Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Kesehatan

Indonesia Darurat TBC: Rasio Kasus Lampaui India, Stigma Negatif Jadi Hambatan Pencegahan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 Januari 2026
A A
tbc di jogja mojok.co

Ilustrasi penyakit TBC (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Indonesia kini menyandang status sebagai negara dengan rasio kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia. Meski dari segi angka total India masih menempati urutan pertama, tapi secara rasio per 100.000 penduduk, Indonesia telah jauh melampaui negara tersebut.

Fakta ini menjadi alarm keras bagi sistem kesehatan nasional yang dinilai masih belum optimal dalam memutus rantai penularan.

Wakil Menteri Kesehatan II, Benjamin Paulus Octavianus, mengungkapkan bahwa Indonesia mencatat 386 kasus TBC per 100.000 penduduk.

Angka ini hampir dua kali lipat lebih tinggi dari rasio India yang berada di level 190 kasus per 100.000 penduduk.

“Kalau penduduk kita sebanyak India, Indonesia sudah nomor satu di dunia (secara jumlah),” tegas Benjamin, dalam keterangan resminya kepada media, dikutip Kamis (29/1/2026).

Bahaya Penularan Senyap TBC

Tingginya angka rasio ini dipicu oleh karakter penyakit TBC yang berkembang perlahan tanpa gejala berat di fase awal.

Seorang penderita TBC tetap bisa beraktivitas normal, bekerja, hingga berolahraga, tanpa menyadari bahwa dirinya sedang menyebarkan kuman ke lingkungan sekitar.

Pemerintah mengakui masih banyak kasus yang belum terdeteksi (missing cases). Hal ini membuat penularan terus berlangsung di tengah masyarakat, terutama di lingkungan padat penduduk dengan sanitasi yang buruk.

Stigma Sosial dan Hambatan Skrining

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti tantangan besar lainnya: Stigma.

Kata dia, setiap tahun, sekitar 136.000 orang di Indonesia meninggal akibat TBC. Namun, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan masih sangat rendah.

“Kenapa tidak pernah selesai? Karena orang malu kalau ketahuan tuberkulosis. Jadi screening-nya jelek,” ujar Menkes.

Rasa malu dan takut dikucilkan, kata dia, membuat banyak penderita memilih untuk menyembunyikan kondisinya, yang pada akhirnya justru berujung pada kematian dan penularan yang lebih luas.

“Perang” Lintas Sektoral

Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, penanganan TBC ditetapkan sebagai Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).

Penanganannya tidak lagi hanya menjadi beban Kementerian Kesehatan, tetapi melibatkan 31 kementerian dan lembaga, termasuk TNI, Polri, hingga Kementerian Perumahan.

Iklan

Pendekatan ini menyasar akar masalah di lapangan, yaitu perbaikan kondisi lingkungan. Kuman TBC mampu bertahan hingga enam bulan di rumah yang lembap dan kurang sinar matahari.

Oleh karena itu, program perbaikan rumah dan ventilasi menjadi bagian krusial dalam strategi nasional.

Pemeriksaan TBC Gratis dan Masif

Sebagai langkah konkret, pemerintah akan mengintegrasikan skrining TBC ke dalam layanan cek kesehatan gratis di puskesmas-puskesmas di seluruh Indonesia.

Tujuannya adalah melakukan deteksi dini secara agresif terhadap ratusan juta penduduk guna menurunkan angka kematian.

Pemerintah menegaskan bahwa pemeriksaan TBC kini tidak dipungut biaya. Targetnya jelas: menghapus stigma, menemukan kasus tersembunyi, dan memastikan Indonesia tidak lagi menjadi pemegang rekor rasio TBC tertinggi di dunia.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kasus TBC di Jogja Meningkat, Tantangan Pengendalian Penyakit Kian Berat

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2026 oleh

Tags: pemeriksaan tbc gratisrasio kasus tbctbctuberkulosis
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

tbc di jogja mojok.co
Aktual

Kasus TBC di Jogja Meningkat, Tantangan Pengendalian Penyakit Kian Berat

27 November 2025
Tekad Kota Semarang beri layanana kesehatan primer untuk entaskan TBC MOJOK.CO
Kilas

Tekad Kota Semarang Beri Layanan Kesehatan Primer ke Warga, Pengobatan Lebih Cepat-Putus Penularan TBC

5 September 2025
Pemprov Jawa Tengah gelontorkan Rp1 Miliar untuk Tangani Tuberkulosis, 84 Persen Pasien Kini Sudah Berobat. MOJOK.CO
Kilas

Pemprov Jateng Gelontorkan Rp1 Miliar untuk Tangani TBC, Kejar Target Penemuan Kasus hingga 60 Persen

26 Agustus 2025
tbc di jogja mojok.co
Kesehatan

Baru 50 Persen Kasus TBC di Jogja Terdeteksi, Penularan Melonjak Selama Pandemi

10 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tabungan likuid untuk jaga-jaga pas kehilangan pekerjaan (PHK) memang penting. Tapi banyak pekerja Indonesia tak mampu MOJOK.CO

Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup

29 Januari 2026
Kuliah, Lulus S1, Kebayoran Baru Jakarta SelatanMOJOK.CO

Lulus S1 di Usia 25 adalah Seburuk-Buruknya Nasib: Terlalu Tua di Mata HRD, tapi Juga Dianggap Minim Pengalaman Sehingga Sulit Dapat Kerja

28 Januari 2026
Honda Scoopy, Bukti Perempuan Beli Motor Berdasarkan Warna Lipstik MOJOK.CO

Honda Scoopy Adalah Bukti Bahwa Perempuan Memilih Motor Berdasarkan Kode Warna Lipstik, Bukan Berdasarkan Kemampuan Mesin

27 Januari 2026
Lawan Keterbatasan Anggaran, Sultan HB X Pacu Digitalisasi dan Pembiayaan Kreatif di DIY.MOJOK.CO

Lawan Keterbatasan Anggaran, Sultan HB X Pacu Digitalisasi dan Pembiayaan Kreatif di DIY

29 Januari 2026
Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah MOJOK.CO

Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

28 Januari 2026
Menyesal pindah ke Jogja, sama saja dengan Jakarta. MOJOK.CO

Kesialan Bertubi yang Bikin Saya Merenung dan Nyaris Menyesal Pindah ke Jogja yang Penuh dengan Kebohongan

27 Januari 2026

Video Terbaru

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.