Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Warga Sleman Tolak Dipimpin Dinasti Bupati, Terlalu Bahaya jika Kekuasaan Dipegang 1 Keluarga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 November 2024
A A
Warga Sleman Tolak Dinasti Politik Kustini MOJOK.CO

Ilustrasi - Warga Sleman tolak dinasti politik Kustini. (Aly Reza/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pencoblosan calon Bupati dan calon Wakil Bupati Sleman tinggal menghitung hari. Di beberapa titik jalanan Sleman, Jogja, bermunculan spanduk-spanduk penolakan terhadap dinasti politik Kustini Sri Purnomo, petahana yang kembali mencalonkan diri di kontestasi Pilkada 2024

***

Spanduk bernada penolakan adanya praktik keluargaisme alias dinasti politik tersebut bermunculan sejak Senin (4/11/2024).

Puluhan spanduk tersebut terbentang di beberapa ruas jalan di Sleman. Seperti di perempatan Kamdanen Ngaglik, depan Makam Wahidin Soediro Hoesodo Jalan Magelang, dan di flyover Jombor.

Menolak Kustini jadi Bupati Sleman lagi

Spanduk-spanduk tersebut berisi penolakan atas pencalonan kembali Bupati petahana, Kustini Sri Purnomo di Pilkada Sleman.

Di Jombor muncul spanduk bertuliskan “Sleman Bukan Hanya Milik Satu Keluarga”, persisnya di depan Makam Wahidin Soediro Hoesodo, Jalan Magelang. Sementara di perempatan Kamdanen Ngaglik, terpampang spanduk bertuliskan “Rumangsamu Sing Iso Mimpin Sleman Mung Keluargamu”.

Warga Sleman Tolak Dinasti Politik Kustini MOJOK.CO
Spanduk tolak dinasti politik Kustini. (Aly Reza/Mojok.co)

Seperti diketahui, isu keluargaisme atau dinasti politik Kustini sudah lama berhembus. Isu ini kembali memanas di tengah bergulirnya kontestasi Pilkada Sleman 2024.

Sleman dalam cengkeraman keluarga Kustini

Kustini Sri Purnomo merupakan petahana yang mencalonkan diri kembali menjadi Bupati Sleman periode 2025-2030, menggandeng Sukamto sebagai wakilnya.

Kustini merupakan istri dari Sri Purnomo yang sebelumnya juga menjabat sebagai Bupati Sleman selama 13 tahun. Sementara itu, anak mereka, Raudi Akmal, saat ini juga menjadi seorang politisi dengan jabatan Ketua DPD Sleman.

Oleh karena itu, wajar saja jika kemudian warga mencium adanya upaya keluarga Kustini membangun dinasti politiknya sendiri. Seteleh Sri Purnomo dan Kustini, bisa jadi setelahnya Raudi Akmal yang bakal diproyeksikan maju sebagai Bupati Sleman.

Warga Sleman Tolak Dinasti Politik Kustini MOJOK.CO
Spanduk tolak dinasti politik Kustini. (Aly Reza/Mojok.co)

Sementara, bagi sebagian banyak warga, sejak dalam cengkeraman keluarga Kustini, Sleman tak menunjukkan kemajuan signifikan. Sehingga, sudah seharusnya masa kekuasaan Kustini disudahi, jangan sampai kroni-kroninya masih terus berpeluang duduk di kursi bupati.

“Yang jelas, saya setuju dengan keadaan Sleman yang hanya begini-begini saja. Kalau tidak disuarakan, takutnya malah makin menjadi-jadi. Sedangkan kami rakyat kecil hanya bisa pasrah dan tidak bisa melakukan apa-apa selain manut saja,” ujar Setyo (30), salah satu warga Sleman yang menyatakan penolakannya pada dinasti politik Kustini.

Ketika garis keturunan dimanfaatkan untuk mendapat kekuasaan

Pakar politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Arga Pribadi Imawan menyebut, kondisi Pemilu daerah saat ini, dalam hal ini adalah Sleman, sedikit banyak tentu terpengaruh kontestasi Pemilu 2024 level nasional.

Menurutnya, keberhasilan Gibran Rakabuming Raka menjadi Wakil Presiden RI setelah sang bapak (Jokowi) lengser kemudian membuka mata bagi para partai politik (parpol) dan para kandidat bahwa garis keturunan atau dinasti politik bukan menjadi sesuatu yang tabu.

Iklan

“Alhasil, garis keturunan bisa dimanfaatkan untuk mendapat kekuasaan,” ungkap Arga saat Mojok hubungi Rabu (6/11/2024) siang WIB.

Dinasti politik berpotensi lahirkan perilaku menyimpang

Lebih lanjut, Arga mengatakan, pergantian kekuasan pada dasarnya menjadi salah satu indikator bahwa demokrasi berjalan dengan sehat dan semestinya. Maka, ketika kekuasaan digenggam oleh sekelompok orang dalam rentang waktu yang lama, efeknya bisa sangat berbahaya.

“Implikasinya, power yang didapat itu akan membuat penguasa dari dinasti politik memiliki kecenderungan korup dan berperilaku menyimpang,” ungkap Arga.

“Salah satu yang bisa dilihat adalah misalnya Jokowi selama dua periode, menunjukkan power yang didapat dalam waktu berlebih cenderung berujung pada perilaku yang menyimpang berupa pelanggaran konstitusi untuk melanggengkan kekuasaan,” sambungnya.

Berkaca pada kasus Jokowi, menurut Arga, publik di level daerah sudah membaca bahwa dinasti politik punya potensi penyimpangan yang lebih besar.

Maka, tak heran jika publik kemudian  meresponsnya dengan spanduk-spanduk penolakan pada praktik dinasti politik oleh Kustini. Terlebih, selama dipimpin oleh Sri Purnomo selama 13 tahun dan disambung oleh Kustini, banyak warga Sleman yang tidak merasakan adanya perubahan besar pada Sleman. Sleman masih gini-gini aja kalau kata warga.

Oleh karena itu, warga tak menghendaki Kustini maju lagi. Kalau dia maju lagi dan terpilih, ada potensi memuluskan Raudi Akmal menempati jabatan yang sama dengan kedua orang tuanya itu: Sleman bakal terjebak dalam kubangan yang sama.

“Publik pengin ada inovasi, kebaruan, tentang bagaimana pemimpin yang baru melakukan gebrakan untuk menyelesaikan masalah publik,” tegas Arga.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Aib di Rumah Dinas Bupati Sleman, Bangun Kolam Mewah ketika Warga Ngeluh Hidup Susah

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 7 November 2024 oleh

Tags: bupati slemandinasti politikkustinipilkada slemansleman
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co
Pojokan

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO
Urban

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co
Pojokan

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

14 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Bapak Rela Jual Tanah demi Membeli Innova Reborn Setelah Tahu Bahwa Reborn Bukan Sekadar Mobil Terbaik 2025, tapi Investasi yang Nggak Bisa Rugi

25 Februari 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan MOJOK.CO

Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.