Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Alih Fungsi Lahan Jadi Masalah Serius Petani di Sleman, Tapi Malah Diabaikan Bupatinya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
28 Oktober 2024
A A
Alih Fungsi Lahan Jadi Masalah Serius Petani di Sleman, Tapi Malah Diabaikan Bupatinya.MOJOK.CO

Ilustrasi - Alih Fungsi Lahan Jadi Masalah Serius Petani di Sleman, Tapi Malah Diabaikan Bupatinya (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Alih fungsi lahan yang semakin luas adalah faktor utama mengapa kehidupan petani di Sleman menjadi rentan. Sayangnya, masalah yang serius ini malah diabaikan oleh pemerintah kabupaten Sleman.

Padahal, akibat adanya alih fungsi, lahan-lahan pertanian menjadi menyusut. Bagi para petani, ini jelas menjadi ancaman karena bakal mengurangi produktivitas panen dan dalam skala yang ekstrim bisa menghilangkan mata pencaharian mereka. 

Dalam waktu lama, alih fungsi lahan yang semakin tak terkendali juga bisa menciptakan situasi krisis pangan dan lingkungan.

2 ribu hektar lahan pertanian menyusut, gara-gara pembangunan

Dalam empat tahun terakhir, penyusutan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan di Sleman mencapai 2.153 hektar. Jelas, ini bukanlah angka yang main-main.

Berdasarkan rilis data yang dikeluarkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), disebutkan bahwa luas baku sawah di Sleman pada 2029 mencapai 18.137 hektar. 

Sayangnya, dalam kurun waktu empat tahun ini luasnya terus berkurang. Kini tinggal menyisakan 15.984 hektar sawah. Adapun, penyusutan terjadi karena alih fungsi lahan menjadi non-pertanian.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Siti Rochayah menjelaskan, alih fungsi terjadi karena pembangunan properti di Sleman meningkat. Selain itu, lahan pertanian juga kena dari proyek strategis nasional untuk pembangunan tol Jogja-Solo maupun Jogja-Bawen.

“Intinya ada perubahan fungsi dari sawah ke bangunan. Ada yang jadi perumahan, tapi ada juga yang terdampak pembangunan tol,” jelasnya, kala memaparkan data dalam rilis Kementerian ATR/BPR, Minggu (29/1/2024) lalu.

Akibatnya, secara akumulasi luas panen pun cenderung turun. Sebagai gambaran, pada 2022 luasan panen mencapai 42.353 hektar. Sementara luas panen pada 2023 sekitar 41.830 hektar.

Bupati Sleman tak membahas masalah alih fungsi lahan

Meskipun jadi persoalan serius, nyatanya Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo tak fokus mengatasi masalah ini. Kustini, yang kembali menyalonkan diri sebagai calon bupati di Pilkada Sleman, menyebut masalah utama petani akibat kesenjangan kota dan desa.

Maka dari itu, Kustini pun memiliki gagasan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui penyediaan alat-alat modern dan pengembangan agro wisata.  Tanpa menyebut inti dari masalah yang dialami petani: alih fungsi lahan pertanian.

“Petani lebih sejahtera dengan memberikan alat-alat modern,” ujar calon bupati petahana ini dalam Debat Publik Pertama Calon Bupati Sleman, Minggu (28/10/2024).

“Setelah itu, pertanian bisa menjadi tempat wisata yang berkolaborasi antara wisata kreatif dan pertanian. Diperlukan keseimbangan supaya tidak ada kesenjangan,” imbuh Kustini.

Ia juga akan concern pembangunan akses jalan untuk menghubungkan perkotaan dan pedesaan, yang katanya, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Padahal, tiap tahun setidaknya 50 hektar lenyap akibat alih fungsi lahan pertanian. Banyak petani pun merasa sia-sia jika akses jalan kota ke desa mumpuni, tapi mereka kehilangan sawah sebagai mata pencaharian.

“Sekarang persoalan lahan pertanian sudah nggak lagi dianggap serius. Kurangnya minat anak muda Sleman jadi petani lebih dipandang sebagai persoalan personal, alih-alih sistem. Padalah intinya lebih dari itu, banyak orang nggak mau bertani ya sesederhana nggak ada lahan lagi,” ungkap Jian, petani muda yang sejak dua tahun lalu konsisten mengembangkan pertanian dalam kota, saat Mojok hubungi pada Senin (28/10/2024) sore.

Iklan

Edukasi soal pertanian masih setengah-setengah

Selain mengabaikan persoalan alih fungsi lahan pertanian, pemerintah Kabupaten Sleman juga dianggap tak ambisi buat memajukan sektor pertanian. Misalnya, sesederhana edukasi soal pertanian saja, Pemkab Sleman masih terkesan setengah-setengah.

Mojok pernah mewawancarai Dwi Susilowati, seorang perintis Komunitas Wanita Tani di Desa Hargobinangun, Cangkringan Sleman. Dia, yang 10 tahun lebih concern soal gerakan dan edukasi pertanian, mempertanyakan keseriusan Pemkab Sleman dalam memperhatikan sektor pertanian. 

“Saya sering mengkritik PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan). Kayak nggak serius aja mendampingi petani yang belum profesional,” kata Susi.

Menurut Susi, PPL cenderung suka promosi produk tertentu, seperti obat pembasmi hama, tapi tanpa mengedukasi. Pendeknya, upaya-upaya pemerintah orientasinya cuma bisnis, bukan edukasi.

Berbagai kritik beberapa kali Susi layangkan. Namun, seperti tak digubris pihak bersangkutan. Bahkan, saking vokalnya ia sampai “disingkirkan” oleh Pemkab Sleman. Padahal, Susi dulu sempat terlibat dan aktif menyumbang terobosan terkait dunia pertanian.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Dwi Susilowati, Petani Hebat Sleman Pencipta Bibit Unggul dan Kritiknya untuk Pemkab yang Sok Peduli Petani

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2024 oleh

Tags: alih fungsi lahan pertanianbupati slemanpertanian slemanpetani slemanpilkada slemansektor pertaniansleman
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO
Bidikan

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO
Catatan

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja Mojok.co
Pojokan

Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja

25 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO
Aktual

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.