Kalau dihitung-hitung, saya ini berjilbab sudah puluhan tahun. Lha gimana, sejak saya rajin berangkat ke TPA usia tiga tahun, saya sudah pakai jilbab. Plis, nggak perlu bilang Subhanallah, biasa aja.

TPA saya itu juga biasa kok, ya langgar mushala biasa itu lho—bukan sekolah Islam zaman sekarang yang guru-gurunya Masya Allah saleh-saleha, tapi bayarnya mahal naudzubillah. Guru ngaji saya itu dulu kalau di desa ya koloran, wong pekerjaannya cuma tani dan nyambi tukang becak.

Tidak butuh waktu lama, saya pun sudah jago baca Quran lengkap dengan tajwidnya dan sudah bisa menghafal surat-surat pendek. Tapi ketika kemudian datang musim penghujan, saya tidak ragu untuk main hujan-hujanan di perempatan jalan hanya dengan sempak dan kaos dalam. Saya berjoget massal sambil melarung kapal kertas di parit hingga bermuara ke kali.

Jadi, kalau dipikir-pikir, masa kecil saya itu ya syar’i sekaligus porno. Ternyata sejak kecil saya sudah memupuk dosa pornoaksi, tidak seperti anaknya Ustadzah Oki Setiana Dewi junjungan para ukhti yang baru lahir sudah dijilbabi.

Saya sekolah di SMP dan SMA negeri. Walau tak wajib berjilbab, saya berjilbab lho. Alasannya, disuruh Bapak sih. Ya nurut aja. Toh walaupun berjilbab, saya tetep terpilih jadi Ketua OSIS sampai Ketua Pramuka. Saya juga juara pidato, MTQ, dan lomba yang berbau kearifan lokal: Mendongeng bahasa Jawa.

Saya yakin, anaknya Al-Mukarrom Ustadz Felix Siauw nggak akan boleh ikut-ikutan kegiatan yang begitu itu, karena bakal rawan bercampur dengan lawan jenis. Dan, perempuan kok ndongeng dan nembang basa Jawa di atas panggung? Masya Allah, haram! Menyeramkan! Laki-laki mana yang mau menikahi perempuan yang suka ikhtilat begitu?

Dan pas SMP-SMA dulu, temen cowok saya ganteng-ganteng. Sayang ah kalau nggak dilirik dikit-dikit. Ngelirik thok masa nggak boleh? Lagian, ngelirik lawan jenis itu kan sunnatullah. Siswa-siswa Ma’arif, yang kelas laki-laki dan perempuannya dipisah itu, kalau ketemu sepekan sekali di lapangan upacara juga boleh deg-degan dan lirik-lirikan kok.

Setelah bacaan Quran saya tuntas hingga usia remaja, setiap hari saya nyantri kalong di Pondok Pesantren yang sanad kiainya merupakan santri langsung dari Mbah Asnawi Kudus dan Mbah Maimoen Rembang. Setiap malam pulang mengaji, ketika melewati rumah salah seorang beretnis Tionghoa, saya diteriaki, “Pocong lewat! Pocong lewat!” Kadang-kadang, anjing peliharaannya sengaja dilepas agar mengejar saya yang saat itu naik sepeda. Perasaan saya gimana saat itu? Ya, biasa saja. Wong ndak mudheng.

BACA JUGA:  Nezar Patria, Teman Saya yang Asu

Baru setelah gede dan ngefans Zen Rs, saya jadi paham bahwa jilbab, selembar kain ringan yang ada di kepala saya ini, bisa bermakna banyak hal. Saya dikejar-kejar anjing itu selepas trauma orde reformasi, setelah rumah para etnis Tionghoa dijarah dan dibakari—padahal tidak semua dari mereka paham apa yang terjadi. Semua orang Tionghoa harus ikut menanggung dosa Republik yang hingga hari ini masih belajar berdemokrasi.

Setelah tahu alasannya begitu, perasaan saya gimana? Ya, tetep biasa aja. Kenyataannya memang begitu, simbol memang dipersepsikan mewakili sesuatu, jilbab dianggap mewakili muslimah, seperti all cops dianggap selamanya bastards sebab dipersenjatai negara, seperti sekumpulan redaktur Mojok dianggap sentimental karena memproduksi air mata.

Ketika kuliah di kampus negeri mentereng di Kota Surakarta, pengalaman saya dengan jilbab makin menarik. Di kampus ini, berisik sekali “jilbab syar’i” didengung-dengungkan. Heran saya. Dan pada akhirnya, ya terpaksalah saya terseret pusaran arus dikotomi: yang syar’i dan yang tidak syar’i.

Dalam periode empat belas semester tapi masih berharap bisa sarjana ini, jilbab saya pernah hampir menyentuh mata kaki, kemudian susut ke bokong, kemudian susut lagi sampai sepunggung, kalau sekarang ya suka-suka saya aja. Tergantung model dan bahan jilbabnya (You guys nggak tahu susahnya jadi perempuan di era hijab fashionistas. Rasanya pengen dicobain semuaaa bahan dan model jilbabnya. No need to protest, saya cuma cewek biasa yang peka sama mode dan estetika—yah, menyesuaikan isi dompet dan waktunya mepet nggak sebelum ke acara, fleksibel ajalah!

Nah, jilbab saya yang muler-mungkret itu, sejarahnya tergantung saya lagi pengen belajar mengaji sama siapa. Nggak tahu kenapa, pas kuliah ini saya justru lupa ajaran kitab yang pernah saya kaji di masa kecil: Ta’limul Muta’alim yang mengajarkan untuk berhati-hati dalam memilih guru, termasuk yang harus jelas sanad keilmuannya hingga ke Rasulullah SAW. Saya malah sering ngaji di emperan-emperan masjid kampus, sambil menyesuaikan panjang jilbab dengan mbak-mbak akhwat. Lha kalau mereka brukutan sebadan gitu, masa saya berjilboobs? Lak saru tho!

Ujungnya, ya tetep aja saya bingung. Saya yang udah syar’i dari kecil merasa tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Pake jilbab ya pakai jilbab aja. Nggak perlu tiap hari kampanye di semua akun media sosial. Saya bahkan pernah sangat sedih ketika mendapati meme yang tulisannya begini:

“Jilbab kami syar’i dibilang Islam garis keras. Lha situ ndak berjilbab, Islam bukan?”

Yaa Rabb… Segitunya lho! 2015, ketika bahkan pohon belimbing depan rumah bisa terdeteksi dengan jelas lewat Google Maps cuma dengan satu klik—yang artinya kapanpun Amerika mau, kita bisa aja dimusnahkan sekarang juga. Lha ini generasi-generasi tanggung malah tiap hari sibuk mengecilkan hati sesama saudaranya. Lha wong simbah sama ibu saya juga ndak berjilbab, wah, mereka Islam atau bukan? Sedih saya. Sesedih ketika di Universitas Indonesia ada Kuliah Umum Om Benedict Anderson (Radhiyallahu Anhu), dan di kampus saya seminarnya “Menjadi Perempuan Kembang Surga”. Kembang Surga yang dimaksud itu ya yang begitu tuh, yang nggak perlu baca buku, sebab kalau baca buku nanti jadi terbuka pikirannya dan nanti jadi kurang waktu untuk bersolek di rumah. Heran saya, sebenernya kampus saya ini mau mencetak para pemikir atau versi lain dari aplikasi Tinder Syariah?

BACA JUGA:  Tentang Kuntilanak dan Nenek Tua yang Selalu Muncul Setiap Saya Bertemu Puthut EA

Ada lagi sebuah cerita, tentang seorang teman memutuskan untuk melepas jilbabnya. Baru lepas jilbab lho ini, nggak murtad. Dia bilang kalau ingin belajar mengenal dirinya dari awal. Katanya kan, barangsiapa mengenal dirinya, maka Ia mengenal Tuhannya. EEEEH! Dicaci-maki teman saya itu oleh para aktivis jilbab syar’i. Teman saya yang ingin menata ulang diri malah terpikir untuk bunuh diri.

Usut punya usut, setelah saya selidiki, semua keradikalan para girlband hijab syar’i itu pangkalnya adalah Laudya Chintya Bella dan iklan Wardah yang dibintangi oleh Dewi Sandra. Lha kok?

Islamisasi iklan perabot perempuan inilah yang membuat peyorasi kata “hijrah”. Bella berhijab dibilang hijrah. Dewi Sandra berhijab dibilang hijrah. Bahkan di Twitter, Peggy Melati Sukma resmi membranding dirinya jadi Motivator Hijrah. Kata hijrah difestivalisasi melalui talkshow atau siaran infotainmen yang memuat wajah mereka, hingga terkesan bahwa jilbab adalah satu-satunya simbol hijrah. Eh, tunggu, muslimah kaffah tidak cukup hanya berjilbab, tapi juga harus pakai bedak, sampo, dan entah apa lagi itu yang iklannya artifisial itu. Semi tragis betul.

Pada tataran ini, akal sehat dan qalb (hati nurani) yang benar-benar berserah menjadi tak penting lagi.

Nah, kalau sudah lengkap pakai sabun dan sampo syariah itu, bikinlah Moslem Clothing Line, dan peradaban dunia akan jaya tanpa perlu penerus-penerus pemikir Islam seperti Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina—eh,  lupa saya, bliyo berdua itu kan sudah dikafirkan sodara saya yang salafi karena mereka belajar filsafat.

Modyar.

Susahnya jadi perawan.

  • Arif Kurnia Raharja

    Semoga cepet lulus ya mbak

  • Imam Chartego

    Hidup perawan…!!! *eh

  • Sofyan Abdullah

    Brace yourself takfiri is coming

  • Indri Tedja Tyasning

    “Baru lepas jilbab lho ini, nggak murtad. Dia bilang kalau ingin belajar mengenal dirinya dari awal. Katanya kan, barangsiapa mengenal dirinya, maka Ia mengenal Tuhannya. EEEEH! Dicaci-maki teman saya itu oleh para aktivis jilbab syar’i. Teman saya yang ingin menata ulang diri malah terpikir untuk bunuh diri.”

    ini menyuarakan saya mbak. yang jilbabnya masih ala lego, bongkar pasang, lepas pakai. terimakasih :)))

  • Muhammad Azamuddin Tiffany

    hahahahaha, semoga cepet lulus. Dan semoga saya tidak terbersit niatan untuk segera berhijab. eh!

  • MrDabboe

    Penantang Ibnu Sina, Imam al Ghazali, juga gak dianggap salafusshalih sama orang salafi. Tapi buku Ibnu Rusyd “al Bidayatul Mujtahid wan Nihayatul Muqtashid” mulai dipake pula sama salafi. koq ada ya orang takut jadi pintar dan terbuka pikirannya. gak boleh baca buku tanpa talaqqi dengan guru. jangankan ngajak diskusi guru, baru bertanya aja udah dibilang sesat antum. dan doktrin ini bisa masuk juga ke kalangan mahasiswa dan akademisi, fakultas kedokteran dan teknik pula. ini yang buat ane kadang-kadang kiding-kiding 😀

  • Gek lulusa sik Lis, ben kowe tambah ayu, tulisane tambah ngeriiiihhhhh

  • cak tar roti tawar

    kagem ‘PERAWAN’ Allahumma Ma’al Qur an,,,,,,amin

  • cepie krisbuana

    Ndang Lulus aamiin…men tulisane soyo akeh soyo joss

  • Aldila Himawan

    siap-siap menghadapi komentar pengikut nabi jonru dan felix siaw 😀

    yang penting cepet lulus mbak. heuheu

  • Ardi

    Suka sama tulisannya… teruskan mbak…

  • mosleim

    mungkin begini. mereka berdakwah. dan jika sudah berhijab. next step. tak mesti heboh juga. toh itu adalah kewajiban personal dari seorang muslim. baik laki maupun perempuan.

    oia, sabun yang syar’i itu loh, yang gak mudeng saya. padahal kan cuman suci saja boleh digunakan. apakah yang gak syar’i masuk kategori najis? ah, biarlah, mungkin itu jalan dakwah mereka. doain semoga mereka sukses dengan jalan dakwahnya.

    buat embaknya, semoga cepet lulus yaaa…. 🙂

  • febian arief

    Kalimat terakhir kui semacam kode nggo jomblo… Sak Kabupaten mojok

  • dobelden

    pantes artikel iki direkomendasi agus mulyadi, jebul mergo perawan #lho #eh #gagalfokus

  • BRAVO mbaknya!!

  • sulthony munfaid

    ndak susah ko jadi perawan… tinggal jalani saja tho…. law gk kuat lambaikan tangan… ^_^

  • welgeduwel

    kos nya dimana mbak, kali aja bisa mampir sambil kubawain pisanggoreng
    semoga cepet lulus, kalo mau hujan-hujan udo lagi, kabarin ya

    • Teguh

      Wkwkwkwk, asu

    • Dodit Sulistyo

      Meluuu.. Ga mesti hujan, hujan grujukan ng jeding ae. Mgko tak gondeli, mbak

  • Purwanto Yudakala Kresna

    Seng terakhir kok rodo piye ngono,”susahnya jadi perawan” luweh susah meneh golek perawan.

  • muhamad mukhibin

    semester 14 yang masih berharap untuk lulus,, jand podo ro aq

  • Anna Okviana

    Tulisanmu apik mbak,

  • smurfin

    mbaknya keren….

  • Hamid Rosyidi

    Mantabs mbakyou. Wkwkwk.

  • Dani Edin

    mantap ini tulisan.. kado ulang tahun untuk mereka yang sok islam

  • nasruddin

    sedih juga dengan meme diatas.. saya juga gak berjilbab, tapi Islam kok. klo berjilbab ntar malah dibilang kafir….. segitu nya kah… kok amat banget…

  • “saya tidak ragu untuk main hujan-hujanan di perempatan jalan hanya
    dengan sempak dan kaos dalam. Saya berjoget massal sambil melarung kapal
    kertas di parit hingga bermuara ke kali.” —->>>> Tetiba langsung berimajinasi :v

  • Ika Wijayantie

    mbaaaaaakk, njenengan keren banget, sumpah! terimakasih yaa buat tulisan yg sangat menarik 🙂

  • etika bahkan pohon belimbing depan rumah bisa terdeteksi dengan jelas lewat Google Maps cuma dengan satu klik—yang artinya kapanpun Amerika mau, kita bisa aja dimusnahkan sekarang juga… jaman sekarang Amerika hebat banget yak…. 🙂

    • qzoners

      hehehe… musnahin Iraq secuil aja gagal, apalagi Indonesia. Nyasar di hutan kalimantan atau Irian udah nangis-nangis tuh tentara wkwkwk

  • rozan

    Semoga cepat lulus. Mbak!
    Saya gak berjilbab, tapi saya Islam.
    Soalnya saya berkumis.
    Kalo berkumis tak mungkin lah berjilbab.

    • Agoes 510

      lah kok mase ki menafikan jilbabers berkumis tipis to…. hehhehe

      • rozan

        Kucing juga berkumis tipis, gak mungkin kan ikut girlband hijab syar’i.

  • Naufal Zulfahmi

    Haha..menarik artikelnya.

    Btw banyak yg perlu dikritisi, but anw, sebenarnya tujuan mereka (semua kisah dan tragedi yg dialami mbak atau temen mbak) baik, ingin mengingatkan saudaranya, tp cara beberapa dr mereka itu yg salah. Dan sekali lagi, itu tidak semuanya, hanya beberapa. Kita perlu terus mensupport saudara kita utk menyampaikan kebaikan dg cara yg tepat. Thats the point 🙂

    Tp boleh lah artikelnya, membuat para pendakwah lebih melek dan peka atas langkah2 mereka atau teman mereka yg salah cara utk introspeksi diri. Thx mbak. 😀

  • Wiwik Set

    Artikel pertama yg keren! Lanjutkan!

  • ai nugroho

    Membaca tulisannya….jd kebayang mba berada di tempat yg dikelilingi akhwat berjilbab besar dilengkapi keangkuhan dan kekasaran. Dr mulai mdh mengkafirkan org, melarang membaca buku sampai mencaci maki…#menyeramkan 🙁
    Beruntunglah aku..ktka berusaha memperbaiki diri, aku dipertemukan dg akhwat berjilbab lebar yg sangat santun, menyampaikan kebenaran dg penuh kasih serta memberi semangat utk menuntut ilmu…bahkan mengajarkan utk bijak menilai dan bersikap terhadap siapapun #alhamdulillaah 🙂
    #moga cpt lulus yaa..dan dipertemukan dg akhwat2 yg punya sikap yg baik dan benar…moga2 dipertemukan jg dg jodoh yg sholeh…baarokallohu fiik..

    • qzoners

      berarti bacanya sambil ngelamun itu wkwkwk… Saya kok malah ngelihatnya mbak ini lagi bosen sama jilbab tapi takut mau lepas jilbab hehehe

  • itox waskitho

    Sante wae mbak. Sak karepmu urip kepiye. Ra lulus y rpp.

  • avivalyla

    “girlband hijab syar’i”

    salah satu tulisan terbaik di mojok. co
    ringan, cerdas, tidak rasis, tapi bener2 ngena.

  • avivalyla

    “girlband hijab syar’i”

    salah satu tulisan terbaik di mojok. co
    ringan, cerdas, tidak rasis, tapi bener2 ngena

  • Galang B

    Menarik untuk dibicarakan…
    Pertama-tama saya bukan penggemar ust felix dkk dan saya adalah penggiat aktivis dakwah kampus… memang saya akui banyak organisasi islam yang berdakwah secara pin point seperti yang disebutkan di atas… yang dengan mudah menjustifikasi seseorang… namun masalah jilbab ini mereka para penggiat aktivis mereka mengajak dengan keras…. namun apakah kalau ada peringatan yang ajakan yang halus maka masyarakat akan berubah? Dalilnya jelas dalam Al-quran perintah menutup aurat segimana-segimananya…. lalu kita yang terustifikasi pun menjustifikasi mereka, menyindir mereka juga… saya berjenggot di bilang goblok sama ketua ormas islam terbesar di indonesia lalu apa respon mbak? Dibilang “kamu jangan ikut anggota teroris di kampus ya” oleh orang tua saya… apa iya? Harusnya dengan peringatan keras mereka kita coba pahami kenapa mereka dengan keras menggaungkan itu? Jangan pahami dari ust mereka… tapi kembali ke role model mereka rasullullah saw dan para sahabat dan sahabiyah… bagaimana ibunda-ibunda kita ummu mukminin ber fashion…

    Wallahualam

  • Ustad Jambul

    Cara bertuturnya mengalir, menggelitik dan menendang..menarik utk dibaca. Soal isi biarkan persepsi yg bekerja, tulisan si Mbak asyik dinikmati tanpa ada niat menghakimi, karena hati urusan Illahi.

  • iqbal ni’em

    harus banyak legowo mbak, jaman sekarang itu sulit cari tempat gondhelan.

  • Rahmat Solihin

    jempolan !!!!!!!!!!!!!!!! 😀

  • Nadheera

    Saya pemakai jilbab lebar sejak tahun 2000. Tapi gak pernah berpikiran kayak mba. Meski banyak orang bilang tulisan mbak bagus, justru saya menilai sisi tak tersirat dari kata-kata anda. Apa saya yang salah memperserpsikan ya? Anda ini seperti ingin mengkritisi Hizbuttahrir dengan kalimat semoga anak ust felix memberontak. Menghina tarbiyah yang ngajinya di emperan masjid, gak kayak sampeyan yg ngajinya maqom tinggi pake kitab kuning taklimul muta’allim, fathul bari, shahihul bukhari. Mengkritik salafi yg “mengkafirkan” ibnu sina. Helloooo mba..Islam itu Rahmatan Lil ‘Aalamiin. Itu aja dulu dipahami mba. Semua manusia kan diperintahkan untuk beribadah, ya aplikasi ibadah kita beragam. Tulisan anda ini gak lebih dari sentimenisasi upaya-upaya beragam ummat Islam untuk hijrah. Ya saya yakin kalo sampeyan gak perlu hijrah mba, wis puluhan tahun pake jilbab. Makin saya bingung apa korelasi tema yang anda angkat di awal dengan Laudya cyntia bella yang beriklan kosmetik? Banyak temen saya di kampus yang pemikirannya mirip anda ini, kebanyakan sih jebolan pesantren. Yo mungkin karena merasa ilmune wis wuakeh. Seketika teringat pribadi Rasulullah SAW yang santun, yang rendah hati namun tegas. Kalo saja anda hidup di masa Rasulullah jangan-jangan anda bakalan bilang, semoga nanti Fathimah jadi pemberontak. Hahaha sak karepmu mbak!

    • Windu Yuga

      Nesu2 Mbayu?

    • Hihi, Mbaknya sepertinya harus lebih banyak membaca beragam genre tulisan, dari satir sampai komedi. :))

    • lhiana

      mbak mbak … eh ukhti ! dolananmu kurang adoh.. rausah nesu2. atimu yo lebarke ojo jilbabe thok

    • Karna Waskita

      yowis. sakkarepe yo sakkarepe. piye sih. btw saya ganteng B-)

  • lucu! :))). Dadi ngefens aku Mbak, tulisane marai ngakak pol.

  • puntodamar

    pakai sempak kok jilbab’an?

    • Baginda

      ga masalah toh jilbab sama sempak makenya di beda tempat. emang kalok make jilbab gaboleh pakek sempak ya? semriwing dong…?

  • Semester 14..?? Itu berarti lingkungan di kampus, mulai dari cleaning service, junior-junior, dosen hingga rektor bahkan pepohonan rindang dan burung-burung sangat mencintai mba. Mereka tak rela cepat-cepat ditinggalin sama mbae.. Harus meminta restu mereka dulu.. 🙂

    Wah.. baru tau untuk menjadi muslim selain syahadat harus berjilbab juga..
    weleh weleh.. Tolong tanyain juga, umat yang lahir sebelum kedatangan Muhammad s.a.w bisa dapat tiket ke surga nda..??

  • Alfian Sy

    Bagusss…. Menarik tulisan Mbak Kalis ini. Tulisan of the year mojok ni

  • ARY

    Mbak, ajaran radikal mana yang bilang foto itu jatuh dari langit? Mbok mencantumkan sumber foto (nama fotografer dan pemegang hak cipta). Tulisan berisi. Fotonya syar’i.

  • Lilik Maschuri

    Melok” ah… 🙂
    Aku kq nembe ngerti enek istilah jilbab syar’i harang ix.
    Nk menurutku to mbakyu,pahami sik opo iku hijab,opo sg perlu sampeyan hijabi.
    Sg plg gampang batas aurotnya cew ki apa aja iku ditutupi.yg namanya ditutupi berarti lak ora ditonjolkan walo terbungkus.kenopo kudu ditutupi,nk plg gampange coba sampeyan tanya cow.semisal cow iku liat susune cew sg terbungkus tp masih menonjol,bokonge cewek sg terbungkus tp masih menonjol,etc,cow iku horny opo ora jal?mesthi jwbn sg jujur horny mbuh pirang %.sebab aku cow,aku ngalami.sampeyan maringi ko ngono mbek bedha jenis sampeyan entuk dosa,sg ndelok yo entuk dosa,sampeyan ora nutup aurot yo dosa.so sampeyan bisa nganalisa dewe opo sg perlu ditutupi.makane Gusti Allah memberi perintah & larangan semua ada khikmahnya.

    • May Hera

      cen cewek ki sumbere doso yo mas yo. cowok ki sumbere pahala. bali ndeso aah..

      • Lilik Maschuri

        plg gampang gawe dosa lan plg gampang golek pahala

    • similikiti

      Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan pada setiap anak cucu Adam bagiannya dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari, maka zinanya mata adalah melihat sedangkan zinanya lisan adalah ucapan, zinanya nafsu keinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah sebagai pembenar semuanya atau tidak.” (HR. Bukhari No. 5774, HR. Muslim No. 4801 dsb) http://hadits.stiba.ac.id/?type=hadits&imam=bukhari&no=5774

  • similikiti

    JILBAB MENURUT BUYA HAMKA (Pendiri/Ketua MUI ke-1, Tokoh Ulama Besar Muhammadiyah), yang ditentukan oleh agama adalah Pakaian yang Sopan dan menghindari ‘Tabarruj’

    berikut adalah kutipan Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA (Tafsir Al-Azhar, Jilid 6, Hal. 295, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015), selengkapnya lebih jelas dan tegas dapat dibaca pada Al-Ahzab: 59 dan An-Nuur: 31

    ‘Nabi kita Muhammad saw. Telah mengatakan kepada Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq demikian,

    “Hai Asma! Sesungguhnya Perempuan kalau sudah sampai masanya berhaidh, tidaklah dipandang dari dirinya kecuali ini. (Lalu beliau isyaratkan mukanya dan kedua telapak tangannya)!”

    Bagaimana yang lain? Tutuplah baik-baik dan hiduplah terhormat.

    Kesopanan Iman

    Sekarang timbullah pertanyaan, Tidakkah Al-Qur’an memberi petunjuk bagaimana hendaknya gunting pakaian?

    Apakah pakaian yang dipakai di waktu sekarang oleh perempuan Mekah itu telah menuruti petunjuk Al-Qur’an, yaitu yang hanya matanya saja kelihatan?

    Al-Qur’an bukan buku mode!

    Islam adalah anutan manusia di Barat dan di Timur. Di Pakistan atau di Skandinavia. Bentuk dan gunting pakaian terserahlah kepada umat manusia menurut ruang dan waktunya.

    Bentuk pakaian sudah termasuk dalam ruang kebudayaan, dan kebudayaan ditentukan oleh ruang dan waktu ditambahi dengan kecerdasan.

    Sehingga kalau misalnya perempuan Indonesia, karena harus gelombang zaman, berangsur atau bercepat menukar kebaya dengan kain batiknya dengan yurk dan gaun secara Barat, sebagaimana yang telah merata sekarang ini, Islam tidaklah hendak mencampurinya.

    Tidaklah seluruh pakaian Barat itu ditolak oleh Islam, dan tidak pula seluruh pakaian negeri kita dapat menerimanya.

    Kebaya model Jawa yang sebagian dadanya terbuka, tidak dilindungi oleh selendang, dalam pandangan Islam adalah termasuk pakaian “You can see” juga. Baju kurung cara-cara Minang yang guntingnya sengaja disempitkan sehingga jelas segala bentuk badan laksana ular melilit, pun ditolak oleh Islam.’

    MENGENAL (KEMBALI) BUYA HAMKA

    Ketua Majelis Ulama Indonesia: Buya HAMKA

    “paling konsisten memperjuangkan Syariat Islam menjadi dasar negara Indonesia. Dalam pidatonya, HAMKA mengusulkan agar dalam Sila Pertama Pancasila dimasukkan kembali kalimat tentang ‘kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya’, sebagaimana yang termaktub dalam Piagam Jakarta.”

    mui.or.id/tentang-mui/ketua-mui/buya-hamka.html

    Mantan Menteri Agama H. A. Mukti Ali mengatakan, “Berdirinya MUI adalah jasa HAMKA terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, lembaga itu tak akan mampu berdiri.”

    kemenag.go.id/file/dokumen/HAMKA.pdf

    “Buya HAMKA adalah tokoh dan sosok yang sangat populer di Malaysia. Buku-buku beliau dicetak ulang di Malaysia. Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA merupakan bacaan wajib.”

    disdik.agamkab.go.id/berita/34-berita/1545-seminar-internasional-prinsip-buya-hamka-cermin-kekayaan-minangkabau

    “HAMKA lebih dikenal di Malaysia, Brunei, Singapura, dan dunia Islam lainnya, dibanding di Indonesia sendiri. Karya-karya beliau masih menjadi rujukan utama hingga saat ini.”

    HAMKA: Hilang Belum Berganti
    hidayatullah.com/artikel/opini/read/2010/01/29/3145/hamka-hilang-belum-berganti.html

    Hujjatul Islam: Buya HAMKA
    republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/12/m2clyh-hujjatul-islam-buya-hamka-ulama-besar-dan-penulis-andal-1

    Biografi Ulama Besar: HAMKA
    muhammadiyah.or.id/id/artikel-biografi-pujangga-ulama-besar-hamka–detail-21.html

    “Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah (Mazhab Hanafi), berpendapat bahwa lengan dan separuh bagian bawah betis perempuan tak menjadi bagian dari aurat yang harus ditutupi.”

    (Islam Nusantara, Hal. 112, Penerbit Mizan, 2015)

    “orang puritan sebagai mayoritas di Muhammadiyah, Jilbab bukan sesuatu yang wajib” KOMPAS, Senin 30 November 2009 Oleh AHMAD NAJIB BURHANI, Peneliti LIPI

    http://www.academia.edu/7216467/100_Tahun_Muhammadiyah

    “Sebab itu, menjadi pilihan pribadi masing-masing Muslimah mengikuti salah satu pendapat jumhur ulama: memakai, atau tidak memakai jilbab.”

    nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,48516-lang,id-c,kolom-t,Polwan+Cantik+dengan+Berjilbab-.phpx

    “Jika mau jujur dan mau membaca, pada zaman Kalifah Umar Bin Khatab seorang budak perempuan kedapatan mengenakan jilbab. ‘Umar pun marah besar dan melarang seluruh budak perempuan untuk memakai Jilbab. Lebih jauh lagi pelarangan Umar itu diungkapkan lebih eksplisit dalam kitab Al-Mughni Ibnu Qudamah.”

    mojok.co/2014/12/jilbab-rini-soemarno-dan-khalifah-umar

    “Kerudung dalam Tradisi Yahudi & Kristen

    tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap “telanjang”. Dr Brayer juga mengatakan bahwa “Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya.”

    mediaumat.com/kristologi/1901-41-kerudung-dalam-tradisi-yahudi-a-kristen.html

    “KH. Agus Salim, dalam Kongres Jong Islamieten Bond (JIB) tahun 1925 di Yogyakarta menyampaikan ceramah berjudul Tentang Pemakaian Kerudung dan Pemisahan Perempuan

    Tindakan itu mereka anggap sebagai ajaran Islam, padahal, menurut Salim, praktek tersebut adalah tradisi Arab dimana praktek yang sama dilakukan oleh Agama Nasrani maupun Yahudi.”

    komnasperempuan.or.id/2010/04/gerakan-perempuan-dalam-pembaruan-pemikiran-islam-di-indonesia

    “Antara Syari’ah dan Fiqh

    (a) menutup aurat itu wajib bagi lelaki dan perempuan (nash qat’i dan ini Syari’ah)
    (b) apa batasan aurat lelaki dan perempuan? (ini fiqh)

    Catatan: apakah jilbab itu wajib atau tidak, adalah pertanyaan yang keliru. Karena yang wajib adalah menutup aurat.

    Nah, masalahnya apakah paha lelaki itu termasuk aurat sehingga wajib ditutup? Apakah rambut wanita itu termasuk aurat sehingga wajib ditutup? Para ulama berbeda dalam menjawabnya.”

    *Nadirsyah Hosen, Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

    luk.staff.ugm.ac.id/kmi/isnet/Nadirsyah/Fiqh.html

    Terdapat tiga MUSIBAH BESAR yang melanda umat islam saat ini:
    1. Menganggap wajib perkara-perkara sunnah.
    2. Menganggap pasti (Qhat’i) perkara-perkara yang masih menjadi perkiraan (Zhann).
    3. Mengklaim konsensus (Ijma) dalam hal yang dipertentangkan (Khilafiyah).

    *Syeikh Amru Wardani. Majlis Kitab al-Asybah wa al-Nadzair. Hari Senin, 16 September 2013

    http://www.suaraalazhar.com/2015/05/tiga-permasalahan-utama-umat-saat-ini.html

    ‘Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an selama hatimu bersepakat, maka apabila berselisih dalam memahaminya, maka bubarlah kamu!” (jangan sampai memperuncing perselisihannya).’ -Imam Bukhari Kitab ke-66 Bab ke-37: Bacalah oleh kalian Al-Qur’an yang dapat menyatukan hati-hati kalian.

    Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat seseorang dari sahabatnya untuk melaksanakan perintahnya, beliau bersabda: “Berilah mereka kabar gembira dan janganlah menakut-nakuti, mudahkan urusan mereka jangan kamu persulit.” (HR. Muslim No. 3262)
    hadits.stiba.ac.id/?type=hadits&imam=muslim&no=3262

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ada tiga hal pada diri seseorang maka ia akan diharamkan masuk neraka, dan neraka haram untuk menyiksanya; iman kepada Allah, cinta kepada Allah, dan lebih suka dimasukkan ke dalam api hingga terbakar daripada kembali kepada kekafiran.” (HR. Ahmad No. 11679)
    hadits.stiba.ac.id/?imam=ahmad&no=11679&type=hadits

    *bila kelak ada yang berkata atau menuduh dan fitnah Buya HAMKA: Sesat dan menyesatkan, Syiah, Liberal, JIL, JIN, SEPILIS atau tuduhan serta fitnah keji lainnya (hanya karena ijtihad Beliau mungkin tidak sesuai dengan trend/tradisi saat ini), maka ketahuilah dan ada baiknya cukupkan wawasan terlebih dahulu, bahwa dulu Beliau sudah pernah dituduh sebagai SALAFI WAHABI (yang notabene identik dengan Arab Saudi). “Teguran Suci & Jujur Terhadap Mufti Johor: Sebuah Polemik Agama” #HAMKA #MenolakLupa

  • muhammad rifa’I

    Kalai susah dadi perawan,ndang kawin mbak 🙂

  • Syarif Hidayat

    Oke mari kita buat Tinder Syariah. Mba siap jadi bintang iklannya kan?

  • Asfiyah Fadillah

    Ihhhhh! Jeung Kalissss! I love your thought, so much! :*

  • bocah manggung

    asyiikkkk…..

  • Saiful Ahmad Efendi

    Seangkatan kita mbak..smt14 tak kunjung lulus

  • dito kurniawan

    Spekta sekali tulisane, mbak

  • Kasjim Kasjim

    saya juga pengen berjilbab, tetapi dilarang orang tua :'(

  • amuba

    mbak Laudya Cynthia Bella dan Dewi Sandra itu memang sudah berhijrah, artinya hijrah mata pencahariannya. 😀
    dilihat dari perjuangan menghadapi masyarakat nih… kalau 20 atau 30 tahun lalu, mulai memakai jilbab itu sesuatu yang beraaat. sekarang, melepas jilbab itu sesuatu yang beraaaaat. mungkin 10 tahun lagi, memakai jilbab yg tidak menutup pundak itu beraaat.
    yang tabah ya, mbak.
    dan salam buat temen mbak yg nyopot jilbab itu. semoga dia tetep kuat dan tabah dalam perjalanannya mencari Tuhan.
    tabik!

  • Arwena Aragorn

    Tulisannya mantap…. Semoga cepet jadi sarjana dek.. Telat setahun dua tahun gpp tapi jangan kelamaan donk… Semangat!!!

  • Mbak aku ngefens banget! Hahaha.. Tulisane apik. POL SUNDUL LANGIT SAP PITU!!

  • RE

    Orang Islam kok tulisannya begini mbak?.
    Jilbab itu bukan fashion, jilbab itu bagian dari syariat lho mbak, bagaimana bisa mbak menyebut mereka yang berusaha menjalankan syari’at dengan benar dengan istilah “girlband” dan istilah-istilah menyudutkkan lain yang sampeyan sebut diatas?
    Hati-hati mbak, jaman sekarang banyak orang yang pinter nulis tapi lupa sama aturan, menulis hanya untuk mengikuti hawa nafsu, bisa-bisa bukan jadi berkah malah tersesat. Na’udzubillah
    Jangan sampai diantara kita menjadi bangga sekali memperolok-olok syariat yang ditetapkan oleh Allahu Ta’ala.
    ===================================================================================
    [At Taubah:64].
    [An Nisa’:140].

    Saya berlepas diri dari tulisan yang mbak tulis diatas, dan disini saya tidak lebih dari sekedar mengingatkan. Saya berhenti berdiam diri karena gak tega syariat Allah seolah direndahkan dengan tulisan seperti ini.
    ==================================================================================

    Pas baca awal”nya, dasarnya udah bagus mbaknya yang katanya udah berjilbab dari kecil, tp sayang mbarang sudah dewasa kok malah membuat tulisan seperti ini.
    Sependek pengetahuan saya yang mungkin tidak banyak lebih tahu dari mbak, cara berfikir sampeyan ini keliru mbak. Semoga segera dapat hidayah.
    Menurut pengamatan saya sepertinya mbaknya ini pernah punya pengalaman dengan beberapa oknum yang menurut mbaknya ini cara menyampaikannya keliru versi mbaknya, mereka yang sampeyan sebut ‘girlband’ punya cara sendiri untuk menyampaikan dakwah tapi gak begini juga mbak cara sampeyan menyampaikan teguran untuk mereka
    Lak menurut saya Ini kok ini sudah kebablasan dan menjurus kepada menyesatkan ya? Condong kepada Liberal
    Pesen saya hati-hati mbak kalau nulis, kalau amerika aja kata mbak bisa ngelacak pohon belimbing depan rumah, apalagi dengan Dzat yang senantiasa mengawasi langkah kita setiap tarikan nafas.
    Yakin, selalu ada balasan untuk setiap amal perbuatan, semoga diantara kita entah mbak atau saya sendiri yang keliru dalam menyampaikan semoga masih diberikan waktu untuk dikembalikan kepada jalan yang lurus. Aamiin.

    Wallahu a’lam bisshawab

    • rozan

      Maksud penulisnya itu, jangan jadikan jilbab sebagai alat untuk membangun konsumerisme.
      Jilbab itu untuk menunjukkan kita sebagai orang yang cerdas. Jangan hanya jadikan jilbab untuk berpenampilan gaya. Tapi jadikan jilbab untuk bertaqwa dengan menjadi cerdas.

    • kirain cuma saya yang akalnya gak nyampek. komentar panjangmu membesarkan hatiku, wahai saudaraku..

  • Nu’man Latif

    Mengalir enak dan.. nyampek. Trimakasih..

  • BabySky1994

    Hello Mbak, saya pake celana gemes, tank top, ndak berjilbab, tapi saya islam dan saya bangga karena saya islam.saya ndak peduli sama mbak-mbak girlband jilbab syar’i mau mengkafirkan saya apa ngga, karena mereka bukan Tuhan dan ngga pernah menjadi Tuhan.

    Pesen buat mbak-mbak dan tante-tante jilbab syar’i yang suka nyinyir:
    Mbak, kalau masih islam cosplay gitu mending lepas jilbabnya. Jilbab itu dimulai dari hati dan pikiran. Jangan karena pake jilbab, pikiran mbak juga ketutup sama jilbabnya. Tku

  • similikiti

    ‘KISAH POLEMIK BUSANA MUSLIMAH’ TEMPO DOELOE 🙂 (dikutip dari buku berjudul “Ayahku” oleh Buya HAMKA, Penerbit PTS Publishing House Malaysia, 2015):

    “Maka sejak pulang pada tahun 1926 sampai tahun 1941, ketika beliau (*Haji Rasul, -pen) dibuang, penuhlah tarikh hidup beliau ‘berisi’ riwayat-riwayat yang gemilang, yang layak dipunyai seorang ulama yang mengikut jalan Salafus Salihin.

    Bersama dengan Syeikh Muhammad Jamil Jambek, beliau menjadi pelindung utama perserikatan itu. Mereka berdua menyatakan diri aktif membantu Muhammadiyah ialah setelah jelas bahawa Muhammadiyah hendak menegakkan fahaman salaf bukan menegakkan taklid. Anak beliau (saya sendiri), menjadi mubaligh Muhammadiyah di Makassar.

    PANDANGAN BELIAU TERHADAP PEREMPUAN

    Itulah sebabnya ketika gerakan Muhammadiyah mendirikan bahagian Aisyiyah, dan melihat kaum ibu telah ikut serta dalam perjumpaan-perjumpaan dan telah pergi ke tempat jauh, misalnya berangkat pergi menghadiri kongres di Yogya, atau pidato perempuan di hadapan lelaki, telah menjadi sebab untuk beliau mengarang buku “Cermin Terus” yang tebalnya lebih daripada 200 halaman.

    Isinya semata-mata menyatakan pendirian beliau terhadap kaum ibu, dengan memakai alasan Al-Quran dan Hadis pula, iaitu menurut pilihan beliau.

    TENTANGAN

    Pada tahun 1928, gerakan kaum ibu sedang bangkit dan baru menjalar ke Minangkabau. Maka tidak hairanlah jika dari pihak kaum ibu timbul tentangan yang keras.

    Yang mula-mula sekali menyanggah karangan itu adalah muridnya Rasuna Said di dalam harian “Mustika Yogya”, yang ketika itu dipimpin oleh Haji A. Salim.

    ‘Di dalam buku itu, beliau telah mengkritik sekeras-kerasnya tentang baju kebaya pendek. Di sini nyata benar bagaimana sempitnya pandangan beliau tentang urusan pakaian. Memang ada juga kebaya pendek itu yang menjolok mata, misalnya potongan yang sengaja menunjukkan pangkal dada, sehingga menyebabkan hati tergiur.’

    PELITA I

    Maka datanglah suatu surat bantahan dari Jakarta, dari Engku Nur Sutan Iskandar. Orang tidak dapat menerima sahaja keputusan beliau menyatakan “haram” kebaya pendek itu. Fatwa beliau dipengaruhi oleh tempat.

    Memang di Sumatera Barat orang biasa memakai baju berkurung panjang, dan masih jarang memakai kebaya pendek. Tetapi keputusan beliau “mengharamkan” kebaya pendek itu adalah mengenai pakaian yang telah umum.

    Lantaran bantahan itu keluarlah buku pertahanan beliau yang pertama, bernama “Pelita l”. Sekali lagi beliau menghentam pemakaian kebaya pendek itu … PELITA II dst

    Beliau tidaklah sampai melihat muridnya yang perempuan Rahmah El Yunusiyah diundang oleh Universiti Al-Azhar untuk menerangkan pengalamannya dalam memberikan pendidikan Islam bagi wanita, sebab Al-Azhar yang telah berdiri sejak 1000 tahun itu sekarang baru akan menuruti jejak Rahmah El Yunusiyah!”

    Kisah Persahabatan *Haji Rasul dengan Kyai Ahmad Dahlan

    http://historia.id/modern/kisah-persahabatan-haji-rasul-dengan-kyai-ahmad-dahlan

  • similikiti

    JILBAB MENURUT BUYA HAMKA (Pendiri/Ketua MUI ke-1, Tokoh Ulama Besar Muhammadiyah), yang ditentukan oleh agama adalah Pakaian yang Sopan dan menghindari ‘Tabarruj’

    berikut adalah kutipan Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA (Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 295, Jilid 7 Hal. 262, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015), selengkapnya lebih jelas dan tegas dapat dibaca pada Al-Ahzab: 59 dan An-Nuur: 31

    ‘Nabi kita Muhammad saw. Telah mengatakan kepada Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq demikian,

    “Hai Asma! Sesungguhnya Perempuan kalau sudah sampai masanya berhaidh, tidaklah dipandang dari dirinya kecuali ini. (Lalu beliau isyaratkan mukanya dan kedua telapak tangannya)!”

    Bagaimana yang lain? Tutuplah baik-baik dan hiduplah terhormat.

    Kesopanan Iman

    Sekarang timbullah pertanyaan, Tidakkah Al-Qur’an memberi petunjuk bagaimana hendaknya gunting pakaian?

    Apakah pakaian yang dipakai di waktu sekarang oleh perempuan Mekah itu telah menuruti petunjuk Al-Qur’an, yaitu yang hanya matanya saja kelihatan?

    Al-Qur’an bukan buku mode!

    Islam adalah anutan manusia di Barat dan di Timur. Di Pakistan atau di Skandinavia. Bentuk dan gunting pakaian terserahlah kepada umat manusia menurut ruang dan waktunya.

    Bentuk pakaian sudah termasuk dalam ruang kebudayaan, dan kebudayaan ditentukan oleh ruang dan waktu ditambahi dengan kecerdasan.

    Sehingga kalau misalnya perempuan Indonesia, karena harus gelombang zaman, berangsur atau bercepat menukar kebaya dengan kain batiknya dengan yurk dan gaun secara Barat, sebagaimana yang telah merata sekarang ini, Islam tidaklah hendak mencampurinya.

    Dalam ayat yang kita tafsirkan ini jelaslah bahwa bentuk pakaian atau modelnya tidaklah ditentukan oleh Al-Qur’an. Yang jadi pokok yang dikehendaki Al-Qur’an ialah pakaian yang menunjukkan iman kepada Allah SWT, pakaian yang menunjukkan kesopanan, bukan yang memperagakan badan untuk jadi tontonan laki-laki.

    Alangkah baiknya kalau yang jadi ahli mode itu orang yang beriman kepada Allah SWT, bukan yang beriman kepada uang dan kepada daya tarik syahwat nafsu.’

    MENGENAL (KEMBALI) BUYA HAMKA

    Ketua Majelis Ulama Indonesia: Buya HAMKA

    “paling konsisten memperjuangkan Syariat Islam menjadi dasar negara Indonesia. Dalam pidatonya, HAMKA mengusulkan agar dalam Sila Pertama Pancasila dimasukkan kembali kalimat tentang ‘kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya’, sebagaimana yang termaktub dalam Piagam Jakarta.”

    mui.or.id/tentang-mui/ketua-mui/buya-hamka.html

    Mantan Menteri Agama H. A. Mukti Ali mengatakan, “Berdirinya MUI adalah jasa HAMKA terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, lembaga itu tak akan mampu berdiri.”

    kemenag.go.id/file/dokumen/HAMKA.pdf

    “Buya HAMKA adalah tokoh dan sosok yang sangat populer di Malaysia. Buku-buku beliau dicetak ulang di Malaysia. Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA merupakan bacaan wajib.”

    disdik.agamkab.go.id/berita/34-berita/1545-seminar-internasional-prinsip-buya-hamka-cermin-kekayaan-minangkabau

    “HAMKA lebih dikenal di Malaysia, Brunei, Singapura, dan dunia Islam lainnya, dibanding di Indonesia sendiri. Karya-karya beliau masih menjadi rujukan utama hingga saat ini.”

    HAMKA: Hilang Belum Berganti
    hidayatullah.com/artikel/opini/read/2010/01/29/3145/hamka-hilang-belum-berganti.html

    Hujjatul Islam: Buya HAMKA
    republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/12/m2clyh-hujjatul-islam-buya-hamka-ulama-besar-dan-penulis-andal-1

    Biografi Ulama Besar: HAMKA
    muhammadiyah.or.id/id/artikel-biografi-pujangga-ulama-besar-hamka–detail-21.html

    “Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah (Mazhab Hanafi), berpendapat bahwa lengan dan separuh bagian bawah betis perempuan tak menjadi bagian dari aurat yang harus ditutupi.”

    (Islam Nusantara, Hal. 112, Penerbit Mizan, 2015)

    “orang puritan sebagai mayoritas di Muhammadiyah, Jilbab bukan sesuatu yang wajib” KOMPAS, Senin 30 November 2009 Oleh AHMAD NAJIB BURHANI, Peneliti LIPI

    http://www.academia.edu/7216467/100_Tahun_Muhammadiyah

    “Sebab itu, menjadi pilihan pribadi masing-masing Muslimah mengikuti salah satu pendapat jumhur ulama: memakai, atau tidak memakai jilbab.”

    nu.or.id/post/read/48516/polwan-cantik-dengan-berjilbab

    “Jika mau jujur dan mau membaca, pada zaman Kalifah Umar Bin Khatab seorang budak perempuan kedapatan mengenakan jilbab. ‘Umar pun marah besar dan melarang seluruh budak perempuan untuk memakai Jilbab. Lebih jauh lagi pelarangan Umar itu diungkapkan lebih eksplisit dalam kitab Al-Mughni Ibnu Qudamah.”

    mojok.co/2014/12/jilbab-rini-soemarno-dan-khalifah-umar

    “Kerudung dalam Tradisi Yahudi & Kristen

    tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap “telanjang”. Dr Brayer juga mengatakan bahwa “Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya.”

    mediaumat.com/kristologi/1901-41-kerudung-dalam-tradisi-yahudi-a-kristen.html

    “KH. Agus Salim, dalam Kongres Jong Islamieten Bond (JIB) tahun 1925 di Yogyakarta menyampaikan ceramah berjudul Tentang Pemakaian Kerudung dan Pemisahan Perempuan

    Tindakan itu mereka anggap sebagai ajaran Islam, padahal, menurut Salim, praktek tersebut adalah tradisi Arab dimana praktek yang sama dilakukan oleh Agama Nasrani maupun Yahudi.”

    komnasperempuan.or.id/2010/04/gerakan-perempuan-dalam-pembaruan-pemikiran-islam-di-indonesia

    “Antara Syari’ah dan Fiqh

    (a) menutup aurat itu wajib bagi lelaki dan perempuan (nash qat’i dan ini Syari’ah)
    (b) apa batasan aurat lelaki dan perempuan? (ini fiqh)

    Catatan: apakah jilbab itu wajib atau tidak, adalah pertanyaan yang keliru. Karena yang wajib adalah menutup aurat.”

    *Nadirsyah Hosen, Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

    luk.staff.ugm.ac.id/kmi/isnet/Nadirsyah/Fiqh.html

    Terdapat tiga MUSIBAH BESAR yang melanda umat islam saat ini:
    1. Menganggap wajib perkara-perkara sunnah.
    2. Menganggap pasti (Qhat’i) perkara-perkara yang masih menjadi perkiraan (Zhann).
    3. Mengklaim konsensus (Ijma) dalam hal yang dipertentangkan (Khilafiyah).

    *Syeikh Amru Wardani. Majlis Kitab al-Asybah wa al-Nadzair. Hari Senin, 16 September 2013

    http://www.suaraalazhar.com/2015/05/tiga-permasalahan-utama-umat-saat-ini.html

    “Berdasarkan pengklasifikasian ini, hukum Islam kategori syariah tidak diperlukan ijtihad karena kebenarannya bersifat absolut/mutlak 100%, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Dari segi penerapan, situasi dan kondisi harus tunduk kepadanya, ia berlaku umum tidak mengenal waktu dan tempat. Dari segi aplikasi, fiqh justru harus sejalan dengan, atau mengikuti kondisi dan situasi, untuk siapa dan dimana ia akan diterapkan.” fish.uinsby.ac.id/?p=789

    ‘Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an selama hatimu bersepakat, maka apabila berselisih dalam memahaminya, maka bubarlah kamu!” (jangan sampai memperuncing perselisihannya).’ -Imam Bukhari Kitab ke-66 Bab ke-37: Bacalah oleh kalian Al-Qur’an yang dapat menyatukan hati-hati kalian.

    Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat seseorang dari sahabatnya untuk melaksanakan perintahnya, beliau bersabda: “Berilah mereka kabar gembira dan janganlah menakut-nakuti, mudahkan urusan mereka jangan kamu persulit.” (HR. Muslim No. 3262 dsb) hadits.stiba.ac.id/?type=hadits&imam=muslim&no=3262

    *bila kelak ada yang berkata atau menuduh dan fitnah Buya HAMKA: Sesat dan menyesatkan, Syiah, Liberal, JIL, JIN, SEPILIS atau tuduhan serta fitnah keji lainnya (hanya karena ijtihad Beliau mungkin tidak sesuai dengan trend/tradisi saat ini), maka ketahuilah dan ada baiknya cukupkan wawasan terlebih dahulu, bahwa dulu Beliau sudah pernah dituduh sebagai SALAFI WAHABI (yang notabene identik dengan ARAB SAUDI): “Teguran Suci & Jujur Terhadap Mufti Johor: Sebuah Polemik Agama” #HAMKA #MenolakLupa

  • Ferry Hawe

    Uwasyek…!

  • August Jayasaputra

    anak wedok-ku hrs baca ini …

  • Eva Fauziah

    Ah mbak :’)

  • poto blur

    Menusyuk…,, wkwkk..,,
    Tak share nang mbakyu ku ach….,,

  • Rizka Nurul Amanah

    Ah sukaaaa

  • Risdiyani Chasanah

    pedes tenaaann

  • muslimah kaffah tidak cukup hanya berjilbab, tapi juga harus pakai bedak, sampo, dan entah apa lagi itu yang iklannya artifisial itu

    android berkamera mbak, kog gak di sebutno

  • Rona Adi Nugraha

    Mbak, ayo lirik-lirikan..

  • endi hanzo

    okowkwkow, asli ngakak mba ama paragraf ini
    “Ada lagi sebuah cerita, tentang seorang teman memutuskan untuk melepas jilbabnya. Baru lepas jilbab lho ini, nggak murtad. Dia bilang kalau ingin belajar mengenal dirinya dari awal. Katanya kan, barangsiapa mengenal dirinya, maka Ia mengenal Tuhannya. EEEEH! Dicaci-maki teman saya itu oleh para aktivis jilbab syar’i. Teman saya yang ingin menata ulang diri malah terpikir untuk bunuh diri.”

  • Sakit hati dan ketidakmampuan menjadi bagian kadang lebih pedas dari jalapeno ya, mbak?

No more articles