Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Indonesia Darurat Humor, Warga Diciduk Polisi Setelah Menulis Guyonan Gus Dur di Sosial Media

Redaksi oleh Redaksi
18 Juni 2020
A A
gus dur
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gara-gara menulis status guyonan Gus Dur, eh, jadi “guyonan” polisi di kantor polisi.

Di jaman sekarang, menulis sesuatu di sosial media memang menjadi perkara yang rumit, ia bisa membikin seseorang ditangkap polisi bahkan walau apa yang ia tulis sebenarnya sama sekali tidak layak untuk diperkarakan.

Hal itulah yang terjadi pada seorang warga Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara bernama Ismail Ahmad. Dirinya terpaksa berurusan dengan pihak kepolisian karena menulis di Facebook guyonan legendaris yang pernah dilontarkan oleh Gus Dur: “Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng.”

Ismail dijemput oleh tiga orang polisi ke ke Polres Kabupaten Kepulauan Sula tak berselang lama setelah menuliskan status tentang tiga polisi jujur tadi. Di Polres, Ismail ditanya-tanya tentang maksud dan tujuan memposting guyonan tersebut.

Belakangan, Ismail pun kemudian dilepas seteleh bersedia meminta maaf.

Kapolres Kepulauan Sula AKBP Muhammad Irvan mengatakan bahwa pemanggilan Ismail hanyalah untuk keperluan klarifikasi perkara.

“Yang bersangkutan kami panggil untuk klarifikasi tentang niat atau mens rea mengunggah hal tersebut. Dan yang bersangkutan minta maaf jika hal tersebut menyinggung institusi Polri, sehingga kami adakan press release untuk (Ismail) minta maaf. Sebagai pembelajaran di masyarakat agar lebih bijak di media sosial, setelah itu yang bersangkutan pulang,” terang Irvan kepada reporter Tirto.

Kendati sudah dilepaskan dan tidak diproses lebih lanjut, namun insiden tersebut mengundang reaksi keras dari banyak pihak. Maklum saja, penangkapan Ismail memang dinilai merusak kebebasan berpendapat masyarakat.

Salah satu putri Gus Dur, Inayah Wahid sampai menyindir insiden tersebut di sosial media.

“Laaah yang dipanggil kok yang mengquote. Panggil yg bikin joke dong Pak,” ujar Inayah.

Putri Gus Dur yang lain, Anita Wahid juga ikut bersuara. Ia mengunggah gambar berisi guyonan tentang tiga polisi jujur itu dengan menambahkan caption yang cukup menantang: “Kalo aku unggah ini, aku bakal diperiksa nggak?”

Akun jaringan Gusdurian pun ikut menyayangkan insiden penangkapan Ismail. Dalam keterangan resminya, Gusdurian menganggap penangkapan Ismail sebagai bukti bahwa Indonesia sedang darurat humor.

Memang tak bisa dimungkiri bahwa penangkapan Ismail karena unggahan guyonan Gus Dur tersebut cukup mengusik bagi banyak orang. Guyonan legendaris Gus Dur tersebut selama ini tak pernah menjadi masalah. Sudah tak terhitung berapa banyak tokoh yang pernah mengutipnya.

Guyonan tersebut bahkan pernah disampaikan oleh Kapolri Tito Karnavian dalam Testimoni Haul Gus Dur di Ciganjur tahun 2019 lalu.

Iklan

Ah, Bahkan untuk sekadar melucu pakai lelucon orang lain saja bisa berpotensi dicicuk polisi. Tampaknya benar apa kata Warkop: Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.

gus dur

Terakhir diperbarui pada 18 Juni 2020 oleh

Tags: Gus DurkapolriPolisi
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO
Tajuk

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
rkuhap, kuhap, polisi.Mojok.co
Fragmen

Catatan Kritis KUHAP (Baru) yang Melahirkan Polisi Tanpa Rem Hukum, Mengapa Berbahaya bagi Sipil?

19 November 2025
Ortu kuras tabungan buat anak jadi polisi malah kena tipu. Sempat bikin stres tapi kini bersyukur tak jadi sasaran amuk tetangga MOJOK.CO
Ragam

Ortu Kuras Tabungan buat Anak Jadi Polisi malah Kena Tipu “Intel”, Awalnya Stres tapi Kini Bersyukur

6 September 2025
Polisi gelontorkan uang banyak untuk gas air mata yang digunakan dalam demo. MOJOK.CO
Kabar

Saat Duit Rakyat Hanya Dipakai buat Membeli Gas Air Mata Kadaluwarsa oleh Polisi

31 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.