Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Laboratorium Psikologi Politik UI: Elite Sudah Rekonsiliasi, Rakyat Masih Terpolarisasi

Kenia Intan oleh Kenia Intan
27 Maret 2023
A A
polarisasi jelang pemilu

Ilustrasi polarisasi masih terjadi di tengah masyarakat akibat menguatnya politik identitas pada Pilpres 2019 silam (Mojok.co).

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pemilihan presiden beberapa tahun lalu masih menyisakan polarisasi di tengah masyarakat. Survei yang dilakukan Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) melihat, polarisasi masih terjadi baik di ranah daring maupun di tengah masyarakat. 

Laboratorium Psikologi Politik UI menggelar survei berjudul “Polarisasi Politik di Indonesia: Mitos atau Fakta” pada 6 Februari hingga 28 Februari 2023. Survei dilakukan untuk mengetahui sisa-sisa polarisasi Pilpres 2019 di tengah masyarakat saat ini. Setidaknya, 1.190 responden berusia 17 tahun ke atas yang berasal dari 33 provinsi di Indonesia terlibat dalam survei ini.

Hasilnya, polarisasi nyata terjadi di tengah masyarakat, bukan mitos ataupun angin lalu yang bisa dilewatkan begitu saja. Dalam paparannya, Guru Besar Psikologi Politik UI Hamdi Muluk menjelaskan masyarakat terpolarisasi menjadi dua kelompok.

“Hasil survei menunjukkan masyarakat terpolarisasi menjadi 2 kelompok dengan ukuran proporsional yakni kluster 1 sebesar 57% versus kluster 2 sebesar 43%,” kata Hamdi saat pemaparan survei, Minggu (19/3) seperti dikutip dari Media Indonesia, Senin (27/3/2023).

Kubu pro versus anti-pemerintah

Kluster satu merupakan kelompok pro-pemerintah. Kelompok ini pro-Jokowi dan relatif sekuler ke arah moderat. Kluster satu relatif puas terhadap kinerja pemerintah dan tidak berprasangka terhadap kekuatan ekonomi asing. Sementara kluster kedua adalah kelompok yang tidak berpihak pada pemerintah. Kelompok ini berideologi politik dimensi keagamaan. Mereka meyakini pemimpin harus seiman atau seagama, kebijakan publik berlandaskan agama, hingga sanksi punitif terhadap penista agama. Perda syariah juga mendapat endorsement yang tinggi dari kelompok ini. Berkebalikan dengan kluster satu, kluster dua ini merasa tidak puas terhadap kebijakan dan hasil pemerintah.

Lebih lanjut Hamdi menjelaskan, ada indikasi kedua kluster ini cenderung mengembangkan emosi negatif terhadap kelompok-kelompok yang tidak sealiran dengan mereka. Namun, hal itu tidak berujung pada perilaku sosial yang bercorak kekerasan atau perilaku segregasi sosial yang serius.

“Namun tentu kehati-hatian tetap diperlukan supaya implikasi tidak berkembang ke arah yang lebih serius,” imbuh dia.

Peneliti Senior di Surabaya Survey Center (SSC) Surokim Abdussalam menjelaskan, walau di tingkat elite sudah terjadi rekonsiliasi, polarisasi memang masih terjadi di tingkat bawah. Oleh karenanya, hasil survei dari Laboratorium Psikologi UI ini bisa menjadi peringatan bagi semua pihak yang terlibat di pemilu mendatang agar tidak menggunakan cara-cara yang memperuncing polarisasi.

Salah satu cara untuk meminimalisir polarisasi adalah program yang ditawarkan ke masyarakat harus lebih banyak dibicarakan. Jangan melulu fokus pada kandidat. Apabila fokusnya pada sosok personal, maka yang timbul kemudian adalah suka dan tidak suka.

“Pemilu ini harus kita dorong untuk menjadi pemilu programatik dan pemilu berintegritas dalam rangka salah satunya untuk mereduksi polarisasi,” imbuh Surokim seperti dikutip dari Liputan6.

“Untuk apa kita menyelenggarakan pemilu mahal-mahal kalau kemudian hasilnya justru memicu konflik dan polarisasi yang kemudian bisa membahayakan keutuhan negara,” imbuhnya.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Amanatia Junda

BACA JUGA Mengenal Politik Gagasan, Perwujudan Pemilu Ideal di 2024

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2023 oleh

Tags: laboratorium psikologi politik UIPemilu 2024pilprespolarisasipolitik identitassurvei politik
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Jokowi Menyemai Dinasti Politik di Tingkat Daerah. MOJOK.CO
Ragam

Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Warisan Dinasti Politik Jokowi di Tingkat Daerah

26 November 2024
Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
3 Dosa Indomaret yang Bikin Kecewa karena Terpaksa (Unsplash)

3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa tapi Bisa Memakluminya karena Keadaan lalu Memaafkan

21 Februari 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.