Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Kulon Progo Dalam Pusaran Kekerasan Dan Konflik Agraria

Redaksi oleh Redaksi
7 Desember 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kulon Progo bukan sekedar tanah. Ia adalah jagat hidup manusia yang ada di dalamnya. Tetapi saat ada upaya membangun bandara baru, manusia-manusia ini hanya sekedar jadi statistik yang bisa dihilangkan.

Seperti yang dikutip dari Tirto, jumlah warga, yang masih gigih menolak menyerahkan lahannya untuk lokasi Bandara Kulon Progo, memang tak banyak lagi. Jauh merosot dibanding lima tahun lalu saat rencana proyek ini muncul. Kini tersisa 38 rumah atau 250-an jiwa—dengan sejumlah bidang pekarangan dan ladang—yang belum diserahkan ke PT Angkasa Pura 1.

Masyarakat melawan rencana pembangunan ini. Bandara Internasional Yogyakarta (NYIA) mengancam keberadaan manusia yang tinggal di tanah ini. Eskalasi konflik meningkat di lapangan yang berujung penangkapan 15 aktivis pada Selasa kemarin, 5 Desember. Mereka baru dikeluarkan pada pukul 10 malam.

Panjang umur perjuangan bersama rakyat!

 

***

Galih Nugraha Su

Ujaran raja lalim. Tidak ada relokasi, diminta ambil uang sendiri (apa namanya kalau bukan maksa?), suruh beli tanah dan rumah sendiri dengan uang tadi. Lucu juga, Kulon Progo itu jauh dari pusat kota. Bahkan jauh dari kota-kota yang bersebelahan dengan Jogja. Jika Kulon Progo menjadi bandara. Sudah bisa ditebak: mana lagi yang digusur untuk akses transportasi? Mana lagi yang digusur untuk wisata pantai, danau dan hotel? BTW, Jogja itu bisnis keluarga. Sultan, dengan sikap begini, masyarakat tidaklah dihitung sebagai apa dan siapa. Jahat betul Sultan Ground ini dipakai sebagai senjata utama.

Iqbal Aji Daryono

Bandara Jogja memang sudah sangat tidak layak. Banyak kecelakaan terjadi. Salah satunya yang merenggut nyawa Prof Koesnadi Hardjosoemantri. Sementara itu, solusi pembangunan bandara baru dengan merebut tanah rakyat juga bentuk kezaliman. Rakyat pemilik tanah itu hanya penonton, tidak pernah naik pesawat, tidak akan mendapatkan apa-apa dari bandara.

Satu-satunya berkah buat mereka adalah bisa tiap sore nyuapin anak sambil memandang montor mabur yang naik dan turun, lalu mengajari si anak untuk bertepuk tangan dan bernyanyi “Montor mabuuuur njaluk dhuwiteeeee…!”

Lalu bagaimana solusinya? Apakah Khilafah punya?

Haryo Setyo Wibowo

Sharing berita seperti ini resikonya 2:

Iklan

1. Dianggap anti pembangunan

2. Dianggap anti Jokowi

Sementara orang yang mendukung penggusuran, setidaknya berpijak pada 2 hal juga:

1. Rezim sudah memikirkan manfaatnya lebih banyak

2. Pembangunan harus berjalan terus

Saya pribadi tidak menyukai pembangunan yang mensyaratkan adanya tumbal, sekecil apa pun. Ini tidak berbeda jauh dengan pembangunan pabrik semen di Kendeng. Banyak orang menyetujui pembangunan pabrik walaupun akan menghancurkan kawasan kaya air itu, “hanya” karena Ganjar ada di hati mereka.

Kehilangan lahan pertanian (produktif) atau ancaman kelangsungan sumber air mau dengan cara apa menggantinya? Lembaran rupiah?

Kalau prinsip penghitungan ganti rugi hanya berdasar nilai pasar (seperti bangunan) seperti selama ini, maka sistem “buta” yang hanya mengacu pada nilai NJOP tersebut, tidak ada bedanya dengan upaya merusak peradaban!

Ada nilai-nilai lain yang selama ini tidak pernah dimunculkan tiap terjadi sengketa lingkungan. Nilai sosial, nilai warisan dan jasa lingkungan.

Petani seperti halnya nelayan, satu dari sedikit profesi yang dapat diturunkan tanpa orang harus mengambil pendidikan formal terkait bidang itu. Banyak orang atau kelompok masyarakat tani yang dapat hidup layak atau bahkan sejahtera, selama kebijakan tidak meminggirkan mereka.

Saya hanya bisa mendoakan semoga mereka dan siapa saja yang mendukung perjuangan tersebut kuat. Tidak mudah berjuang melawan apa yang disebut “pembangunan”.

Terakhir diperbarui pada 7 Desember 2017 oleh

Tags: AgrariaBandar UdaraJogjaKonflik AgrariaKulon ProgoSultan Hamengku Buwana XSultan JogjaYogyakarta
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.