan main, dingin menusuk tulang.

Tapi entah kenapa, Yudian tidak cukup kapok untuk mendaki Gunung Lawu. Setelah 2018 itu, dia sibuk menyisir gunung-gunung lain. Dia sebenarnya berniat naik Gunung Lawu lagi dalam waktu dekat di 2025 ini. Namun, Yudian merasa gunung itu tidak menarik lagi baginya.

“Dulu karena lewat Cemoro Sewu, aku nggak keburu mampir ke warung pecel Mbok Yem. Karena memang jalurnya terpisah,” katanya. “2025 ini niatnya kan mau lewat Candi Cetho biar akses ke Mbok Yem lebih enak.”

Di Cemoro Sewu, sebenarnya terdapat warung nyaris di setiap pos. Ada juga yang menjual pecel seperti Mbok Yem. Akan tetapi, hati pendaki sudah terlanjur tercuri oleh nama “Mbok Yem” yang melegenda. Wajar saja, dia sudah jualan di puncak sana sejak 1980-an.

Iklan

Pendakian jadi tidak sah

Berbeda dengan Bani dan Yudian yang minimal pernah ke Gunung Lawu, Iffah malah baru mau memulainya (25).

Meski pendakian pertamanya di Gunung Penanggungan, Mojokerto, tidak mulus, tapi dia ketagihan mendaki gunung-gunung indah lain. Gunung Lawu tentu saja masuk dalam daftar.

“Para pendaki selalu menyebut nama warung pecel Mbok Yem. Kalau muncak di Lawu nggak mampir, maka mendakinya “nggak sah”. Harus remedi. Saking legendnya sosok itu,” ungkap Iffah.

Belum juga wacana tersebut terealisasi, Mbok Yem sudah keburu mendaki ke puncak dari segala puncak: Tuhan.

Jika meminjam istilah Bani, barangkali Tuhan pun tertarik mencicipi pecel masakan Mbok Yem. Jadi Dia memanggilnya ke perjamuan di surga.

“Mungkin aku masih akan ke Lawu. Tapi pendakianku sudah dipastikan akan remedi permanen karena Mbok Yem sudah nggak akan ada di sana lagi,” ucap Iffah.

Nikmati pendakianmu menuju puncak yang hakiki, Mbok Yem…

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Menaklukkan Gunung Rinjani yang Punya Trek Maut hingga Bertemu Babi Ganas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 24 April 2025 oleh

Tags: gunung lawumbok yemmbok yem meninggalmbom yem gunung lawupilihan redaksiwarung pecel mbok yem
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125

Honda Scoopy yang Cuma Jual Tampang Seharusnya Malu kepada Supra X 125 yang Tampangnya Biasa Saja, tapi Mesinnya Luar Biasa

28 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.