Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Simphony Dieng Culture Festival 2025: Ribuan Lampion Terangi Dinginnya Langit Dieng

Redaksi oleh Redaksi
24 Agustus 2025
A A
Simphony Dieng Culture Festival 2025: Ribuan Lampion Terangi Dinginnya Langit Dieng MOJOK.CO

Masyarakat menerbangkan lampion di puncak Dieng Culture Festival, Sabtu (23/8/2025). (Dok. Humas Jateng)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dataran tinggi Dieng, Sabtu malam (23/8/2025), diselimuti hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun, rasa dingin itu seakan sirna ketika ribuan lampion perlahan terbang dan menghiasi langit di malam puncak Dieng Culture Festival (DCF) 2025.

Festival budaya yang telah belasan tahun digelar ini kembali menjadi magnet bagi wisatawan. Sejak sore hari, ribuan orang berbondong-bondong menuju kawasan Candi Dieng, Banjarnegara, untuk menyaksikan berbagai rangkaian acara. Tahun ini, panitia mengangkat tema “Back to The Culture”, sebuah ajakan untuk kembali menghayati nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi napas utama DCF.

Dieng Culture Festival simbol pertemuan tradisi dan modernitas

Pembukaan DCF 2025 berlangsung meriah di Lapangan Gatotkaca. Pengunjung memenuhi area sejak siang, membawa jaket tebal, syal, hingga selimut kecil untuk mengantisipasi dingin khas Dieng yang bisa menembus satu digit derajat. Aroma jagung bakar dan wedang jahe yang dijajakan pedagang kaki lima menambah suasana hangat di tengah kerumunan.

Selepas pembukaan, lautan manusia bergerak menuju Lapangan Pandawa di kompleks Candi Arjuna. Di sinilah panggung utama Simphony Dieng berdiri megah, dengan latar pemandangan candi-candi kuno yang diterangi sorotan lampu. Panggung tak hanya menampilkan musik, tetapi juga simbol pertemuan antara tradisi dan modernitas.

Simphony Dieng di Lapangan Pandawa Kawasan Candi Dieng, yang disaksikan puluhan ribu masyarakat jadi puncak penyelenggaraan Dieng Culture Festival 2025 MOJOK.Co
Simphony Dieng di Lapangan Pandawa Kawasan Candi Dieng, yang disaksikan puluhan ribu masyarakat jadi puncak penyelenggaraan Dieng Culture Festival 2025. (Dok Humas Jateng)

Malam itu, sejumlah musisi papan atas tampil silih berganti. Nugie, dengan gaya khasnya, mengajak penonton bernyanyi bersama. Tiara Andini muncul sebagai kejutan yang paling ditunggu, disusul Monita Tahalea yang menebar kehangatan dengan suara merdunya. Sebagai penutup, Prawiratama Orchestra menyajikan harmoni orkestra yang memukau, membuat ribuan penonton bertahan meski udara semakin dingin menjelang tengah malam.

Magnet budaya dan wisata

Bagi banyak pengunjung, DCF bukan sekadar festival musik. Penerbangan lampion massal selalu menjadi momen paling ditunggu. Ribuan masyarkat terlibat menerbangkan lampion. Tampak tangan mengangkat lampion, meniup api kecil di dalamnya, lalu melepaskannya ke langit. Dalam hitungan menit, langit Dieng yang gelap dan dingin berubah penuh cahaya.

“Ini pengalaman pertama saya, rasanya campur aduk. Antara senang, terharu, dan kagum,” ujar Yuni, pengunjung asal Tangerang. Ia mengaku sudah menanti sejak 2017 untuk datang langsung ke DCF. “Apalagi bisa menerbangkan lampion bersama-sama, rasanya luar biasa.”

Pengunjung lain, Nur Kholifa dari Banjarnegara, menyebut kejutan artis menjadi daya tarik tersendiri. “Aku nggak nyangka yang tampil Tiara Andini. Soalnya dari awal panitia nggak kasih bocoran. Jadi nambah penasaran,” katanya sambil tertawa.

Selain konser dan lampion, DCF juga dikenal dengan ragam tradisi, mulai dari ritual cukur rambut gimbal hingga pagelaran kesenian rakyat. Semua itu dikemas sebagai atraksi wisata budaya yang mampu menarik perhatian nasional bahkan internasional.

Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono didampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi hadir di Dieng Culture Festival (DCF) MOJOK.CO
Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono didampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi hadir di Dieng Culture Festival (DCF). (Dok. Humas Jateng)

Dieng Culture Festival bukti masyarakat bisa kelola potensinya

Gelaran DCF 2025 tak hanya dihadiri wisatawan, tetapi juga pejabat penting. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), serta Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesa terlihat hadir dan menyatu dengan kerumunan.

Menurut Gubernur Ahmad Luthfi, DCF adalah bukti nyata bagaimana masyarakat bisa mengelola potensi budaya menjadi festival berkelas dunia. 

“Ini dikelola oleh Bumdes, oleh para pemuda kita dan dibina oleh Bupati. Provinsi hanya asistensi karena sudah terbiasa. Ini adalah potensi masyarakat yang datangnya dari bawah,” katanya usai menyaksikan Simphony Dieng.

Ia menambahkan, DCF bukan sekadar pesta hiburan, melainkan wadah melestarikan tradisi. “Ada potong rambut gimbal yang jadi ikon, ada kesenian lokal yang terus dipertahankan. Semua ini bagian dari identitas Jawa Tengah, bahkan Indonesia,” lanjutnya. (Adv)

BACA JUGA: Omzet Pameran UMKM Hari Jadi ke-80 Jateng Lampaui Target, Tembus Rp1,4 Miliar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Iklan

 

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2025 oleh

Tags: dcfdiengdieng culture festivalgubernur jawa tengahjawa tengah
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Tangis haru Valentina di hadapan Gubernur Ahmad Luthfi karena bisa sekolah gratis lewat program Sekolah Kemitraan Pemprov Jawa Tengah MOJOK.CO
Kilas

Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi

8 Mei 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO
Urban

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Deni mahasiswa berprestasi dari UGM berkat puisi. MOJOK.CO

Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

14 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Dapur Bersama Memang Membantu Anak Kos, Tapi Sering Menimbulkan Konflik kalau Ada Penghuni Jorok dan Suka Nyolong

12 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.