Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Mengonsumsi Pangan Lokal, Menyelamatkan Bumi dan Merawat Tradisi

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
29 Agustus 2022
A A
pangan lokal mojok.co

Suasanan workshop Punk Pangan: Konsumsi Pangan Lokal adalah Perlawanan. (Purnawan S. Adi/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mengonsumsi pangan lokal punya beragam manfaat. Tak hanya sebagai upaya merawat tradisi yang sudah diwariskan turun temurun, namun juga sebagai upaya menyelamatkan bumi.

Diah Widuretno dari Sekolah Pagesangan, Gunungkidul menjelaskan bahwa sistem pangan lokal ditandai dengan komponen produksi, konsumsi, dan distribusi bahan pangan yang masih dilakukan dalam radius jarak yang dekat.

Proses sirkulasi bahan pangan yang dekat itu membuat kualitas kesegaran terjaga. Lebih dari itu, ini bisa juga jadi upaya untuk mengurangi krisis iklim yang ternyata disumbang banyak dari sistem pangan global.

“Semakin dekat, semakin segar. Semakin jauh proses rantai distribusi pangan membuat lebih banyak dampak buruk yang ditimbulkan,” ujar Diah.

“50 persen kerusakan lingkungan dan kenaikan suhu disumbang produksi dan distribusi pangan. Sistem produksi pangan begitu massif,” lanjutnya dalam workshop Punk Pangan: Konsumsi Pangan Lokal adalah Perlawanan yang digelar Minggu (28/8).

Diah mencontohkan, terigu dari gandum yang biasa digunakan sebagai bahan berbagai pangan pokok untuk pemenuhan kebutuhan karbohidrat masyarakat itu berasal industri pangan besar. Lahan yang digunakan tidak dalam skala kecil, namun berasal dari ribuan hingga jutaan hektar.

Beberapa bahan pokok pangan global seperti gandum sangat rentan terhadap kenaikan suhu. Kenaikan suhu akibat pemanasan global bisa memicu krisis pangan. Maka pangan lokal bisa jadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan pada hal-hal tersebut.

Lebih lanjut, Diah menjelaskan setidaknya ada dua alasan mengapa kita patut mencoba memanfaatkan pangan lokal untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Pertama terkait aspek ketelusuran, pangan lokal lebih mudah untuk ditelusuri sumbernya. Kita dapat mengetahui bagaimana pangan itu diproduksi hingga didistribusi karena bersumber dari sekitar tempat tinggal. Dengan itu, kualitas pangan baik secara kandungan maupun dampak yang dapat ditimbulkan dari proses distribusinya dapat kita pahami secara lebih mendalam.

Kedua yakni upaya untuk kritis terhadap sumber pangan. Kritis dengan cara mengidentifikasi sumber pangan lokal yang bisa dimanfaatkan jika terjadi kenaikan suhu yang menyebabkan pangan pokok yang diproduksi masif seperti padi dan gandum terganggu.

“Contohnya umbi-umbian. Kenapa kok umbi dianggap pangan yang kompatibel terhadap kenaikan suhu bumi? Karena seperti singkong, ganyong, dan talas lebih adaptif. Tapi kenapa tidak dikonsumsi massal? Karena politik pangan yang berkiblat pada sistem pangan global,” jelasnya.

Pangan lokal, merawat tradisi

Sekolah Pagesangan merupakan inisiatif warga di Wintaos, Girimulyo, Panggang, Gunungkidul yang tergerak untuk melestarikan sistem pangan lokal yang sudah ada turun temurun. Kondisi geografis di sana yang relatif terisolir dan berada di atas lahan kars membuat masyarakat hidup adaptif.

“Kondisi alam seperti itu, jadi orang sana membuat sistem pangan yang membuat mereka bisa bertahan sampai sekarang,” jelasnya.

Bagi warga di sana, ketentraman dapat dirasakan jika urusan pangan sudah aman. Ada kesatuan antara apa yang diproduksi di lahan sekitar dengan apa yang mereka konsumsi sehari-hari.

Iklan

“Mereka punya daya hidup dengan situasi yang terbatas,” ujarnya.

Tahun 80-an misalnya, setiap rumah warga di Wintaos memiliki lumbung pangan yang disebut juga pesucen. Pesucen menjadi hal yang sakral dan suci, tempat menyimpang bahan pangan seperti jagung, sorgum, hingga jali-jali.

Meski kini tradisi itu mulai tergerus modernisasi, mereka masih tetap berusaha mempertahankan. Sembari melakukan adaptasi dengan situasi saat ini.

Workshop Punk Pangan: Konsumsi Pangan Lokal adalah Perlawanan yang digelar di Kancane Coffee & Tea Bar jadi acara pembuka di ulang tahun Mojok yang kedelapan. Selain Diah, hadir juga Monika Swastyastu dari komunitas studi pangan Bakudapan yang ikut memandu diskusi terkait isu pangan lokal.

Acara berlangsung interaktif, usai pemaparan informasi dan diskusi, peserta diajak menyaksikan langsung proses memasak pangan lokal yang dilakukan ibu-ibu dari Sekolah Pagesangan.

Pengolahan umbi-umbian seperti kimpul, singkong hingga tempe dari kacang koro yang berasal dari kebun-kebun di Wintaos. Semua itu merupakan makanan yang biasa warga konsumsi sehari-hari. Peserta antusias menjajal setiap menu yang dimasak di samping panggung utama itu.

Reporter: Hammam Izzudin
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Ancaman Krisis Pangan Bisa Mendorong Perpindahan Masyarakat Global

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2022 oleh

Tags: bakudapanpanganpangan lokalpolitik pangansekolah pagesangan
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Diah Widuretno Sekolah Pagesangan Gunungkidul
Video

Kisah Kegigihan Diah Widuretno Mendirikan Sekolah Pagesangan di Gunungkidul

25 November 2023
Derita Pedagang Beras Beringharjo, Akibat Harga Beras Naik Terus MOJOK.CO
Kilas

Derita Pedagang Beras Beringharjo, Akibat Harga Beras Naik Terus

13 Oktober 2023
sistem menyimpan pangan di dusun wintaos mojok.co
Podium

Belajar Mengamankan Pangan dari Masyarakat Wintaos Gunungkidul

11 Mei 2023
pendidikan komunitas tergilas zaman
Podium

Kisah Simbah dan Cucunya di Dusun Wintaos: Dapatkah Pendidikan Komunitas dan Formal Berjalan Berdampingan?

30 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.