Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
26 April 2026
A A
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ilustrasi - Daycare (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Keharusan bekerja memunculkan dilema bagi seorang ibu. Sebagai orang tua, mereka mengemban tanggung jawab mengurus anak dan keluarga, tetapi juga ada faktor lain yang mengharuskan menjadi perempuan pekerja. Maka bisa jadi, menitipkan anak di daycare menjadi satu-satunya jalan tengah.

Namun sayangnya, daycare belum tentu menjadi tempat yang aman bagi anak apabila melihat kasus dugaan penganiayaan yang terjadi di Daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja. 

Tidak hanya memperburuk sentimen terhadap perempuan pekerja. Kasus ini juga memberikan tekanan semakin mendalam kepada ibu yang tetap harus bekerja dan menitipkan anaknya.

Kasus penganiayaan anak di daycare Jogja

Daycare Little Aresha digrebek pada Jumat (24/4/2026) sore. 30 orang diamankan. Kapolresta Jogja, Kombes Pol Eva Guna Pandia, mengatakan penggerebekan tersebut bermula dari laporan mantan karyawan.

“Awalnya dari karyawannya itu melihat bahwa perlakuan terhadap bayi atau anak yang dititip itu kurang  manusiawi,” kata Pandia, seperti dikutip dari kompas.com.

Karyawan tersebut memutuskan untuk mengundurkan diri karena tidak tahan dengan kondisi di tempat tersebut.

“Tidak sesuai dengan hati nuraninya karena mungkin ada yang dianiaya juga mungkin kan. Ditelantarkan, akhirnya dia merasa tidak sesuai hati nurani minta resign,” kata dia.

Hingga Minggu (26/4/2026), penyidik Satreskrim Polresta Jogja resmi menaikkan status hukum 13 orang yang menjadi tersangka dalam kasus ini. Keputusan ini diambil setelah dilakukan gelar perkara intensif pada Sabtu (25/4/2026) malam.

“Sampai malam ini tadi, kami telah melaksanakan gelar perkara dan menetapkan 13 orang tersangka sementara. Mereka terdiri dari satu kepala yayasan, satu kepala sekolah, dan 11 orang pengasuh,” ungkap Pandia, dikutip dari keterangan resmi, Minggu (26/4/2026).

Dari total 103 anak yang terdaftar di daycare, sedikitnya 53 anak terindikasi menjadi korban kekerasan. Hingga kini, kasus ini masih dalam penanganan aparat kepolisian.

Teror dari kekerasan terhadap anak di daycare

Setengah dari anak yang mengalami kekerasan pada kasus Daycare Little Aresha menempatkan orang tua dalam kondisi serbasalah. Orang tua yang bekerja merasa anak lebih aman ketika dititipkan di tempat khusus penitipan anak, tetapi realitas yang terjadi justru berbanding terbalik.

Padahal, orang tua pekerja dapat datang dari ayah dan ibu. Kondisi ini membuat ibu mau tidak mau juga harus merelakan anak mereka untuk dititipkan selagi berusaha untuk mendukung keadaan finansial keluarga.

Data Badan Pusat Statistik mencatat sebanyak 14,37 persen pekerja Indonesia merupakan female breadwinners. Istilah ini merujuk pada perempuan pekerja sebagai penerima pendapatan paling besar dalam suatu rumah tangga.

Menurut BPS, peran female breadwinners ini menunjukkan adanya perubahan dinamika ekonomi rumah tangga, serta tantangan yang dihadapi perempuan dalam dunia kerja dan kehidupan keluarga. 

Iklan

Namun demikian, akademisi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fuad Hamsyah, mengatakan, pandangan sosial di Indonesia masih membebankan tanggung jawab mengurus rumah tangga, anak, dan suami, kepada perempuan setelah menikah. Beban ini diikuti dengan tuntutan peran sosial di masyarakat.

Jika perempuan tersebut bekerja, perannya semakin kompleks.

Hal inilah yang menyebabkan sebagian ibu memilih berhenti bekerja lantaran tidak sanggup menjalani empat peran dalam waktu bersamaan. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Woro Srihastuti Sulistyaningrum menambahkan, pengeluaran juga akan berlipat ganda sebab adanya biaya lain seperti daycare yang tidak murah apabila seorang ibu tetap memilih bekerja.

”Selain harus membayar biaya daycare atau babysitter, para perempuan tersebut juga harus berpikir adanya biaya transportasi dan biaya makan saat mereka bekerja di luar rumah,” kata Woro, dikutip dari Harian Kompas.

Orang tua terpaksa meninggalkan anak

Sayangnya, sebagian kondisi mengharuskan orang tua untuk bekerja keduanya. Dalam kasus ibu tunggal, ibu juga harus bekerja demi menghidupi sang anak. 

Meski barang tentu, perasaan tidak nyaman muncul di luar dari keresahan beban ganda dalam ekonomi keluarga.

Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini, mengatakan, ketidakrelaan orang tua untuk menitipkan anak di daycare sejatinya telah mencerminkan kesadaran akan tanggung jawab pengasuhan. 

Akan tetapi, mereka terpaksa lantaran terbentur kebutuhan.

“Rasa ketidakenakan orang tua meninggalkan anak justru merupakan hal yang bentuk tanggung jawab orang tua terhadap anak karena ada emotional attachment,” kata Sani kepada Mojok, Minggu (26/4/2026).

“Hanya karena situasi, ya masalah ekonomi, kebutuhan, sehingga pada akhirnya orang tua tidak ada pilihan untuk menutupkan anak di daycare. Karena orang tua bekerja, mungkin tidak ada pengasuh, tidak ada juga orang di rumah yang dipercaya, mau tidak mau daycare menjadi pilihan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan anak saat ini,” tambahnya.

Tekanan psikologis terhadap ibu pekerja

Sani mengatakan, buntut dari kasus kekerasan di daycare Jogja dapat merujuk pada orang tua yang menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Mereka juga dapat kehilangan kepercayaan diri terhadap perannya sehingga mempertanyakan kapasitas diri sendiri.

“Biasanya orang tua akan merasa jadi nyalahin diri sendiri secara berlebihan, kemudian rasa bersalah juga, kemudian bisa juga jadi turun kepercayaan menjadi ‘peran ibu udah baik apa belum’, ada stres juga, ” terangnya.

Secara psikologi, dampak mendalam dari kasus semacam ini juga berujung pada trauma. Tidak hanya bagi ibu, tetapi juga anak yang merasa takut dan tidak percaya kepada orang dewasa.

Dalam hal ini, selain pendampingan psikologis, Sani mengatakan, perlu ada perubahan mindset bahwa kesalahan tidak bersumber dari ibu ataupun orang tua. Kesalahan ini merupakan ulah institusi yang tidak bertanggung jawab.

“Kalau ibu yang penting harus mengubah mindset bahwa yang salah itu bukan dia, tapi kan institusi,” ujarnya.

Menekankan pengubahan pola pikir ini, ibu memerlukan dukungan sosial alih-alih tekanan yang menyalahkannya. Menurut Sani, tindakan menyalahkan ibu karena anaknya menjadi korban justru menambahkan beban psikologis yang semakin besar.

“Jadi dia juga harus cari dukungan sosial, dukungan dari masyarakat, dari komunitas atau dari keluarga yang memang perlu men-support secara psikologis dan emosional, tapi bukan menyalahkan, karena menyalahkan ibu karena anak jadi korban merupakan justru beban psikologis yang bertambah, bertambah besar, sehingga nanti jadi bisa gagal move on, gak bisa lepas dari rasa bersalah dan sebagainya,” ujarnya.

“Nah, untuk sang ibu juga perlu divalidasi bahwa it’s okay ngalamin semua perasaan ini karena itu kan manusiawi banget, cuman yang tadi jangan dilabel. jangan ditambah-tambahin lagi dengan statement negatif karena gak ada ibu yang mau secara intensional membuat anaknya jadi korban,” ujarnya.

“Tapi kan ini juga mungkin keterbatasan, karena mungkin gak ada lagi daycare center dekat situ, atau dipikirnya bagus, atau mungkin ya salah penilaian dan sebagainya. Jadi, untuk kedepannya memang daycare center harus juga perlu diwaspadai dan diteliti kembali,” tutup Sani.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 April 2026 oleh

Tags: beban psikologisdaycaredaycare di jogjadaycare little areshaibu pekerjaorang tua bekerjaperan ibuperempuan pekerja
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
orang tua.MOJOK.CO
Sehari-hari

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
pengakuan perempuan pekerja startup
Podium

Pengakuan Andin, Perempuan Pekerja Startup: Cuma Aku yang Ikut Demo, Lainnya Melongo

15 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Supra Fit: Motor Honda yang Bikin Kecewa dan Gak Bikin Bangga MOJOK.CO

Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

21 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.