Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Siasat Sultan HB IX Merangkul Kaum Komunis di Lingkungan Keraton

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Februari 2023
A A
sultan hb ix mojok.co

Ilustrasi Sri Sultan HB IX (Ega Fanshuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sri Sultan HB IX mempunyai siasat untuk memangku kekuatan komunis yang saat itu sedang besar. Strategi ini digunakan untuk menjaga stabiltas politik di Yogyakarta.

Sudah menjadi rahasia umum jika Sri Sultan Hamengkubuwono IX merupakan raja yang cerdas, reformis, dan akomodatif. Bahkan dalam kepemimpinannya, ia sengaja memangku kekuatan komunisme di lingkungan Keraton Jogja untuk menciptakan stabilitas politik.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX (selanjutnya disebut HB IX), adalah pemimpin yang piawai bermanuver dalam menyelamatkan stabilitas politik di wilayahnya. Ini terlihat pertama kali sejak pada masa awal kemerdekaan, di mana HB IX memutuskan untuk bergabung dengan Republik Indonesia yang baru saja proklamasi.

Menurut sejarawan Muhidin M. Dahlan, langkah itu bukan tanpa alasan. HB IX, melalui Mandat 5 September 1945 (sertijab Jogja masuk Republik Indonesia), ingin menyelamatkan wibawa Keraton Jogja yang mungkin terancam di masa revolusi.

“Rakyat jajahan ratusan tahun, bangkit dan mengamuk. Tidak hanya menyerang semua yang berbau kolonialisme, tetapi juga segala yang sifatnya feodalistis karena raja-raja, sultan-sultan, pangeran-pangeran, dianggap boneka kolonial dan harus digilas,” ujar Muhidin dalam acara JasMerah yang tayang di kanal Youtube Mojokdotco, dikutip Senin (6/2/2023).

“Amanat 5 September 1945 dari Sri Sultan HB IX membikin Keraton Jogja tetap terjaga wibawanya, dan sekaligus bikin Jogja hari ini tetap diguyur Danais,” sambungnya.

Di masa-masa berikutnya, sikap akomodatif HB X untuk menciptakan stabilitas politik di wilayahnya juga dilakukan dengan upaya yang lebih progresif. Ia, dengan sangat sadar, mewadahi kaum kiri ke lingkungan Keraton karena Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi kekuatan besar di akar rumput Jogja.

Sikap akomodatif

Semua berawal dari Pemilu 1955. Pada momentum ini, Kota Praja Jogja disapu bersih oleh suara PKI. Memang benar saat itu TNI—lawan politik PKI—memenangkan sebagian besar Pemilu di Gunungkidul dan Kulon Progo. Namun, angkatan bersenjata tidak berkutik di pusat Kota Jogja.

“Apalagi di tempat pemungutan suara (TPS) Keraton Timur—wilayah kekuasaan mutlak HB IX—disapu bersih oleh PKI,” ujar Muhidin.

Dengan demikian, mau tidak mau HB IX harus bersikap akomodatif kepada PKI. Mengingat sebagai kekuatan terbesar di wilayah itu, PKI punya peran politis yang besar dalam menggerakkan massa akar rumput. Lantas, apa saja privilese yang diberikan Sri Sultan HB IX kepada PKI pada masa itu?

Muhidin mencatat, salah satu sikap baik HB IX adalah dengan memberikan Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI; underbouw PKI) jatah bangunan berkegiatan di sekitar Keraton. Bahkan, lebih istimewa lagi, Sekretariat IPPI juga dibangun benar-benar dekat dengan Keraton.

Privelese lainnya

Bukti yang memperkuat ini, kata Muhidin, adalah ketika terjadi demonstrasi menentang kapitalisme Barat di Kedutaan Amerika Serikat—saat itu sebelah barat Tugu Jogja. Para pendemo mengambil titik kumpul di alun-alun, lokasi yang istimewa sekaligus “halaman raja”.

“Saya bingung kenapa mereka berangkat dari sana. Oh, ya, sekretariatnya ‘kan ada di alun-alun,” sebutnya.

Selain memfasilitas IPPI ruang berkegiatan, sikap HB IX yang lain, misalnya, adalah dengan secara terbuka memberi organisasi-organisasi seni underbouw PKI bangunan di dekat Keraton sebagai sekretariat mereka.

Iklan

Badan Kontak Organisasi Ketoprak (Bakoksi) yang dijalankan Lekra, diberikan bangunan yang hari ini jadi Museum Sonobudoyo. Adapun Universitas Rakjat, sekolah tinggi kader-kader PKI, diberi lahan di Kadipaten Wetan (sekarang SD Keputran 2). Sementara Seniman Muda Indonesia (SMI) yang dipimpin Sudjojono, dibuatkan sanggar di pojok timur alun-alun (saat ini jadi Jogja Gallery).

Tak sampai di situ, HB IX juga membuka pintu selebar-lebarnya kepada pimpinan PKI DN Aidit untuk memberikan ceramahnya di Keraton.

“Jika Anda cukup rajin dan sabar mencari, membuka, dan membaca koran Kedaulatan Rakyat maupun Minggu Pagi, nanti pasti ketemu kliping bagaimana Aidit itu sering didengarkan gagasannya di lingkungan Keraton,” jelas Muhidin.

Simbiosis mutualisme

Alhasil, karena PKI begitu “dipangku dan dirumat” oleh Sri Sultan HB IX, aksi-aksi besar PKI untuk menumpas feodalisme di wilayah lain, justru tidak terjadi di Jogja. Aksi ini dikenal dengan “Aksi Sepihak”.

Sebagaimana diketahui, Aksi Sepihak yang terjadi sepanjang 1960-1965 menjadi aksi-aksi yang dilakukan oleh PKI atau underbouw-nya, khususnya Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat, dengan merebut dan menduduki tanah milik negara, orang kaya, dan perkebunan besar, sebagai agenda landreform. Buntutnya, Tuan Tanah jadi korban.

Meski Jogja kental dengan feodalisme—paham yang menjadi sasaran utama Aksi Sepihak—PKI tidak melakukannya di Jogja. Padahal, di Klaten dan Surakarta, aksi ini terjadi begitu masif, tapi sama sekali tidak kelihatan riuhnya di wilayah HB IX.

“Itu karena Sri Sultan HB IX adalah seorang raja yang tahu bagaimana memangku orang-orang merah, memangku orang-orang komunis,” kata Muhidin.

“Ia adalah raja yang mengerti betul bagaimana berselancar di dalam perubahan haluan politik nasional,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

LIHAT JUGA Sultan HB IX: Siasat “Memangku” Orang Kiri dan Komunis di Lingkungan Keraton

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2023 oleh

Tags: keraton YogyakartaKomunisSultan HB IX
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Benarkah Keturunan Keraton Jogja Sakti dan Bisa Terbang? MOJOK.CO
Esai

Benarkah Keturunan Keraton Jogja Sakti dan Bisa Terbang?

18 Desember 2025
jogja, kraton jogja.MOJOK.CO
Ragam

Ketika Polemik Hak Sewa Tanah Bikin Diponegoro Balik Arah Melawan Kraton Jogja

26 Januari 2025
Plengkung Gading Jogja Ditutup, “Takhta untuk Rakyat” Mati MOJOK.CO
Esai

Plengkung Gading Jogja yang Ditutup, “Takhta untuk Rakyat” yang Mati

21 Januari 2025
Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah MOJOK.CO
Esai

Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah

30 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

12 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.