Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Pemilu 2024 Lebih Melelahkan, Bagaimana KPU Jamin Keselamatan Petugas KPPS?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 Februari 2023
A A
petugas KPPS meninggal

Ilustrasi petugas KPP meninggal akibat kelelahan pada Pemilu 2019. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Setahun jelang Pemilu 2024, kematian ratusan petugas KPPS selama pemilu sebelumnya masih menjadi perhatian serius. Sejumlah pihak, bahkan telah mewanti-wanti agar tragedi Pemilu 2019 tak terulang lagi. Lantas, seperti apa persiapan KPU dalam mengantisipasinya?

Seperti diketahui, pada Pemilu 2019, tercatat ada 894 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia. Sementara, sebanyak 5.175 yang lain jatuh sakit akibat kelelahan.

Hasil paenelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengafirmasi bahwa kelelahan memang menjadi pemicu utama dari meninggalnya para petugas lapangan tersebut. Kelelahan ini, berakumulasi dengan penyakit bawaan yang sebelumnya sudah diidap para petugas, sehingga memperparah kondisinya.

“Data kami menunjukan bahwa semua yang meninggal itu disebabkan oleh penyebab natural. Semuanya disebabkan oleh problem kardiovaskuler, entah jantung, stroke atau gabungan dari jantung dan stroke,” kata Koordinator Peneliti UGM, Abdul Gaffar Karim, kepada Kompas.

Lebih lanjut, menurut hasil autopsi verbal, ditemukan bahwa rata-rata beban kerja petugas KPPS sangat tinggi. Tidak hanya selama hari pemungutan suara, tetapi juga sebelum dan sesudahnya.

“Sehingga, tim peneliti menyimpulkan bahwa dampak beban kerja yang terlalu tinggi dan riwayat penyakit bawaan menjadi penyebab atau meningkatkan risiko terjadinya kematian dan sakitnya petugas KPPS,” paparnya.

Melansir Detik, Ketua KPU Arief Budiman pun mengakui hal tersebut. Ia menyebut bahwa petugas pemilu yang bekerja sebagai KPPS menanggung tugas yang banyak dan berat, dengan jam kerja yang tak menentu.

Bahkan, saat memasuki momen menjelang pemungutan dan penghitungan suara, para petugas KPPS bisa bekerja selama 24 jam non-stop.

“Memang melelahkan, ini melelahkan bagi semua. Bagi penyelenggara pemilu, bagi peserta pemilu, bagi petugas keamanan, bagi masyarakat juga. Ini tentu melelahkan bagi semua, jadi saya pikir perlu dijadikan pembahasan bersama,” tutur Arief.

Pemilu 2024 makin berat, makin rawan

Kematian ratusan petugas KPPS sepanjang Pemilu 2019 jadi perhatian serius Komnas HAM. Namun, melihat regulasi yang menjadi acuan pemilu tidak banyak berubah, pihaknya mensinyalir kejadian serupa sangat mungkin terulang.

Terlebih, Pemilu 2024 nanti diklaim bakal jauh lebih melelahkan ketimbang sebelumnya. Bagaimana tidak, mengingat pada 2024 nanti penyelenggaraan Pemilu Presiden (Pilres), Pemilu Legislatif (Pileg), dan pemilihan kepala daerah (Pilkada) akan digelar secara serentak di tahun yang sama.

“Makanya, dari sekarang kami mendorong upaya perbaikan regulasi maupun teknis agar peristiwa yang sama tidak berulang kembali,” ujar Hairansyah, dalam jumpa pers bertajuk “Pemantauan Pemenuhan Hak Konstitusional Warga Negara Pra Pemilu Serentak 2024 Dalam Perspektif HAM”, dikutip dari CNN Indonesia.

Lebih lanjut, mempertahankan regulasi sama seperti Pemilu 2019 cuma bakal bikin keselamatan petugas KPPS semakin rawan. Ia pun meminta pemerintah, utamanya penyelenggara pemilu, untuk berhati-hati terhadap potensi kelelahan petugas KPPS, hingga yang mengakibatkannya meninggal dunia.

“Temuan kami saat Pemilu 2019, keterlambatan logistik membuat petugas KPPS harus menunggu, bahkan sampai pagi. Padahal mereka harus mengurus pencoblosan, perhitungan dan rekapitulasi suara di pagi hari. Kekuatan fisik mereka terkuras,” tandasnya.

Iklan

Upaya antisipasi dari KPU

Berkaca dari penyelenggaraan tahun sebelumnya, KPU menyebut pihaknya bakal melakukan pembaruan terkait batasan usia petugas KPPS. Menurut Ketua Divisi Teknis KPU RI, Idham Holik, hal ini merupakan salah satu upaya antisipasi agar peristiwa di Pemilu 2019 tidak terulang lagi. Nantinya, syarat petugas KPPS harus berusia 17-55 tahun.

“Untuk memitigasi wafatnya KPPS pada Pemilu Serentak 2019 lalu, KPU membatasi persyaratan usia calon KPPS, dalam aturan yang termaktub dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b dan ayat 2 PKPU Nomor 8 Tahun 2022,” ujar Idham.

Idham menjelaskan, pada Pemilu 2019, KPU belum membatasi usia maksimal calon petugas KPPS. Sehingga, hal itu menjadi salah satu faktor kematian ratusan petugas KPPS.

“Peraturan KPU Nomor 36 Tahun 2018 adalah peraturan yang mengatur mengenai salah satunya persyaratan menjadi anggota KPPS dalam Pemilu Serentak 2019. Dalam peraturan tersebut, KPU, pada waktu itu, hanya mengatur batas minimal syarat menjadi anggota KPPS, di mana paling rendah berusia 17 tahun. Hal ini tertuang dalam Pasal 36 ayat 1 huruf b PKPU Nomor 36 Tahun 2018,” katanya.

Selain itu, Idham mengatakan KPU juga melakukan pemeriksaan kesehatan calon petugas KPPS. Ia menuturkan pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar pemeriksaan kesehatan petugas KPPS dapat difasilitasi.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Amanatia Junda

BACA JUGA Setahun Menuju Pemilu 2024: Benarkah Menjadi Pesta Demokrasi Termahal di Dunia?

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2023 oleh

Tags: komnas HAMkppskpuPemilu 2019Pemilu 2024pemungutan suaraPetugas pemilu meninggal
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Festival Ham 2024
Kilas

Festival HAM 2024 Bukan Sekadar Selebrasi, Buah Manis 10 Tahun Upaya Menciptakan Ruang Aman dan Inklusif di Daerah

29 Juli 2024
Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Fakta di Balik Meninggalnya Anggota KPPS Pemilu 2024 MOJOK.CO
Esai

Fakta di Balik Kisah Kelam Banyak Anggota KPPS Meninggal pada Pemilu 2019 dan Pemilu 2024

20 Februari 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
karet tengsin, jakarta. MOJOK.CO

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.