Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Puncak Kemarahan Warga Sleman Barat yang Jadi Anak Tiri Pemda DIY, karena Jalan Godean yang Nggak Diurus

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
17 Maret 2024
A A
Jalan Godean Anak Tiri Jogja: Nggak Diurus Lebih dari 20 Tahun MOJOK.CO

Salah satu spanduk melintang dari warga yang marah karena puluhan tahun Jalan Godean tidak ada perbaikan. (Agung P/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Warga di Sleman barat terutama yang berada Kapanewon Minggir dan Moyudan merasa menjadi anak tiri dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jalan Godean yang merupakan jalan provinsi selama lebih dari 20 tahun tidak pernah mengalami perbaikan sebagaimana mestinya, sehingga menjadi jalan pencabut nyawa. 

Kemarahan warga di sepanjang Jalan Godean terutama di kawasan Kapanewon Moyudan dan Kecamatan Minggir akhirnya sampai pada puncaknya, Minggu (17/3/2024). Puluhan warga yang tergabung dalam Jaga Warga Kecamatan Minggir dan Moyudan melakukan aksi Jalan Godean Memanggil.

Pasang puluhan spanduk karena merasa jadi anak tiri Jogja

Mereka memasang puluhan spanduk peringatan ke pengendara kendaraan bermotor sekaligus meminta perhatian Pemda DIY terhadap nasib Jalan Godean yang rusak dan sering menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

“Aksi ini sebagai wujud keprihatinan kami karena lebih dari 20 tahun tidak ada perbaikan Jalan Godean yang bersifat total. Di sisi lain, di wilayah Kulonprogo, jalan provinsi seperti Jalan Sentolo Kalibawang itu mulus,” kata Senaja (59), Koordinator Aksi Jalan Godean Memanggil, kepada Mojok, Minggu (17/3). 

Warga memasang spanduk berisi sindiran ke pengambil kebijakan. Sudah lama warg di sekitar Jalan Godean bersabar karena banyaknya kecelakaan karena jalan rusak MOJOK.CO
Warga memasang spanduk berisi sindiran ke pengambil kebijakan. Sudah lama warg di sekitar Jalan Godean bersabar karena banyaknya kecelakaan karena jalan rusak. (Agung P/Mojok.co)

Kondisi ini membuat warga di sepanjang Jalan Godean terutama di wilayah Sleman barat seperti menjadi anak tiri. Padahal Jalan Godean menjadi jalur ekonomi atau jalur wisata yang menghubungkan wilayah-wilayah di Yogyakarta. 

“Orang dari Kota Jogja mau ke Kulonprogo banyak yang lewat Jalan Godean, begitu juga sebaliknya. Bahkan korban lakalantas itu sebagian besar berasal dari Kulonprogo. Orang dari Magelang mau ke Sleman, banyak yang lewat Jalan Godean juga,” kata Senaja.

Ada sekitar 40 spanduk rintang jalan dan sejajar jalan yang warga pasang. Tulisan dalam spanduk tersebut berisi ajakan kepada pengendara yang melintas untuk berhati-hari. Beberapa di antaranya, “YA TUHAN TUNJUKAN KAMI JALAN YANG LURUS, MULUS, DAN HALUS”, AWAS!!! DALAN IKI CEN RUSAK AMBYAR KAYA HUBUNGANKU KARO MANTAN SIK BUBAR!!!”

Ada juga spanduk-spanduk yang berisi sindiran ke pengambil kebijakan. ”SING NANG PUSAT MANGAN ENAK, SING NANGISOR MANGAN DALAN RUSAK”, “NGGAK MALU??? KATANYA ISTIMEWA!! KOK JALANNYA RUSAK???”, “PAJAK TELAT DIDENDO-DALAN RAPENAK DIJARNO. ANDA MEMASUKI KAWASAN JALAN PROVINSI YANG DIANAKTIRIKAN”.

Warga sudah melakukan segala upaya agar ada perbaikan Jalan Godean 

Senaja yang juga mantan Lurah Sumberarum, Moyudan, Sleman selama 17 tahun mengatakan segala upaya sudah warga lakukan. Bahkan ketika ia menjadi lurah, pengajuan perbaikan jalan lewat musrenbang, surat ke Dinas PU Pemda DIY, Pemkab Sleman maupun anggota DPRD sudah ia lakukan. “Bahkan saya sampai bilang, kalau ada proyek provinsi di Sumberarum jangan dulu sebelum Jalan Godean diperbaiki, nyatanya upaya-upaya itu gagal,” kata Senaja. 

Selama ini ia melihat langkah yang Pemda DIY lakukan hanya tambal sulam jalan. Hal itu tidak menyelesaikan persoalan. “Kemarin karena viral warga mau melakukan aksi, kemudian ada penambalan jalan berlubang, tapi masih banyak jalan yang lubangnya kecil dan itu jadi jebakan yang berbahaya,” kata Senaja. 

Ia bahkan pernah mengalami sendiri roda sepeda motor masuk ke lubang sehingga motor nggak stabil. Untungnya ia tidak sampai jatuh.

Ia mengungkapkan selama lebih dari 20 tahun, sudah ada puluhan nyawa yang melayang di sepanjang Jalan Godean. Terbaru sekitar tiga minggu lalu, warganya ada yang meninggal karena dugaan jalan yang berlubang. 

“Jadi ada salah satu warga kami yang diduga karena menghindari jalan rusak kemudian berkendara agak ke tengah, dari arah berlawanan ada pengendara mabuk yang berkendara masuk ke badan jalan dan menabrak warga kami,” kata Senaja yang juga Koordinator Forum Komunikasi Jaga Warga Kecamatan Minggir dan Moyudan.

Ia mengungkapkan aksi pemasangan spanduk bukan hanya berisi sindiran ke Pemda DIY, tapi juga ke pengendara yang melintasi di Jalan Godean dengan cara ugal-ugalan. Aksi ini mereka lakukan karena sudah tidak tahu lagi mau mengadu ke siapa perihal Jalan Godean yang rusak.

Iklan

Baca halaman selanjutnya

Hanya menambal jalan tak menyelesaikan masalah

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 17 Maret 2024 oleh

Tags: aktualanak tiri jogjajalan godeanjalan rusak
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Truk ODOL Memang Meresahkan: Perspektif dari Pengendara Motor yang Selalu Bertemu dengan Truk Kelebihan Muatan di Jalan
Pojokan

Truk ODOL Memang Meresahkan: Perspektif dari Pengendara Motor yang Selalu Bertemu dengan Truk Kelebihan Muatan di Jalan

24 Juni 2025
Jogja Sejuk dan Rindang Seperti Sleman Hanya Impian Palsu MOJOK.CO
Esai

Mengidamkan Semua Ruas Jalan Penting di Jogja Sejuk dan Rindang Seperti Padukuhan Pangukan Sleman

7 April 2025
Ragam

Perempatan Timbangan Medan, Persimpangan Paling Ngeri yang Bikin Nyawa Pengendara ‘Berharga Murah’

3 Oktober 2024
Jalan Rusak di Sleman Lama Diabaikan: Jadi Wahana 1001 Lubang, Bupati Cuma Nambal, dan Rawan Kecelakaan.MOJOK.CO
Aktual

Jalan Rusak di Sleman Lama Diabaikan: Jadi Wahana 1001 Lubang, Bupati Cuma Nambal, dan Rawan Kecelakaan

9 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Journaling

Journaling, Ringankan Beban Pikiran dan Perasaan untuk Lebih Berani Menikmati Hidup

13 April 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Garap skripsi modal copas karena alasan sibuk di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tak punya duit buat bayar joki. Lulus PTN tepat waktu tapi berakhir kena karma MOJOK.CO

Skripsi Modal Copas karena Sibuk di Ormek dan Tak Kuat Bayar Joki, Lulus PTN Tanpa Kendala tapi Sengsara Tak Bisa Kerja

13 April 2026
Supra X 125, Motor Honda yang Menderita dan Nggak Masuk Akal MOJOK.CO

Supra X 125 Adalah Motor Honda Penuh Penderitaan dan Nggak Masuk Akal, tapi Menjadi Motor Paling Memahami Derita Keluarga Muda

14 April 2026
Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.