Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Ngobrol dengan Aktivis Lintas Peradaban, Benarkah Atlantis di Indonesia?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
30 Januari 2023
A A
atlantis dan lemuria di indonesia mojok.co

Dosen UIN Sunan Kalijaga Mokhamad Mahfud (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Indonesia merupakan pusat ibukota dari Atlantis, peradaban maju zaman kuno yang telah lama menghilang. Bahkan, ada banyak penelitian ilmiah sudah membuktikan klaim tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Dosen UIN Sunan Kalijaga Mokhamad Mahfud, yang mendapuk dirinya sebagai aktivis lintas peradaban sekaligus peneliti Atlantis. Menurut Mahfud, klaim Indonesia sebagai pusat Atlantis bukanlah isapan jempol. Banyak riset telah membuktikannya.

Ia menyontohkan, sejak tahun 1990-an saja, sudah ada banyak ‘buku babon’ yang telah mengulas soal Atlantis. Antara lain buku Geolog Brasil Arysio Santos berjudul Atlantis: The Lost Continent Finally Found (2005), Eden in the East (1998) karangan Stephen Oppenheimer, hingga Situs Gunung Padang: Misteri dan Arkeologi (2013) karya Ali Akbar dan kawan-kawan.

Bahkan, pada tahun 2010 Mahfud bersama akademisi lintas disiplin ilmu juga telah melakukan penelitian. Hasil penelitian itu mereka bukukan dalam NAGA-RA: Atlantis Purba (2011), yang mereka tulis dengan pendekatan multiparadigma.

“Ada banyak penulis lintas keilmuan dalam buku ini. Mengingat  untuk mencari Atlantis dan Lemurian Mojopait, kita harus mengkajinya secara sistematis dengan paradigma integrasi interkoneksi keilmuan, yakni religion (agama), science (sains), dan philosophy (filsafat),” ujar calon doktor bidang Ilmu Komunikasi itu dalam acara Kalcersok yang tayang di kanal Youtube Mojokdotco, dikutip Kamis (26/1/2023).

Atlantis terbukti secara Ilmiah?

Menurut Mahfud, Ilmu Pengetahuan dibangun atas tiga hal: mitos, bukti empiris, dan ideologi. Mitos, kata dia, pada awalnya memang sekadar cerita rekaan yang dituturkan dalam tradisi lisan. Namun, seiring dengan berkembangnya mitos, seseorang akan mulai mencari bukti-bukti ilmiah yang membangun dan menguatkan mitos tersebut, melalui Bukti Empiris. Saat sebuah bukti empiris berhasil menguatkan mitos, maka ia akan merajut mitos tersebut menjadi sebuah Ideologi.

“Pada gilirannya nanti, ideologi akan menjadi Ilmu Pengetahuan, yang bisa diterima secara akademik,” paparnya.

Kaitannya dengan Atlantis, Mahfud menyebut bahwa hal tersebut ia pakai sebagai pijakan berpikir dalam menulis bukunya. Atlantis, awalnya memang dipandang sebagai sebagai mitos, atau sekadar dibangun atas asumsi spiritual. Akan tetapi, ketika ia dan timnya mulai menemukan bukti-bukti ilmiah atas eksistensinya, Atlantis sudah menjadi ideologi.

“Maka, Atlantis pun sah menjadi Ilmu Pengetahuan yang bisa diterima secara akademis—walaupun memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menerimanya,” jelas Mahfud.

Bukti-bukti ilmiah, sebagaimana dijelaskan Mahfud, bahkan pernah dipamerkan. Ia berkisah, bukti-bukti ini pernah dipamerkan dalam dua event berbeda pertengahan tahun 2020 lalu di acara International Artefact Exhibition Webinar: The Lost and Science Civilization dan Jember Fashion Carnival (JFC).

“Dipamerkan temuan teknologi masa lalu berupa pusaka-pusaka berbahan materil. Kalian bisa melihatnya [saat ini] di Museum Artefak di Jember, Wonogiri, dan Jakarta,” ujar dia.

Bahkan, untuk buku yang ia tulis, NAGA-RA: Atlantis Purba, selain ditulis oleh ilmuwan lintas keilmuan, timnya juga menggunakan teknologi terbaru dalam melakukan riset.

Buku itu ditulis dengan mencari bukti-bukti fisik dan mengkomparasi aneka mitologi yang membangun kisah Atlantis. Para peneliti pun, juga berasal dari lintas keilmuan yang beragam: geologi, arkeologi, mitologi—dan menggunakan teknologi satelit bikinan badan laboratorium Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) dan Badan Antariksa AS (NASA) untuk meneliti.

“Ini semua temuan ilmiah, hasil riset. Ini semua sudah menjadi ilmu pengetahuan, tinggal bagaimana kita legowo menerimanya,” ujarnya.

Iklan

Butuh ‘kelegowoan’ para akademisi

Mahfud mengakui, bahwa hari ini masih banyak orang menganggap temuannya ini sekadar bualan. Bahkan tak jarang juga pihaknya dianggap “aneh”. Padahal, jika berbicara komunitas pegiat Atlantis, di dunia maupun Indonesia jumlahnya ada ratusan yang memaparkan bukti-bukti eksistensi Atlantis secara ilmiah.

Ia pun berharap masyarakat Indonesia, khususnya para akademisi, mau dengan “legowo” menerima bahwa temuannya tersebut merupakan produk ilmiah.

“Kuncinya, jika akademisi mau legowo, menerima temuan kita, yang sudah disertai banyak bukti ini,  dengan orientasi membangun pariwisata akan membuat negara kita besar dan devisa yang masuk juga tinggi karena isu Atlantis,” paparnya.

Ia mencontohkan, ketika Spanyol mengklaim telah “menemukan” Atlantis di sepanjang wilayah garis pantai mereka, isu itu jadi booming. Wisatawan pun banyak yang berkunjung kesana dan pariwisata menjadi berkembang pesat.

Indonesia, kata Mahfud, harusnya juga bisa melakukannya. Apalagi, semua ini dilandasi sebuah riset ilmiah. Maka, ia pun berharap masyarakat dan dunia akademis mau menerima pemikirannya tersebut demi melekatkan branding pariwisata Atlantis di Indonesia.

“Bayangkan ketika mendengar Atlantis Nusantara, dalam kepala dan bawah sadar kita langsung menyebut ‘Indonesia’,” Mahfud menegaskan.

“Insya Allah, ini akan memajukan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

LIHAT JUGA Mencari Atlantis dan Lemuri yang Hilang di Indonesia

Terakhir diperbarui pada 30 Januari 2023 oleh

Tags: atlantislemurianriset
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Riset dan pengabdian masyarakat perguruan tinggi/universitas di Indonesia masih belum optimal MOJOK.CO
Kampus

Universitas di Indonesia Ada 4.000 Lebih tapi Cuma 5% Berorientasi Riset, Pengabdian Masyarakat Mandek di Laporan

18 Desember 2025
brin mojok.co
Politik

DPR Mendesak Kepala BRIN untuk Dicopot Terkait Kinerjanya

2 Februari 2023
MENCARI ATLANTIS DAN LEMURIA YANG HILANG DI INDONESIA
Video

Mencari Atlantis dan Lemuria yang Hilang di Indonesia

25 Januari 2023
Inferiority Complex atau Perasaan Minder Bagian dari Eksistensi Akademisi MOJOK.CO
Esai

Inferiority Complex atau Perasaan Minder Bagian dari Eksistensi Akademisi

3 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026 MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026
Warung Bakso Horor di Selatan Jogja MOJOK.CO

Warung Bakso Horor di Selatan Jogja: Teror Gaib yang Tak Kunjung dan Belum akan Berhenti

22 Januari 2026
Penangkaran merak di Jogja City Mall. MOJOK.CO

Merak Bukan Lagi Sekadar Simbol Keagungan, tapi Teman yang Merakyat di Pojokan Mal Jogja

23 Januari 2026
2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali

Beli Rumah Subsidi Cuma Bikin Hidupmu Jauh Lebih Sengsara dalam Waktu yang Lama

20 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.