Guru besar UGM menyebut emboli paru sebagai “pembunuh yang senyap”. Penyebabnya, penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap tak berbahaya.
***
Penyakit pembekuan darah atau Deep Vein Thrombosis (DVT) yang berujung pada emboli paru kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia.
Penyakit yang sering dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh senyap ini kerap berakhir fatal karena minimnya gejala awal dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini.
Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. Dr. dr. Usi Sukorini, M.Kes., dalam pidato pengukuhannya di Balai Senat UGM, Selasa (27/1/2026).
Ia menyoroti bagaimana banyak kasus kematian mendadak terjadi akibat bekuan darah yang lepas dan menyumbat paru-paru, yang sebenarnya berakar dari kondisi DVT yang tidak terdeteksi.
Kata Guru Besar UGM, Gejalanya Sering Diabaikan
Menurut Prof. Usi, tantangan terbesar dalam menangani DVT adalah sifatnya yang tidak menonjol pada fase awal. Pasien sering kali hanya merasakan nyeri atau bengkak ringan pada tungkai kaki.
Karena dianggap sepele, mereka baru datang ke rumah sakit setelah mengalami sesak napas akut—tanda bahwa bekuan darah sudah menjalar ke paru-paru (emboli paru).
“Sebagian besar kasus di Indonesia ditemukan secara kebetulan atau baru terdiagnosis setelah komplikasi berat muncul. Padahal, jika faktor risikonya dikenali sejak awal, penyakit ini sangat bisa dicegah,” jelas Prof. Usi dalam pidatonya yang berjudul ‘Pemeriksaan Laboratorium: Kunci Mengungkap Misteri Deep Vein Thrombosis di Indonesia’, sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (30/1/2026).
Kelompok dengan Risiko Tinggi
Penyakit ini tidak datang tanpa sebab. Prof. Usi menjelaskan bahwa orang-orang dengan mobilitas rendah atau mereka yang menjalani “imobilisasi” (tidak banyak bergerak) dalam waktu lama memiliki risiko paling tinggi.
Ini termasuk pasien pasca-operasi, mereka yang dirawat lama di tempat tidur rumah sakit, hingga individu dengan gangguan pembekuan darah genetik.
Kurangnya aktivitas fisik yang berkepanjangan memicu darah mengental dan membeku di pembuluh vena dalam. Jika tidak segera ditangani melalui pemeriksaan laboratorium yang tepat, risiko komplikasi klinis hingga beban ekonomi jangka panjang bagi keluarga pasien akan sangat besar.
Laboratorium sebagai Garda Terdepan
Sebagai pakar Patologi Klinik, Prof. Usi menegaskan bahwa pemeriksaan laboratorium adalah “kunci pembuka kotak pandora” untuk mendeteksi DVT sebelum terlambat.
Ia menyayangkan kesadaran publik terhadap DVT masih jauh di bawah penyakit jantung atau stroke, padahal risikonya sama mematikannya.
Ia pun mengajak tenaga kesehatan dan masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kecil di tubuh. Deteksi dini melalui tes darah khusus dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan jangka panjang.
“DVT bukan hanya masalah medis, tapi juga masalah sosial dan ekonomi karena menurunkan produktivitas. Edukasi publik harus masif dilakukan agar masyarakat tidak lagi abai terhadap ancaman senyap ini,” pungkasnya.
Pesan Redaksi: Jangan abaikan bengkak atau nyeri kaki yang tidak biasa, terutama jika kamu baru saja menjalani operasi atau memiliki gaya hidup minim gerak. Konsultasi dini adalah kunci keselamatan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Rp9,9 Triliun “Dana Kreatif” UGM: Antara Ambisi Korporasi dan Jaring Pengaman Mahasiswa














