Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Grand Inna Malioboro: Hotel Elit Tertua di Jogja, Tempat Persinggahan Charlie Chaplin

Iradat Ungkai oleh Iradat Ungkai
26 September 2023
A A
Melacak Sejarah Grand Inna Malioboro, Hotel Termewah di Jogja Era Kolonial MOJOK.CO

Hotel Grand Inna Malioboro tempo dulu (wikipedia.org)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Grand Inna Malioboro merupakan salah satu hotel tertua di Jogja yang masih gagah dan aktif berdiri. Charlie Chaplin dan sejumlah tokoh besar dunia pernah singgah di sini.

Hotel yang terletak di Jalan Malioboro 60 ini menjadi bangunan pertama akan pengendara lihat di sebelah selatan saat melewati jalan tersohor di Jogja tersebut. Lokasinya persis berada depan Kompleks Parkir Abu Bakar Ali.

Hotel Grand Inna Malioboro berdiri pertama kali pada 1908 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Majalah De Indische Mercuur tertanggal 17 Oktober 1911 menyebut hotel ini dengan nama Grand Hotel de Djokja. Berita tersebut sekaligus menandai selesainya pembangunan hotel ini.

Hotel termewah dan termegah pada masanya. Cuma kaum elit yang bisa menginap di sini

Pada zaman itu, hotel ini termasuk yang terbesar dan termewah. Surat kabar De Express bahkan sampai menerbitkan liputan khusus pada 18 September 1912 terkait pembukaan hotel ini beserta fasilitas yang tersedia.

Sebuah makan malam yang istimewa selama dua hari menjadi penanda pembukaan hotel ini. Kaum elit menjadi tamu undangan di hari pertama. Di malam selanjutnya, giliran masyarakat umum yang mendapat kesempatan untuk menikmati sajian makam malam dengan harga terjangkau.

Melansir laman Kebudayaan Kemendikbud, Bangunan Grand Hotel de Djokja merupakan hasil rancangan dua artitek bernama Harmsen dan Pagge. Gaya bangunannya terinspirasi dari bangunan kolonial tipe masa peralihan. Tipe ini nampak pada bentuk atap, bentuk gevel yang mencolok, kolom pada dinding, serta tower di bagian depan bangunan.

Pada bangunan samping atau sayap hotel ini, terdapat lima paviliun yang masing-masing terlengkapi dengan beranda depan, kamar duduk, dan kamar tidur. Seluruh bangunan sudah terlengkapi dengan lampu listrik dan instalasi bel. Kala itu, listrik dan bel terbilang fasilitas yang sangat mewah.

Hotel ini juga memiliki garasi berukuran besar untuk pengunjung yang punya mobil. Yang menginap di hotel ini kaum-kaum elit, mulai dari tamu Gubernur Belanda hingga dari kalangan militer.

Rujukan utama tempat menginap bagi wisatawan dunia. Salah satunya Charlie Chaplin

Pamor Grand Hotel de Djokja kian menanjak seiring berjalannya waktu. Wisatawan mulai menjadikannya rujukan utama tempat singgah. Pada 1925, hotel ini menjadi lokasi membentukan ABHINI (Algemeene Bond Hotelhuders in Nederlandsch-Indie). Sebuah perhimpunan para pemilik, pengelola, pengurus dan restoran, serta para direktur atau komisaris perusahaan hotel.

Meningkatnya jumlah pengunjung membuat pengelola hotel merasa perlu melakukan renovasi, terutama terkait daya tampung. Menurut surat kabar Algemeen Handelsblad voor Ned-Indie 10 April 1929, untuk menjalankan misi tersebut terjadi perombakan besar. Bangunan pavilion berubah menjadi bangunan bertingkat.

Renovasi kembali terjadi setahun berikutnya. Pembaruan demi pembaruan turut mengubah karakteristik bangunan dari bergaya kolonial masa peralihan menjadi kolonial modern.

Nama Grand Hotel de Djokja kemudian masuk ke dalam daftar hotel yang direkomendasikan buku Van Stockum’s traveller handbook for Dutch East Indies (1930). Sejumlah tokoh besar dunia tercatat pernah menginap di hotel ini. Yang terpopuler ialah Charlie Chaplin. Tepatnya pada April 1932.

Aktor Inggris mahsyur tersebut mengunjungi Jogja bersama saudaranya Sydney Chaplin. Selain bertemu dengan Gubernur Jogja, mereka juga menyambangi ke Borobudur.

Kerap berganti kepemilikan dan nama, sebelum akhirnya kukuh dengan Grand Inna Malioboro

Laman Kebudayaan Kemendikbud mengatakan pada masa pendudukan Jepang hotel ini menjadi bangunan sitaan tentara Jepang. Pengelola hotel, Nyonya Trutenau diusir paksa. Nama hotel ini pun berubah menjadi Hotel Asahi.

Iklan

Pascakemerdekaan, hotel ini menjadi sengketa sejumlah orang/perusahaan yang mengaku memiliki hak atas bangunan ini. Pada 1975, terbit Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1975 yang memberikan perintah kepada PT Natour (Persero) untuk mengelola Hotel Garuda. Namanya pun berubah menjadi Natour Garuda dan kelas hotel masih bintang dua

Pada tahun 1982, hotel ini direnovasi dengan biaya sekitar sembilan miliar rupiah dan rampung pada akhir 1984. Bangunan sayap utara dan selatan tetap dipertahankan demi menjaga nilai historis hotel. Sementara bangunan pusat berubah menjadi tujuh lantai di belakangnya.

Hotel yang berstatus BUMN ini sempat mengalami perubahan nama kembali menjadi Inna Garuda. Namun pada 15 Maret 2017, diputuskan bahwa hotel ini bernama Grand Inna Malioboro. Hingga kini, hotel ini masih menjadi salah satu rujukan wisatawan elit kala berkunjung ke Jogja.

Penulis: Iradat Ungkai
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Hotel Tugu, Bekas Hotel Tertua di Jogja yang Diterlantarkan Keluarga Soeharto
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2023 oleh

Tags: Charlie Chaplingrand inna malioborohotel grand inna malioborohotel tertuaJogja
Iradat Ungkai

Iradat Ungkai

Kadang penulis, kadang sutradara, kadang aktor.

Artikel Terkait

Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Gagal seleksi CPNS (PNS ASN) pilih nikmati hidup dengan mancing MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang

9 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.