Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

NU dan Muhammadiyah Komentari MUI Jatim yang Imbau Jangan Ucapkan Selamat Natal

Redaksi oleh Redaksi
25 Desember 2019
A A
NU dan Muhammadiyah Komentari MUI Jatim yang Imbau Jangan Ucapkan Selamat Natal
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Muhammadiyah dan NU mengomentari imbauan MUI Jatim agar umat Islam jangan sampai mengucapkan “selamat Natal” kepada umat Kristen atau Katolik.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur memberi imbauan khusus kepada umat Islam agar tak memberi selamat Natal kepada umat kristiani yang hari ini sedang merayakan Natal. Hanya saja imbauan ini tak berlaku kepada KH. Ma’ruf Amin karena posisinya sebagai ’umara atau pemimpin.

Hal ini disampaikan secara langsung oleh Sekretaris MUI Jatim Moch. Yunus. “Nah, kalau urusan itu, mungkin Pak Wapres punya pertimbangan sebagai pemimpin negara,” katanya di Surabaya pada Jumat (20/12) kemarin.

Alasan MUI Jatim keluarkan imbauan jangan ucapkan selamat Natal karena urusan akidah. Menurut Yunus, toleransi tidak harus ditunjukkan dengan mengucapkan selamat hari raya ke umat agama lain. Apalagi ucapan ini juga sudah diwakilkan oleh Wakil Presiden, KH. Ma’ruf Amin.

“Toleransi itu setuju dan disepakati dalam perbedaan masing-masing agama. Sehingga ketika orang tidak mengucapkan selamat hari Natal, tidak menggunakan atribut perayaan mereka, itu bukan dimaksud intoleran,” kata Yunus.

Menanggapi hal itu, PP Muhammadiyah mengaku tetap menghormati keputusan MUI Jatim yang keluarkan imbauan tersebut. Meski demikian, Muhammadiyah menyampaikan kalau sebenarnya persoalan ini sebenarnya harus didudukkan kalau ada yang melarang, tapi ada juga yang membolehkan.

“Kalau Muhammadiyah mungkin menghormati pendapat apapun. Itu kan berdasarkan semacam ijtihad para ulama. Ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan. Kita menghormati apapun yang difatwakan para ulama, oleh para kiai terhadap hal ini,” kata Dadang Kahmad, Ketua PP Muhammadiyah.

Menurut Muhammadiyah, jangan hanya perbedaan antar-agama saja yang patut saling menghormati, namun perbedaan tafsir pada satu agama yang sama baiknya jika diterapkan konsep toleransi.

“Terhadap adanya perbedaan penafsiran, perbedaan pendapat harus dihormati masing-masing pihak, jangan saling merendahkan, jangan saling menafikan, ini kan negara demokrasi, negara Bhinneka Tunggal Ika. Ya kita rawat lah, jangan sampai konflik disharmoni dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara,” tambah Dadang Kahmad.

Di sisi lain, Nahdlatul Ulama melalui PBNU menyampaikan bahwa larangan ucapan Natal memang ada dasar ijtihad-nya dari ulama.

“Bagi orang yang tidak mau mengucapkan, memang ada ulama-ualam yang juga tidak mau mengucapkan. Seperti Bin Baz, Ustaimin. Bagi para… mereka yang mengikuti fatwanya Bin Baz dan Ustaimin, yang paling penting mereka bisa menghormati dengan caranya dan saya harapkan yang non-muslimnya pun memahami bahwa ada kelompok yang memang tidak bisa mengucapkannya karena ada fatwanya Utsaimin dan Bin Baz,” tutur Marsudi Syuhud, Ketua PBNU.

Meski begitu, PBNU juga sampaikan bahwa selain ulama yang melarang, sebenarnya ada juga ulama yang membolehkan umat muslim untuk kasih ucapan selamat Natal ke umat kristiani.

“Tapi ada yang mengucapkan, itu mereka juga punya fatwa-fatwa, misalnya dari banyak ulama Mesir, dari Syekh Ali Jumah, mufti Mesir, dari Yusuf Qardhawi sampai belasan ulama Mesir lah, banyak,” tutur Marsudi.

Marsudi kemudian menjelaskan bahwa pangkal perbedaan ini adalah karena ada ulama yang menempatkan hukum mengucapkan selamat Natal di wilayah muammalah, namun ada juga ulama yang menempatkannya di wilayah tauhid seseorang.

Iklan

Dari penjelasan ini, Marsudi kemudian mengikuti ulama-ulama yang memandang bahwa persoalan ini hanya berada di urusan muammalah saja, tidak sampai masuk ke wilayah keimamanan seseorang.

“Wilayah muammalah, karena saya ngucapin begitu. Saya nggak pernah percaya, seperti saya nggak imani keimanan mereka (umat Kristiani),” tambah Masduki.

Oleh karena itu, Masduki mengimbau kepada umat Kristiani agar tidak perlu sakit hati kalau ada umat muslim yang memang tidak ingin menyampaikan selamat Natal.

“Saya harap bagi umat Nasrani, tidak merasa kurang penghormatan kepada mereka yang mempercayai tidak boleh (mengucapkan selamat Natal),” tutup Masduki.

Yang jelas, mau ngucapin atau tidak ngucapin, yang penting jangan jotos-jotosan ya. Tetap rukun bersaudara dan dijauhkan dari marabahaya serta bisa selalu bahagia.

Selamat Natal. (D/F)

NU dan Muhammadiyah Komentari MUI Jatim yang Imbau Jangan Ucapkan Selamat Natal

BACA JUGA Tiga Argumentasi Paling Sahih Mengapa Ucapan Selamat Natal itu Haram atau tulisan rubrik KILAS lainnya.

Terakhir diperbarui pada 25 Desember 2019 oleh

Tags: MuhammadiyahMUINahdlatul UlamanupbnuSelamat Natal
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja
Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.