Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Memori

Mengenal Tugu Jogja, Monumen Bersejarah Simbol Persatuan Raja dan Rakyatnya

Iradat Ungkai oleh Iradat Ungkai
2 September 2023
A A
Mengenal Tugu Jogja, Monumen Bersejarah Simbol Persatuan Raja dan Rakyatnya MOJOK.CO

Tugu Jogja (wikipedia.com)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tugu Jogja bukan sekadar monumen untuk selfie, Bestie. Lebih jauh, ia menjadi simbol persatuan dan perjuangan raja bersama rakyatnya.

Tugu Jogja merupakan monumen ikonik di Jogja. Wisatawan yang datang ke Jogja pasti akan mengunjungi tempat ini untuk sekadar selfie atau nongkrong di kafe dan warung di sekitarnya. Lokasinya berada di di perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo atau dekat dengan Stasiun Tugu.

Namun menurut sejarah, Tugu Jogja bukanlah sekadar obyek wisata atau bahkan monumen selfie. Ada sejarah kota yang tertambat di dalamnya. Termasuk hal-hal yang berhubungan dengan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sejarah Tugu Jogja

Tugu Jogja dibangun oleh Sri Sultan Hamengku buwono I pada 1755. Dahulu monumen ini bernama Tugu Golong-giling yang melambangkan semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajah.

Penamaannya terinspirasi dari wujud monumen pada saat itu yakni berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. “Golong” berarti bulat dan “gilig” berarti silindris–merujuk pada tiang penyokong.

Monumen setinggi 25 meter ini berada tepat di Garis Imajiner Yogyakarta yang menghubungkan Laut Selatan, Keraton, dan Gunung Merapi. Dahulu, Sri Sultan Hamengku Buwono I menggunakan monumen ini sebagai patokan saat bermeditasi menghadap ke puncak Gunung Merapi.

Sempat diterpa gempa dan dipugar Belanda, tetapi tetap gagah berdiri

Tugu Jogja berubah total pada 10 Juni 1867. Gempa bumi besar yang mengguncang Jogja membuat monumen ini runtuh. Lalu pada 1889, pemerintah kolonial Hindia Belanda merenovasi seluruh bangunan tugu.

Monumen tugu berubah menjadi berbentuk persegi yang tiap sisinya berhias ornamen prasasti. Ornamen ini melambangkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi tersebut. Puncak tugu tak lagi berbentuk bulat, tetapi kerucut runcing. Ketinggian bangunan menjadi lebih rendah, yakni hanya 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari monumen lama.

Sejak saat itu nama tugu berubah menjadi De White Paal atau Tugu Pal Putih. Perombakan monumen tugu saat itu merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Upaya tersebut tidak berhasil melihat dari kondisi setelahnya di mana rakyat dan Raja Jogja berjuang bersama.

Pada 2012, Tugu Jogja kembali mengalami renovasi. Pembaruan yang mencangkup pengecatan ulang pada sebagian ornamen dengan menggunakan tinta berwarna kuning yang mengandung emas 22 karat. Taman kecil turut ada setelah renovasi tersebut.

Bukan sekadar monumen selfie

Bagi masyarakat Jogja, monumen Tugu Yogyakarta bukan semata obyek wisata apalagi monumen selfie. Ia menjadi lambang persatuan antara raja dan rakyatnya. Filosofi tersebut terus terbawa dalam benak.

Hal itu terbukti dari banyaknya Tugu Yogyakarta replika berdiri di sejumlah tempat. Beberapa di antaranya di Ambarketawang, Hotel Grand Dafam Rohan, kompleks Museum Benteng Vredeburg, Bandara Udara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, dan yang lainnya.

Penulis: Iradat Ungkai
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Benteng Keraton Yogyakarta dari Masa ke Masa, Tetap Kokoh Berdiri Meski Diserang Bertubi-tubi
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 1 September 2023 oleh

Tags: Jogjasejarah tugu jogjatugu JogjaTugu Yogyakarta
Iradat Ungkai

Iradat Ungkai

Kadang penulis, kadang sutradara, kadang aktor.

Artikel Terkait

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.