Journaling adalah kegiatan mencatat pikiran, perasaan, emosi, dan pengalaman sehari-hari ke dalam bentuk tulisan, baik di buku fisik maupun digital.
***
Bayangkan, ketika segelas air terlalu penuh, ia akan tumpah. Akan tetapi sebelum itu, ia bisa dituang untuk menguranginya. Namun, bagaimana jika perasaan dan pikiran yang mengalami hal serupa?
Salah satu jawabannya adalah journaling. Kegiatan menuangkan seluruh isi hati dan kepala ke dalam satu halaman kertas atau digital ini dapat mengurangi setidaknya sedikit beban yang dibawa selama ini. Dengan begitu, pikiran dan perasaan dapat terasa lebih ringan.
Itulah yang mendorong Sinta (29) untuk menerjang cuaca ekstrem pada Sabtu (11/4/2026) sore. Tak peduli hujan yang teramat deras, ia memilih untuk melajukan kendaraan menuju Pakuwon Mal Jogja demi mengikuti journaling bersama.
Berawal dari keinginan menyimpan kenangan sampai menyalurkan perasaan
Perempuan asal Jogja itu bercerita, ia telah mengenal journaling sedari kecil. Dahulu, kegiatan itu lebih dikenalnya sebagai menulis diary pada halaman kertas yang didekorasi agar terlihat menarik.
Kebiasaan lama itu ditekuninya kembali sedari dua tahun lalu. Keinginan mengabadikan memori yang sering terlewat begitu saja, membuat perempuan ini berusaha memotret ingatannya melalui journaling, sehingga sesekali dapat dikunjungi kembali.
“Awalnya tuh karena pengin ini aja menyimpan kenangan. Hari ini aku bisa ngapain gitu, tapi ternyata along the way ketika sudah berlalu dan dibaca lagi, ternyata aku ada di fase ini ya,” kata dia kepada Mojok dalam Workshop Suka-suka Mojok berkolaborasi dengan Deluluu Studio yang didukung oleh Redmi, Sabtu (11/4/2026).
Menurut dia, journaling membantunya merasionalisasikan perasaan yang sering dianggap berlebihan.
Pengalaman resign dari pekerjaan baru-baru ini juga membuat Sinta merasa lebih emosional. Sebagaimana pekerja yang harus mengakhiri masa kerjanya, perasaan sedih seringkali mendominasi sampai terasa berlebihan.
Dalam hal ini, journaling menenangkan dirinya dalam memahami bahwa perasaan saat itu adalah valid dan wajar. Journaling mengajarinya, bahwa semua itu juga akan berlalu.
“Ternyata aku pernah happy karena ini atau pernah sedih karena ini. Jadi, dibaca-baca lagi tuh lucu gitu,” kata dia.

Lebih berani dengan journaling digital
Untuk bisa menyalurkan pikiran dan perasaan tersebut, Sinta mengatakan mencoba berbagai medium journaling. Tidak hanya manual melalui kertas, dia juga mencoba menulis journal melalui digital.
Di sinilah pengalaman pertamanya dimulai. Berbekal ponsel Redmi Note 15, salah satu produk terbaru Redmi, dia mencoba journaling digital yang terasa lebih mudah, tanpa mengurangi esensi journaling.
“Jadi tadi pas coba hp-nya digerakkin, dan juga pas aku ngefoto itu juga jelas banget sih. Terus buat log in atau cari aplikasinya itu juga gampang banget, dan pastinya layarnya jernih,” kata dia.
Testimoni Sinta selaras dengan keunggulan ponsel keluaran terbaru ini. Redmi Note 15 memiliki bodi tipis dan ringan, dengan bagian depan dan belakang yang dibuat melengkung untuk genggaman yang lebih nyaman.
Ponsel ini juga hadir dengan layar AMOLED 120Hz yang memberikan kesan jernih pada tampilan layar, serta memungkinkan perpindahan dari satu aplikasi ke lainnya terasa lebih “sat set”. Selain itu, Redmi Note 15 juga dilengkapi dengan kamera 108MP yang memberikan hasil foto yang tajam.

Melalui journaling digital ini, Sinta menceritakan pengalamannya dalam mengikuti sesi bersama para peserta yang belum dikenalnya. Menurut dia, kesempatan melakukan journaling bersama orang-orang asing atau strangers justru bisa mengeluarkan perasaan atau pikiran dengan cara berbeda—yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Maka dari itu, melalui hasil journaling, Sinta menceritakan mengenai dorongan untuk lebih berani.
“Jadi tuh tadi ada stiker yang sebagian besar temanya kayak encourage untuk jadi lebih berani. Aku jadi kepikiran buat, kan orang bilang aku berani mati nih demi kamu. Padahal sebenarnya, berapa banyak dari kita yang berani hidup?” kata dia.
“Buat menikmati hidup ini tuh lebih indah,” tambah dia.

Esensi journaling untuk kehidupan, menyembuhkan diri melalui tulisan
Mengutip dari laman Universitas Gadjah Mada, journaling memiliki manfaat untuk menjaga ketenangan diri, yang selanjutnya berkaitan dengan menjaga kesehatan mental. Data Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 28 juta orang di Indonesia mengalami masalah mental.
Oleh karena itu, journaling dapat menjadi medium untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Riset menunjukkan, cara ini dapat membantu meningkatkan kesehatan emosional dan fisik seseorang menjadi lebih baik. Mereka dapat memperjelas pikiran dan perasaan sehingga dapat lebih memahami diri, mengidentifikasi masalah yang dihadapi, serta menemukan alternatif solusi.
Journaling juga dapat memberikan waktu jeda yang membuat pelakunya lebih rileks. Bahkan, dari hal-hal kecil yang tidak ditetapkan harus seperti apa.
Rizmadini, pemilik wadah kreatif yang juga memfasilitasi seni jurnal asal Jogja, mengatakan esensi journaling adalah untuk membebaskan diri sepenuhnya. Ia bilang, seseorang yang melakukan journaling tidak harus terpaku dengan apa pun. Mereka dapat berekspresi sebebas mungkin untuk melepaskan beban pikiran dan perasaan.
“Sebenarnya mengeluarkan pikiran aja,” kata Rizmadini kepada Mojok.
Sebab itu, tidak ada pakem tertentu dalam journaling. Rizmadini menjelaskan, aktivitas ini dapat dilakukan melalui kertas secara manual atau digital. Metodenya juga bisa dikreasikan sesuka hati, mulai dari hanya menulis selayaknya penulisan diary tempo dulu sampai dengan mengawetkan barang-barang dalam buku jurnal.
Sebagai contoh, Rizmadini memperkenalkan creative journaling yang dapat menggabungkan berbagai elemen dalam satu karya. “Hari ini creative journaling karena dia mix pakai art, ada yang stiker, ada yang kertas, ada di majalah, sama kalau misalnya yang pakai sampah itu juga bisa kreatif,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: “Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa










